Berita Ogan Ilir

Jembatan Sungai Lebung Ogan Ilir, Antara Urat Nadi Ekonomi dan Ancaman Ambruk

Jembatan yang menjadi jalur alternatif vital sekaligus urat nadi perekonomian warga ini terancam ambruk,

Tayang:
Penulis: Agung Dwipayana | Editor: Yandi Triansyah
SRIPOKU.COM / Agung Dwipayana
Warga berjaga dan membantu pengendara yang melewati jembatan di Desa Sungai Lebung, Selasa (14/1/2025) siang. 

SRIPOKU.COM, INDRALAYA – Di tengah hiruk pikuk aktivitas warga Ogan Ilir yang hilir mudik menuju Palembang, atau sebaliknya, sebuah jembatan di Desa Sungai Lebung, Kecamatan Pemulutan Selatan, menyimpan cerita pilu.

Jembatan yang menjadi jalur alternatif vital sekaligus urat nadi perekonomian warga ini terancam ambruk, memaksa warga setempat mengambil inisiatif darurat dengan menambalnya menggunakan papan kayu.

Jembatan Sungai Lebung, yang merupakan bagian dari ruas jalan provinsi, menghubungkan Palembang dengan beberapa kecamatan di Ogan Ilir hingga Kayuagung di Ogan Komering Ilir.

Bagi petani, pedagang, pekerja, dan pelajar, jembatan ini adalah jalur krusial untuk beraktivitas. Namun, kondisi jembatan yang memprihatinkan kini menimbulkan kekhawatiran mendalam.

Beberapa hari lalu, sebuah truk bermuatan besar melintas, memperparah kondisi jembatan yang memang sudah rentan.

Akibatnya, salah satu tiang penyangga patah dan plat lantai jembatan retak parah, nyaris ambruk. Marzuki, seorang warga Sungai Lebung, bersama beberapa warga lainnya, bergerak cepat, Selasa (14/1/2025).

Mereka bergotong royong mencari material seadanya, beberapa potong papan kayu seberat ratusan kilogram, dari kebun mereka.

Papan-papan tersebut dipikul dan diletakkan di atas plat lantai jembatan yang patah, sebagai penambal darurat.

"Susah payah kami gotong kayu ini untuk istilahnya menutupi, menambal jalan berlubang. Karena kalau tidak, kendaraan roda empat tidak bisa lewat," ujar Marzuki dengan nada prihatin.

Inisiatif warga ini memang berhasil membuat jembatan sementara dapat dilalui kendaraan, terutama roda empat.

Namun, solusi ini tentu jauh dari kata ideal dan sangat berisiko. Menyadari bahaya yang mengintai, warga Sungai Lebung secara sukarela berjaga 24 jam di sekitar jembatan.

Mereka membantu pengendara yang melintas, terutama pada malam hari, untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, seperti kendaraan terperosok.

"Apalagi kalau malam, harus diawasi betul karena banyak juga pengendara dari luar yang tidak paham medan. Dikhawatirkan karena gelap, tidak tahu kalau ada jembatan rusak," tutur Marzuki.

Kondisi jembatan yang memprihatinkan ini tentu berdampak pada aktivitas perekonomian warga.

Terhambatnya lalu lintas barang dan jasa dapat mengganggu aktivitas perdagangan dan pertanian. Para pelajar pun menghadapi risiko saat berangkat dan pulang sekolah.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved