Berita Advertorial

BPI Ajak Pekebun Sawit Sumsel Optimis Naikkan Produktifitas

BPDPKS dan DITJENBUN secara agresif terus melakukan pelatihan pekebun sawit di wilayah Sumsel bersama BEST PLANTER INDONESIA (BPI).

Editor: Odi Aria
Handout
BPI Ajak Pekebun Sawit Sumsel Optimis Naikkan Produktifitas 

SRIPOKU.COM- BPDPKS dan DITJENBUN secara agresif terus melakukan pelatihan pekebun sawit di wilayah Sumsel
bersama BEST PLANTER INDONESIA (BPI).

Tahun 2024 pelatihan digelar secara maraton di Hotel Swarna Dwipa Palembang yang dimulai pada tanggal 23 April 2024 dan direncakan baru akan berakhir pada tanggal 26 Juni 2024.

BPI adalah salah satu provider pelatihan SDM Kelapa Sawit yang dipercaya oleh BPDPKS & DITJENBUN untuk melatih pekebun sawit asal Sumsel selama 3 tahun berturut-turut yaitu pada tahun 2022, 2023 dan 2024 dengan total peserta yang dilatih sudah lebih dari 800 orang.


Direktur BPI Friyandito, SP, MM dalam pembukaan acara menyampaikan bahwa jumlah peserta pelatihan untuk tahun 2024 sebanyak 578 peserta berasal dari Kabupaten Muba 154 peserta, Kabupaten OKI 256 peserta, Kabupaten Muara Enim 134 peserta dan Kabupaten Lahat 34 peserta, dimana semua peserta adalah para pekebun sawit dari berbagai koperasi.


Pelatihan SDM Sawit dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Propinsi Sumsel Ir. Agus Darwa, M.Si yang dihadiri tamu undangan antara lain Direktur Perlindungan Perkebunan yang diwakili oleh Eva Lizarmi, SP yang hadir via zoom, Kepala Puslatan BPPSDMP yang diwakili oleh Dr. M. Apuk Ismane, S.Pi, M.Si, Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Muba Akhmad Toyibir S.STP, MM, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten OKI yang diwakili oleh Sudirman, Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Muara Enim Holika, S.Sos, M.Si, Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Lahat yang diwakili oleh Destiaway Kartika
dan Head of Seed Production and Comercial Zoelhermana Sembiring, demikian Friyandito memaparkan.


Direktur Utama sekaligus pendiri BEST PLANTER INDONESIA Ir. Heri DB, MM dalam sambutannya memberi catatan bahwa Sumsel telah menjadi juara PSR Nasional karena capaian luas PSR sampai tahun 2023 sudah mendekati 70.000 Ha dan ini adalah capaian tertinggi secara nasional.

Namun BPI sebagai lembaga pelatihan sawit memberi tantangan kepada para pekebun sawit Sumsel bahwa jangan hanya
menjadi juara dalam capaian luasan kebun tetapi harus juga menjadi juara nasional dalam capaian produktifitas.

Saat ini rata-rata produktifitas sawit rakyat secara nasional masih sangat rendah yaitu 2,5– 3,5 ton CPO per ha per tahun atau 12 – 16 ton TBS per Ha per tahun dan ini masih memberi peluang untuk ditingkatkan menjadi 5 - 6 ton CPO per Ha tahun atau 25 – 30 ton TBS per Ha per tahun.


Para pekebun agar menggunakan program PSR sebagai momentum untuk menaikkan produktifitas secara signifikan karena BPDPKS dan DITJENBUN telah memfasilitasi pembiayaan replanting (TBM 0) sekaligus pelatihan-pelatihannya dengan materi sesuai yang dibutuhkan, demikian Heri DB menambahkan setelah acara pembukaan berlangsung.


BEST PLANTER INDONESIA yang telah menorehkan prestasi dua kali berturut-turut 2022 – 2023 sebagai penerima penghargaan Sawit Indonesia Award versi Majalah Sawit Indonesia katagori “The Dedicated Training Institution For The Professional Planter”, mengamati bahwa budaya kebun sudah terbentuk pada para peserta pelatihan, ini terlihat dalam diskusi kelas dan pada saat kunjungan belajar di lapangan.

Oleh karenanya BPI optimis bahwa para pekebun Sumsel mampu mewujudkan juara nasional dalam hal produktifitas dengan capaian 5 – 6 ton CPO per Ha per tahun dengan syarat 1) menggunakan bibit unggul bersertifikat, 2) menjaga populasi tanaman minimal bertahan 136 pokok per Ha dengan cara lebih antisipatif terhadap kemungkinan serangan Ganoderma, 3) memenuhi kebutuhan pupuk tanaman dengan cara menyisihkan biaya pupuk minimal 200 rupiah setiap kg TBS yang dijual, sehingga di setiap akhir tahun memiliki dana cadangan pupuk minimal 5 juta per Ha untuk pembelian pupuk berikutnya, pada akhirnya kekurangannya tidak terlalu besar, dan agar ditargetkan replanting generasi berikutnya tidak hutang lagi agar pekebun bisa hidup tenang tanpa hutang, demikian Heri DB mengakhiri penjelasannya.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved