Ramadan 2025

Mushola Al-Kautsar 10 Ilir Palembang, Dibangun Akhir Abad ke-18 dan Pernah Dibom Belanda

Di tengah hiruk pikuk Kota Palembang, tersembunyi sebuah mushola bersejarah yang berdiri kokoh di tepi Sungai Musi.

SRIPOKU.COM / Rachmad Kurniawan Putra
MUSHOLA -- Bangunan Mushola Al-Kautsar yang berada Jalan Ali Gatmir, Lorong Sungai Buntu, Kelurahan 10 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II dibangun tepat di pinggir Sungai Musi, Rabu (5/3/2025). Mushola ini memiliki sejarah pernah dibom oleh Belanda saat perang 5 hari 5 malam di Palembang. 

SRIPOIKU.COM, PALEMBANG - Di tengah hiruk pikuk Kota Palembang, tersembunyi sebuah mushola bersejarah yang berdiri kokoh di tepi Sungai Musi.

Mushola Al-Kautsar, yang terletak di Jalan Ali Gatmir, Lorong Sungai Buntu, Kelurahan 10 Ilir, Kecamatan Ilir Timur II, bukan sekadar tempat ibadah biasa.

Bangunan ini menyimpan jejak sejarah panjang, bahkan pernah menjadi sasaran bom Belanda saat perang 5 hari 5 malam di Palembang pada tahun 1947.

Dibangun pada akhir abad ke-18 atau sekitar tahun 1890-an oleh Habib Husein bin Abdullah Alkaf, Mushola Al-Kautsar awalnya didirikan sebagai tempat ibadah dan pusat penyebaran agama Islam.

Bangunan sederhana ini terbuat dari kayu ulin, dengan lantai dan dinding yang masih asli sejak pertama kali dibangun. Di teras mushola, pemandangan Sungai Musi yang indah menciptakan suasana tenang dan sejuk.

"Jadi mushola ini dibangun akhir abad ke-18 sekitar tahun 1890-an di pinggir Sungai Musi, dari dulunya memang seperti ini bentuknya tidak banyak perubahan. Masjid ini dijaga dari generasi ke generasi oleh keluarga Syekh Abu Bakar," kata Abdullah bin Alwi Bin Husein, cucu pendiri Mushola, saat ditemui, Rabu (5/3/2025).

Sejarah mencatat, Mushola Al-Kautsar sempat mengalami kerusakan parah akibat dibom oleh Belanda.

Namun, bangunan ini kemudian direnovasi oleh Habib Mukhsin Syekh Abu Bakar, dan bagian dalamnya tetap dipertahankan seperti aslinya.

"Sempat di bom oleh Belanda tinggal separuh untuk bagian luar, sedangkan di dalam tidak ada kerusakan parah. Kurang tahu kenapa, tapi dari awal mushola ini dibangun untuk syiar agama Islam," bebernya.

Hingga kini, Mushola Al-Kautsar masih digunakan oleh warga sekitar untuk sholat lima waktu, khusus bagi laki-laki.

Sesuai dengan hukum syariat Islam, perempuan tidak diperbolehkan sholat di dalam mushola.

"Dari dulu memang seperti itu, misal sholat tarawih untuk perempuan itu dulu ada rumah di depan, dulu sholat disana berjamaah. Hampir seluruh Mushola dimana saja, memang hukum syariat nya tidak memperbolehkan perempuan sholat di Mushola lebih bagusnya di rumah saja," ujar Abdullah.

Mushola Al-Kautsar bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga saksi bisu perjalanan sejarah Kota Palembang.

Bangunan ini menjadi pengingat akan perjuangan masyarakat Palembang dalam mempertahankan kemerdekaan, serta warisan budaya yang patut dilestarikan.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved