Berita Bisnis

Apkarindo Sumsel Dorong Peremajaan Karet Agar Produksi Naik

Apkarindo Sumsel menilai dua tahun terakhir harga karet anjlok, sehingga saat ini asosiasi tengah fokus ingin mendorong agar produktivitas karet naik.

Penulis: Hartati | Editor: tarso romli
sripoku.com/hartati
PETANI KARET - Rapat pembentukan pengurus DPW Apkarindo SUMSEL yang memutuskan Supartijo sebagai ketua baru menggantikan ketua lama A Somad yang meninggal dunia. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo) Sumsel menilai dua tahun terakhir harga karet anjlok, sehingga saat ini asosiasi tengah fokus ingin mendorong agar produktivitas karet naik.

Sebab saat ini produksi karet Sumsel anjlok karena banyak pohon tua dan produksi tidak maksimal.

Saat ini petani hanya pergi menyadap, pulang dan besok panen karetnya. 

Sebab harga karet yang anjlok dan dibarengi produksi sedikit, membuat petani pun tidak mengurus lagi kebun karet karena harga pupuk juga melambung.

Oleh sebab itu petani pun seperti mati suri dengan kondisi yang ada saat ini karena hasil panen tidak bisa menutupi biaya produksi sehingga membiarkan kebun karet apa adanya saja.

Selain itu juga jumlah luasan lahan karet di Sumsel juga terus berkurang saat ini, sebab pohon karet tua dan produksi tidak maksimal sehingga ada juga petani yang mengganti tanaman karet jadi sawit  karena dinilai sawit lebih menjanjikan.

"Harga karet tidak bisa diintervensi karena ditentukan oleh harga perdagangan dunia, oleh sebab itu untuk menambah jumlah produksi karet hanya caranya dengan meremajakan karet. Oleh sebab itu petani melalui asosiasi Apkarindo akan mendorong pemerintah agar pro petani membantu peremajaan karet," katanya usai ditunjuk sebagai Ketua DPW Apkarindo yang baru, Kamis (19/6/2025).

Supartijo mengurai, upaya menambah produksi karet dengan menambah lahan tidak mungkin lagi bisa dilakukan.

Sebab harga lahan saat ini jauh naik drastis, sehingga jika ingin membuka lahan baru dibutuhkan modal paling tidak Rp 175-200 juta dan angka itu sulit untuk dikembalikan sebab usia petani juga relatif sudah matang.

"Kalau kredit bank, sampai mati pun cicilan belum tentu lunas sebab sekarang lahan per hektare sudah sangat mahal meski di pelosok daerah dan usia petani ini sudah tidak muda lagi," katanya.

Dia berharap pemerintah juga merespon dan mendukung peremajaan karet ini karena karet pernah jadi komoditi unggulan utama di Sumsel bahkan Sumsel pernah jadi produsen karet terbesar dunia di saat masa jayanya dulu.

Namun kini posisi Indonesia sebagai negara penghasil karet dunia justru tergeser oleh Thailand yang mengelola pertanian secara matang dan didukung oleh peran aktif pemerintah.

Melalui asosiasi ini, Supartijo berharap kegiatan petani tidak mati suri sehingga organisasi yang mewadahi para petani karet di Indonesia ini bisa memperjuangkan kepentingan petani karet, meningkatkan kesejahteraan mereka, dan mengembangkan sektor perkaretan nasional.

Apkarindo berperan penting dalam menyuarakan kondisi dan permasalahan yang dihadapi petani karet, seperti produksi rendah karena karet yang sudah tua, penyakit gugur daun yang belum ada obatnya serta termasuk harga jual yang rendah.

Apkarindo juga memantau perkembangan harga karet dan mengadvokasi harga yang lebih baik bagi petani.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved