Berita OKU Timur

Memasuki Masa Tanam, Petani di OKU Timur Sumsel Khawatir Kelangkaan Pupuk

Pupuk subsidi biasanya tersedia di bulan Januari untuk masa tanam pertama, kemudian sekitar bulan Juni pada masa tanam kedua.

Tayang:
Tribun Sumsel/Choirul
Petani di Kecamatan Martapura, Kabupaten OKU Timur mulai membajak lahan sawahnya, Rabu (29/11/2023). 

SRIPOKU.COM, MARTAPURA -- Memasuki masa tanam pertama, petani di Kabupaten OKU Timur, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) terlihat sudah mulai turun ke sawah menyiapkan lahan persawahannya untuk dilakukan penanaman.

Dimana diharapkan akhir Desember 2023 nanti, para petani mulai menanam padi di sawah.

Namun petani justru merasa khawatir terjadi kelangkaan pupuk bersubsidi.

Seperti penuturan Aminudin (56), salah satu petani di Dusun Bukit Napuh, Kelurahan Bukit Sari, Kecamatan Martapura.

Aminudin mengaku bahwa saat ini ia khawatir akan kelangkaan pupuk saat masa tanam pertama.

Karena menurutnya, padi ketika sudah beruumur 15 hari harus dipupuk dan kemudian saat satu bulan dari awal tanam juga harus  dipupuk.

"Jika tidak dikasih pupuk pada saat awal masa tanam, dikhawatirkan akan berdampak pada kualitas dan hasil produksi berkurang," katanya saat dibincangi Rabu (29/11/2023).

Ia juga mengaku permasalahan pupuk terjadi setiap musim tanam.

Dia yang tergabung dalam kelompok tani merasakan kelangkaan pupuk setiap tahun.

Lebih lanjut ia menjelaskan, untuk pengajuan pupuk, kelompok tani yang melakukan pengajuan jumlah kebutuhan pupuk ke kelompok tani.

Misalnya, jika petani punya lahan sawah 1 hakter berarti kebutuhannya yakni 8 karung atau 4 kwintal pupuk, dengan pupuk tersebut berupa Urea dan Phonska.

Aminudin juga menuturkan, pupuk subsidi biasanya tersedia di bulan Januari untuk masa tanam pertama, kemudian sekitar bulan Juni pada masa tanam kedua.

"Nah saat diajukan, jumlah didapat tidak sesuai yang diajukan."

"Sehinga pupuk masih kurang dari kebutuhan yang ada," jelasnya.

Jika pupuk kurang, maka ia sebagai petani kebingungan mencari pupuk, sebab jika beralih ke pupuk non subsidi maka biaya akan membengkak.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved