Kisah Koin Pitis Milik Kesultanan Palembang Darussalam yang Tertulis Dalam Naskah Kuno
Ustad Kemas H. Andi Syarifuddin menambahkan bahwa Pitis Palembang memang sempat tercatat dalam sejumlah manuskrip lama di Palembang.
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Kisah tentang koin Pitis Kesultanan Palembang Darussalam yang selama ini menjadi bagian penting dari sejarah ekonomi dan peradaban Palembang, semakin terkuak dengan ditemukannya bukti-bukti kuat dalam naskah-naskah kuno.
Kajian rutin "Reboan" yang diselenggarakan oleh Pascasarjana UIN Raden Fatah Palembang pada Rabu (2/7/2025) secara daring dan luring, menjadi ajang pembuktian kolaborasi menarik antara kajian numismatik dan filologi.
Topik "Koin Pitis Kesultanan Palembang Darussalam" diangkat dengan menghadirkan narasumber utama, Dr. Kemas A.R. Panji, M.Si., seorang dosen UIN Raden Fatah Palembang yang baru saja meraih gelar Doktor Peradaban Islam ke-272 dengan predikat Amat Memuaskan.
Disertasi beliau berjudul "Mata Uang Kesultanan Palembang Darussalam dalam Perspektif Sejarah" menjadi landasan kuat dalam pemaparannya.
Kajian ini semakin kaya dengan kehadiran Ustad Kemas H. Andi Syarifuddin sebagai pemantik sekaligus host, serta Prof. Dr. Duski Ibrahim, M.Ag, dan Dr. M. Torik (Wadir PPS UIN Raden Fatah) sebagai pemantik kajian.
Turut hadir pula Dr. Ahmad Syukri, Dr. Fajri Rahmat, Dr. Abdillah Asmara (Robert), Ust. Hafidzhuddin, dan Faiz (Admin Zoom) yang meramaikan diskusi.
Dr. Kemas A.R. Panji, M.Si. menjelaskan bahwa kajian kali ini tidak hanya fokus pada aspek numismatik koin Pitis, tetapi juga dilengkapi dengan kajian naskah kuno Palembang.
"Kajian pitis ini dikolaborasikan dengan kajian naskah kuno Palembang yang ada di pemilik naskah kuno Palembang, Ustad Kemas H. Andi Syarifuddin, dan kajian ini juga dimentori oleh Prof. Dr. Duski Ibrahim, M.Ag," terangnya.
Kolaborasi ini menghasilkan temuan yang saling menguatkan.
"Aku dari kajian koinnya, Ustad Andi Syarifuddin dari kajian naskah kuno dari Palembangnya. Ternyata antara naskah dan koin ini punya kekuatan yang saling mendukung," ujar Dr. Kemas A.R. Panji.
"Apa yang ada di naskah kuno Palembang dikuatkan oleh koin. Apa yang ada di koin dikuatkan juga oleh naskah kuno di Palembang. Mungkin periode waktunya saja yang berbeda-beda."
Salah satu naskah kuno Palembang yang diungkap oleh Ustad Kemas H. Andi Syarifuddin dalam kajian tersebut bahkan menyebutkan Pitis sudah digunakan sejak pasca Perang Menteng tahun 1819.
"Artinya, di awal abad ke-19 itu memang penyebutan Pitis ini sudah digunakan di dalam naskah yang ada di Palembang tempo dulu," tegas Dr. Kemas A.R. Panji.
"Ini memperkuat teori yang aku bangun itu bahwa istilah Pitis memang adalah istilah koin atau uang di Kesultanan Palembang Darussalam sejak masa awal berdiri. Jadi naskah dari Ustad Kemas H. Andi Syarifuddin memperkuat."
Menurut Dr. Kemas A.R. Panji, naskah-naskah tentang Pitis Palembang yang dimiliki Ustad Kemas H. Andi Syarifuddin berasal dari kalangan priyayi dan bangsawan Palembang.
| Menelusuri Sejarah Muasal Orang Palembang, Gelar Zuriat dan Tradisi Kesultanan |
|
|---|
| Mengenal Pasar 16 Ilir Palembang, Sudah Ada Sejak Tahun 1821, Dulu Pedagang Gunakan Sistem Cungkukan |
|
|---|
| Rendang Hilang Willie Salim Dinilai Hina Budaya Palembang Ini Kata Sultan Iskandar Mahmud Badaruddin |
|
|---|
| Willie Salim Pamer Bangun Masjid usai Diharamkan Datang ke Palembang, tak Peduli Dibenci: Bersyukur |
|
|---|
| Apa Itu Tepung Tawar? Tradisi Adat Palembang yang Harus Dilakukan Willie Salim Buntut Konten Rendang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/Kajian-Reboan.jpg)