Warga Sumsel Ngadu ke Dedi Mulyadi
Daftar 3 Warga Sumsel Minta Bantuan ke Dedi Mulyadi, Ada yang Rela Jalan Kaki 26 Hari Demi Temui KDM
Fenomena warga ngadu meminta bantuan Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM) marak terjadi beberapa waktu terakhir.
SRIPOKU.COM- Fenomena warga ngadu meminta bantuan ke Gubernur Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM) marak terjadi beberapa waktu terakhir.
Aksi Kang Dedi Mulyadi (KDM) yang viral memasukkan anak nakal ke dalam barak, membuat tak sedikit warga di Indonesia ngadu ke Gubernur Jabar untuk meminta bantuan.
Fenomena warga ngadu ke KDM juga dilakukan oleh warga Sumsel. Setidaknya ada 3 orang asal OKI, Prabumulih hingga Lubuklinggau yang rela-rela jauh datang untuk menemui Dedi Mulyadi.
Berikut kami rangkum daftar 3 warga Sumsel yang meminta bantuan ke Dedi Mulyadi.
- Warga OKI Minta Masukkan Anak ke Barak Militer
Aksi Dedi Mulyadi yang menerapkan aturan anak nakal dibina di barak militer terdengar hingga di seluruh Indonesia.
Kini salah satu orang tua asal OKI Sumatera Selatan, tampak mengantarkan putranya langsung kepada Dedi Mulyadi.
Usut punya usut rupanya sang putra yang masih duduk di bangku SMK kelas 10 ini merupakan pengguna narkoba.
Karena itu sang ayah ingin putranya dibina di barak militer oleh Dedi Mulyadi.
Melalui TikTok miliknya, awalnya Dedi Mulyadi tampak terkejut dengan kedatangan mereka.
Saat mengetahui keduanya berasal dari OKI, Kang Dedi sapaannya tampak penasaran dengan perjalan mereka.
"Berapa perjalanan ke tempat saya?," tanya Kang Dedi.
Mereka menempuh jarak 15 jam berkendara mobil nonstop, dari OKI untuk dapat bertemu dengan orang nomor satu di Jawa Barat tersebut.
Mendengar hal itu, Kang Dedi pun dibuat penasaran apa yang dilakukan anak SMK tersebut hingga orang tuanya mengantar langsung.
Waktu sang anak berujar bahwa ia memakai narkoba, Kang Dedi tampak terkejut.
"Kamu pakai? Pakai apa?" ujarnya.
"Pakai sabu pak,"jawabnya.
Mendengar itu, Kang Dedi lantas menanyakan berapa uang jajan anak tersebut hingga bisa mengkonsumsi sabu.
"Sabu tu mahal, kamu beli darimana uangnya?" ujar Kang Dedi.
Diakui anak tersebut, ia mendapat uang jajan sebesar Rp 25 ribu.
Anak tersebut pun menceritakan bahwa ia kerap meminta uang lebih dengan alasan ada tugas kuliah.
Kang Dedi lantas menanyakan secara detail saat membeli sabu tersebut.
"Belinya segimana? Timbangan?" tanya Kang Dedi.
"Segram setengah," jawab anak tersebut.
Dari pengakuan sang anak, ia sudah memakai sabu sejak mulai masuk SMK.
Karena tak ingin terus ketergantungan narkoba, sang anak lantas mengaku ingin masuk barak.
"Saya ingin masuk barak pak," kata sang anak.
"Pak, barak militer itu melanggar HAM, melanggar kekebasan anak. Nanti dimarah KPAI saya," tegas Dedi.
Dengan malu malu sang ayah yang berinisial BH menjawab kalau itu tidak benar.
"Saya minta tolong pak anak saya (dibina di barak militer)," katanya
2. Rela Jalan Kaki 26 Hari
Perjuangan tukang kerupuk asal Prabumulih Sumsel untuk bisa bertemu Dedi Mulyadi tak main-main.
Pasalnya ia harus menghabiskan waktu selama 26 hari dengan berjalan kaki, menapaki ruas jalan dari Kota Prabumulih Sumsel menuju Lembur Pakuan, Subang, Jawa Barat demi bisa bertemu dengan Gubernur Dedi Mulyadi.
Dalam kurun waktu tersebut, ia melintasi banyak kota. Mulai dari Baturaja, Martapura, Way Kanan, Kotabumi, Bandar Jaya, Bandar Lampung, hingga Bakauheni, Lampung.
“Dari Bakauheni nyeberang ke Pelabuhan Merak. Dari sana jalan kaki lagi, Pak. Kemarin saya Lebaran (Idul Adha) di Serang,” ujar Randi dikutip dari akun YouTube Dedi Mulyadi, Rabu (25/6/2025).
Dedi Mulyadi pun menanyakan keperluan pria tersebut.
“Gak capek, Pak? Kakinya ga sakit? 26 hari loh, ada (keperluan apa) bertemu saya?” jawab Dedi.
“Saya ingin berfoto dengan Bapak,” tutur Randi.
Dedi pun menanyakan kembali tujuan Randi datang ke Lembur Pakuan.
Pasalnya, perjalanan 26 hari dengan berjalan kaki bukan sesuatu yang mudah.
Randi pun meyakinkan ia tidak memiliki maksud lain selain berfoto dengan Dedi Mulyadi.
Hal itu karena pria yang akrab disapa KDM itu disebut terkenal di Prabumulih dan Palembang.
“Bapak berjalan kaki pakai sepatu apa? Kan itu panas kalau siang hari di jalan raya?” tanya Dedi.
“Saya jalan kaki pakai sandal, Pak, habis empat karena putus,” jawab Randi.
“Oh, sandalnya rusak?” tanya Dedi.
“Bukan, Pak. Sandalnya rusak. Karena kaki saya (sebelah) agak cacat. Mata saya juga (kurang) karena lahir prematur. Kalau sepatu ga muat, karena kaki saya lebar sebelah,” ungkap Randi memperlihatkan kakinya.
Selama perjalanan, ia menginap di pom bensin, musala, masjid, ataupun emperan ruko. Untuk mandi, ia memanfaatkan fasilitas SPBU.
3. Warga Lubuklinggau Ngadu ke KDM
Ibu bernama Dian Nurhayati rela menempuh perjalanan jauh naik bis menemui Dedi Mulyadi lantaran tak kuat menghadapi tingkah putranya.
Meski sadar bukanlah warga Jawa Barat, namun Dian yang mengaku nyaris bunuh diri karena sang anak tetap nekat meminta bantuan Dedi Mulyadi.
Dilansir dari YouTube Dedi Mulyadi, Dian mengaku rela menempuh perjalanan panjang asal anaknya bisa dididik menjadi baik.
Setibanya di kediaman Dedi Mulyadi, Dian menceritakan semua keluh kesahnya menghadapi kelakuan sang anak.
Dian mengaku sudah putus asa bahkan nyaris mau bunuh diri karena tak tahan dengan kelakuan anaknya.
Sang anak yang bernama Rehan (19) itu adalah seorang pecandu narkoba.
Bahkan anaknya sudah kecanduan narkoba sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Dian mengakui, Rehan sudah pernah menjalani rehabilitasi dua kali, namun hingga kini kelakuan anaknya mengonsumsi narkoba masih belum berubah.
"Ini ibu dalam rangka apa jauh-jauh dari Lubuk Linggau kesini," tanya Dedi Mulyadi.
"(Anak) sudah saya rehab dua kali, perbuatannya rusak," ucap Dian.
Dedi pun langsung menanyakan kepada Rehan perihal penggunaan sabu tersebut.
Jawaban Rehan membuat Dedi Mulyadi terkejut, sebab Rehan pertama kali mengonsumsi sabu sejak SMP karena diberi teman.
"Sejak kapan sudah berlangganan sabu-sabu,?" tanya Dedi Mulyadi.
"Sejak kecil pak (SMP)," aku Rehan.
"SMP sudah pakai sabu, awalnya gimana," tanya Dedi Mulyadi lagi.
Rehan bercerita, awal mula mengenal narkoba karena dikenalkan oleh temannya.
Teman tersebut memberikannya narkoba dan Rehan disuruh mencobanya.
Saat itu, menurut Rehan, dia belum mengerti yang diberikannya adalah narkoba jenis sabu.
Ia pikir saat itu diberikan rokok pakai botol, sehingga Rehan berani mencobanya.
"Waktu itu enggak ngerti pak. Disangka rokok pakai botol, waktu bulan puasa betul jadi lapar," ucap Rehan.
Sekali mencoba, Rehan mengaku langsung ketagihan. Ia bahkan rela mengeluarkan uang mulai dari Rp50-100 ribu untuk membeli barang haram tersebut.
Padahal, Rehan berasal dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan.
Ibunya, Dian, berjuang sendiri mencari nafkah untuk menghidupi empat orang anaknya sejak berpisah dengan suami.
Dian berjualan di kantin rumah sakit dengan penghasilan yang tak seberapa.
Oleh karena itu, Dedi Mulyadi heran Rehan bisa mengonsumsi narkoba sementara ibunya sampai harus berjuang mencari uang.
"Sudah tahu ibunya susah jualan," tandas Dedi Mulyadi.
Rehan sebetulnya sudah dua kali direhabilitasi. Namun tidak menunjukkan perubahan.
Usut punya usut, ini terjadi lantaran konselor Rehan juga mengonsumsi narkoba, sehingga pantas jika anak Dian tak berubah meski sudah direhabilitasi.
"Enggak ada perubahan sudah dua kali dalam satu tahun, justru yang jadi konseler pendampingnya itu konsumsi narkoba juga," beber Dian.
Karena itu Dian pun berharap Rehan bisa dimasukkan ke barak.
"Jadi dari Oktober itu saya lihat terus postingan bapak, dari situ kayak ada harapan satu-satunya di sinilah," ungkap Dian.
Ia meminta anaknya dibina di barak militer agar memiliki akhlak yang bagus.
Dedi yang akrab disapa KDM itu pun bersedia menerima Rehan dibawa ke barak militer.
"Saya akan fokus ke anak ibu, kalau anak ibu dimasukan ke barak hari ini saya akan antar, nanti koordinasi suruh buat surat pernyataan," kata Dedi Mulyadi.
Tanggapan Gubernur Sumsel
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru buka suara terkait ada warganya ngadu ke KDM.
Menurutnya, tujuan warga tersebut sangat baik karena mereka mengaku tak sanggup lagi mengurus anaknya yang kecanduan narkoba.
"Iya tujuannya baik, karena orang tuanya sudah tidak bisa menghandle lagi anaknya. Jadi bukan karena tidak mampu, hanya karena orang tuanya tidak terhandle," kata Deru, Jumat (30/5/2025).
Terlebih orang tuanya wagr OKI yang mengadu ke KDM merupakan seorang PNS. Di keluarganya ada yang TNI ada PNS juga. Jadi bukan karena tidak mampu. Padahal ada lembaga resmi yang menangani itu.
"Kalau ada orang tua yang tidak bisa menghandle anaknya boleh saja laporan ke kita, misal kalau terkait narkoba bisa ke RS Ernaldi Bahar dengan surat rekomendasi dari BNN," katanya.
Lalu misal terkait kepemudaan bisa melalui Dinas Pendidikan dan Olahraga (Dispora) dan lain-lain.
Sementara itu Sekda Provinsi Sumsel Edward Candra mengatakan, terkait hal tersebut dilihat dulu apa yang melatar belakangnya, termasuk persoalan anak-anaknya.
"Jadi itu bagaimana sebabnya dilihat dulu, karena menurut saya itu termasuk pribadi.
Pada intinya kita mengimbau pada warga bagaimana kita mendidik dan mempersiapkan anak-anak kita dengan baik. Dengan cara memberikan contoh dan teladan yang baik pula, " katanya.
Senada, Wali Kota Lubuklinggau, H Rachmat Hidayat atau yang akrab disapa Yoppy Karim, menyatakan bahwa peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi penting bagi Pemkot untuk terus melakukan perbaikan.
"Kejadian ini menjadi catatan penting. Ke depan, kami berharap tidak ada lagi kejadian serupa," ujar Yoppy saat membuka acara Sosialisasi Penguatan Kelembagaan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) Tahun 2025, Rabu (25/6/2025).
Yoppy mengimbau masyarakat untuk tidak ragu melaporkan segala bentuk kekerasan terhadap anak maupun kasus penyalahgunaan narkoba kepada pihak terkait di Pemerintah Kota Lubuklinggau.
Ia juga meminta agar Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Pemberdayaan Masyarakat (DPPPAPM) segera menindaklanjuti setiap laporan secara cepat dan tepat.
Di sisi lain, Yoppy mengungkapkan rasa syukurnya karena Kota Lubuklinggau berhasil mempertahankan predikat madya dalam perlindungan anak hingga 2024.
Ia berharap predikat tersebut bisa ditingkatkan ke level pratama pada tahun berikutnya.
“Kita harus bersama-sama mewujudkan pemenuhan hak-hak anak. Tidak boleh ada eksploitasi, perundungan, maupun kekerasan terhadap anak.
Pemkot Lubuklinggau mendukung penuh semua program perlindungan anak,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Lubuklinggau, H Rustam Effendi, juga turut menanggapi peristiwa viral tersebut. Menurutnya, hal itu merupakan sesuatu yang wajar dalam era digital saat ini.
"Saya anggap itu hal biasa saja. Mungkin masyarakat ingin mencari perhatian atau pembinaan. Kita tidak bisa mengekang, apalagi di era media sosial sekarang,” ujarnya kepada wartawan, Selasa (24/6/2025).
Rustam menegaskan bahwa masalah penyalahgunaan narkoba merupakan bencana nasional dan harus ditangani secara kolektif, termasuk di Kota Lubuklinggau.
Ia juga menyinggung perlunya masyarakat untuk menjaga diri di tengah keterbukaan informasi dan akses transportasi yang semakin mudah.
Sebagai langkah konkret, Pemkot Lubuklinggau tengah mempersiapkan ruang khusus layanan pengaduan masyarakat, yang akan dibangun di lantai satu gedung pemerintah kota.
Ia menambahkan, fasilitas tersebut kini tengah dalam tahap pengukuran dan perencanaan, dan diharapkan bisa segera difungsikan sebagai sarana komunikasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat.
“Tempat ini akan menjadi wadah masyarakat untuk menyampaikan keluh kesah, membuat laporan, atau menyampaikan masukan,” terang Rustam.
| Pertamina Patra Niaga Kilang Plaju Jaga Keandalan Operasional dan Stabilitas Pasokan Energi |
|
|---|
| Guru Mengaku Korban Pungli Oknum Kemenag OI, Kasi PAKIS : Justru Kami Sering Disodori Uang Rokok |
|
|---|
| Polisi Terobos Sarang Transaksi Narkoba di Palembang, Penyamaran Terbongkar |
|
|---|
| Palembang vs Malang: Mengadu Biaya Hidup di Kota Pempek dan Kota Pendidikan, Mana Lebih Hemat? |
|
|---|
| Palembang vs Sidoarjo: Menimbang Biaya Hidup di Kota Pempek dan Kota Udang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/WARGA-SUMSE-NGADU-KE-KDM.jpg)