Berita Viral

Heboh Guru SD Dicaci Maki Orangtua Siswa Gara-gara Perkara Es Krim Mixue, Dituduh tak Punya Empati

Diketahui, Novi adalah guru di SD Negeri di Indramayu, ia diviralkan hingga dicaci maki wali murid hanya karena perkara es krim Mixue.

Editor: Fadhila Rahma
Tangkapan layar di TikTok
Heboh Guru SD Dicaci Maki Orangtua Siswa Gara-gara Perkara Es Krim Mixue, Dituduh tak Punya Empati 

SRIPOKU.COM - Lihat postingan di TikTok, guru SD dicaci maki orangtua siswa perkara es krim Mixue.

Orantua siswa itu tak terima anaknya hanya melihat sementara yang lain termasuk guru asik makan es krim Mixue.

Tanpa meminta penjelasan, orangtua siswa itu langsung meluapkan kemarahannya sebab merasa tak adil kepada anaknya.

Kejadian itu terjadi di Indramau, seorang guru SD Negeri dicaci maki orangtua siswa perkara es krim.

Semua bermula dari guru bernama Novi itu membagikan foto dia dan semua muridnya sedang jajan es krim Mixue.

Namun dalam foto itu terlihat satu siswa tidak makan es krim.

Gara-gara anaknya tak dibelikan es krim, wali murid marah dan caci maki guru di Indramayu.

Heboh Guru SD Dicaci Maki Orangtua Siswa Gara-gara Perkara Es Krim Mixue, Dituduh tak Punya Empati
Heboh Guru SD Dicaci Maki Orangtua Siswa Gara-gara Perkara Es Krim Mixue, Dituduh tak Punya Empati (Tangkapan layar di TikTok)

Diketahui, Novi adalah guru di SD Negeri di Indramayu, ia diviralkan hingga dicaci maki wali murid hanya karena perkara es krim Mixue.

Baca juga: Video: Pria di Medan Dapat Kejutan Anti Mainstream, Disodori Api Kompor Gas Elpiji Saat Momen Ultah

Baca juga: Viral di Sosial Media, Begini Indahnya Pantai Dermaga Rasuan OKU Timur

Baca juga: Jasa Tukang Fotokopi Keliling di Medan Bikin Heboh, Harga Naik 10 Kali Lipat, Kini Diserbu Pelanggan

Wali murid tersebut bahkan menyebut Novi tak punya empati dan hati nurani.

Novi diviralkan hingga dicaci maki wali murid hanya karena perkara es krim Mixue.

"Guru enggak ada empati dan hati nurani," tulis wali murid tersebut di akun Facebooknya.

Wali murid tersebut rupanya merasa kesal dan marah kepada Novi karena mengira anaknya tak dibelikan es krim, saat ibu guru tersebut mengajak anak-anak muridnya jajan di Mixue.

"Teman-temannya pada jajan Mixue, tapi anak kita cuma nontonin teman-temannya pada makan es krim

Sebagai orangtua merasa ngenes melihat anak diperlakukan begitu," tulis wali murid tersebut.

Unggahan wali murid tersebut langsung viral di Facebook.

Sejumlah netizen lantas ikut-ikutan menghujat Novi.

Akhirnya Buka Suara

Setelah habis dimaki-maki dan dihujat, Novi akhirnya memberikan klarifikasi di TikToknya.

Ia mengaku pergi ke Mixue merupakan ide muridnya sejak beberapa hari lalu sebelum kasus ini viral.

Novi sudah memastikan bahwa semua siswa yang ikut akan membeli es krim di gerai es krim tersebut bersama-sama.

Namun salah satu siswa bernama Vano yang sempat beberapa hari tidak berangkat sekolah karena sakit, tidak mengetahui rencana ini.

Saat berada di gerai es krim, Novi pun melihat Vano tidak membeli es krim dan menanyakannya.

Menurut Novi, Vano memilih tidak membeli karena baru saja sembuh dari sakit.

Alasan Vano membuat Novi yakin, bahwa Vano tidak ingin membeli es krim seperti teman-temannya.

Mereka pun menikmati es krim dan berfoto-foto di gerai es krim. Spontan, Novi mengirim foto-fotonya di grup chat yang berisi wali murid.

Melihat anaknya tidak ikut makan es krim, ibunda Vano, Yani mempertanyakannya kepada Novi.

Dalam postingan tersebut juga nampak Novi membalas chat Yani dengan mengatakan "gatau".

Tak mendapat jawaban yang memuaskan, Yani bersama seorang yang diduga adalah suaminya langsung tersulut emosi.

Novi dicaci maki dan tidak diberikan kesempatan untuk menjelaskan bagaimana kronologi sebenarnya.

Alih-alih menjelaskan dan membuat suasana kondusif, Novi memutuskan untuk keluar dari grup chatting tersebut.

Melihat tindakan Novi yang memilih untuk menghindar, Yani langsung tersulut emosinya dan semakin menjadi-jadi hingga memutuskan untuk memviralkan kejadian itu.

Namun kini Yani dan Novi dikabarkan sudah berdamai.

Penelusuran TribunJakarta, di TikToknya Yani juga sudah mengucapkan permintaan maaf kepada Novi.

Siswa di Wonogiri Bawa Poster Protes Dituduh Guru Curi Uang Rp 66 Ribu di Tempat Magang

Kisah lain seorang anak dituduh mencuri uang Rp 66 ribu oleh guru dan pihak apotek saat magang.

Siswa tersebut sekolah di salah satu SMK Wonogiri, Jawa Tengah.

Karena tak terima dituduh mencuri saat magang, siswa tersebut nekat membawa poster pembelaan.

Poster tersebut ia pamerkan ketika berjalan di jalanan di Wonogiri sebagai bentuk protes dan pembelaan.

Foto siswa tersebut mendadak viral di media sosial dan menjadi sorotan publik.

Poster protes siswa SMK di Wonogiri yang dituduh mencuri saat magang di apotek
Poster protes siswa SMK di Wonogiri yang dituduh mencuri saat magang di apotek (Tribunnews.com)

Dalam aksinya, siswa itu juga membawa bendera merah putih yang terikat di tasnya.

Dalam posternya, ia mengaku sebagai anak yatim dan dituduh melakukan pencurian oleh pihak sekolah dan tempat magangnya.

"Demi Allah aku anak yatim 'Bukan Pencuri' tidak seperti yang dituduhkan guru SMK Bhakti Mulia dan apotek (tempat magang). Mencari keadilan," bunyi tulisan dalam poster itu.

Foto itu diambil di sekitar lampu merah Simpang Empat Pokoh, Kecamatan Wonogiri Kota pada Selasa (31/10/2023) pagi.

Kronologi dari pihak sekolah

Diketahui, siswa berinisial MI (18) itu merupakan murid kelas 12 di SMK Bhakti Mulia.

Hal itu dibenarkan oleh Kepala SMK Bhakti Mulia Wonogiri Sutardi ketika dikonfirmasi.

"Iya kami tadi juga dapat kabar itu. Akhirnya dijemput teman-teman guru di sekitar Kantor DPRD Wonogiri," jelasnya, kepada TribunSolo.com.

Menurut dia, sebenarnya permasalahan sudah diselesaikan secara kekeluargaan sejak pertengahan Oktober 2023 lalu.

Namun, masalah malah kembali diungkit oleh siswa bersangkutan.

Sutardi menjelaskan, masalah itu bermula saat MI menjalankan tugas magang di salah satu apotek di Wonogiri.

Pada 19 Oktober 2023, ada selisih saat dilakukan stok opname obat.

Poster protes siswa SMK di Wonogiri yang dituduh mencuri saat magang di apotek (Tribunnews.com)

"Nilainya sebenarnya tidak besar, hanya Rp 66 ribu. Tapi kan sekolah juga harus bertanggung jawab," jelasnya.

Menurut Sutardi, siswa tersebut kemudian dimintai keterangan karena berdasarkan kronologi, siswa bersangkutan sedang piket di apotek itu.

Dia memastikan masalah itu sudah selesai dan pihak apotek juga tidak mempermasalahkannya.

"Sebenarnya tidak dipermasalahkan oleh pihak apotek saat itu. Namun di apotek itu ada bisnis ya, kita akhirnya turun tangan juga ke sana," ujarnya.

Namun pada Selasa pagi, tiba-tiba MI berjalan kaki membawa poster tulisan tangan itu.

Pihaknya mengaku kaget karena sebenarnya masalah sudah diselesaikan.

"Tadi juga kita minta keterangan. Keterangannya juga berubah-ubah," terang dia.

Bukan inisiatif MI

Berdasarkan penelusuran guru tulisan di poster itu bukan tulisan MI, siswa bersangkutan juga mengakui bahwa itu bukan tulisannya.

Hanya saja, MI belum mengaku siapa yang mempersiapkan tulisan tersebut.

Apalagi, dalam poster itu juga terdapat bekas sketsa yang dihapus.

Sekolah juga masih mencari siapa yang menulis poster itu.

"Yang jelas saat ini sudah clear permasalahan ini. Kita tadi juga kaget," ujarnya.

Sementara itu berdasarkan keterangan guru, wali murid MI juga menyatakan jika kerugian yang dialami apotek lebih dari nilai yang hilang juga akan diganti oleh pihak keluarga.

Di sisi lain, berdasarkan catatan sekolah, MI diketahui juga memiliki permasalahan terkait utang piutang di lingkungan sekolah.

Kronologi versi keluarga

Diketahui, MI tinggal di Wonogiri bersama dengan keluarga besarnya.

Ayahnya telah meninggal, saudara-saudaranya yang merawat dan membiayai sekolah MI.

Berdasarkan keterangan paman selaku wali murid MI, Achmad Fadlillah mengatakan, pihak keluarga mengetahui kasus itu selesai setelah ada panggilan dari pihak sekolah.

"Saya saat itu tanya buktinya apa? Dijawab CCTV. Dijelaskan isi rekaman CCTV itu, baru cerita. Dari cerita itu belum ada yang membenarkan mengambil uang kasir. Tapi ya udah masalah itu dianggap selesai dan saya mengganti," jelasnya kepada TribunSolo.com.

MI kemudian menceritakan kepada walinya di rumah bahwa ia diminta untuk membuktikan jika tak bersalah.

Namun Achmad mengatakan biasanya yang menuduh lah yang membuktikan, bukan yang tertuduh.

Achmad mengakui bahwa pihaknya sempat menyangka bahwa MI benar-benar mencuri.

Namun, karena praduga tak bersalah dari anak, dia membiarkan hal itu.

Bahkan ia juga mengetahui bahwa MI membawa poster soal tuduhan itu ke sekolah.

Dia membiarkan hal itu, namun bukan yang mengarahkan maupun menyuruh.

"Saya tahu pagi dia ke sekolah bawa poster. Tapi saya tidak mempersilakan, tidak mengarahkan, biar berjalan saja," ujarnya.

Dia mengakui pihak keluarga tak tahu dari mana asal poster yang dibawa MI ke sekolah, termasuk dari mana ide tersebut muncul.

Pihak keluarga menduga ada penyelesaian masalah yang kurang bagus.

Ada kemungkinan sekolah hanya mendapatkan laporan dari karyawan apotek, bukan pemilik langsung terkait selisih uang itu.

"Beberapa waktu lalu ada absensi anak dari karyawan apotek. Kemudian dari sekolah langsung meneruskan ke Whatsapp kami. Seharusnya sekolah bisa mengkonfirmasi dulu tidak langsung diteruskan ke kami. Karena kalimatnya kurang pas," jelasnya.

Berakhir Damai

Achmad menegaskan bahwa kasus tersebut sudah selesai.

Ia mengatakan MI tak bersalah berdasarkan mediasi pihak sekolah dengan keluarga usai MI membawa poster itu pada Selasa (31/11/2023).

"Sorenya damai. Dengan syarat sekolah mau mencari bukti CCTV. Mintanya sekolah sepekan, tapi menurut saya kelamaan. Kasih waktu tiga hari," jelasnya.

Dia mengatakan pada Kamis (2/11/2023) lalu, Achmad mengaku ingin membatalkan surat perdamaian jika belum ada bukti kuat.

Namun sesampainya di sekolah, MI dinyatakan tak bersalah.


Menurut dia, sekolah memberikan keterangan itu karena tidak ada bukti CCTV.

Kemudian keduanya melakukan perdamaian tertulis dan sudah saling meminta maaf.

Dalam kasus ini, meski berakhir MI dinyatakan tidak bersalah, Achmad tidak menuntut pencemaran nama baik.

Sebab sudah ada kejelasan dan mediasi antara kedua belah pihak.

"Saya juga berfikir anak itu ada nakalnya. Saya pikir juga butuh guru. Mungkin hanya kurang ketelitian dalam menangani kasus, yang akhirnya saling memaafkan," kata Achmad.

Pihak keluarga berterima kasih kepada guru di SMK Bhakti Mulia dan berharap jika ada kasus serupa bisa ditangani dengan teliti.

"Kalau dari pihak apotek belum ketemu. Mungkin juga marah karena tertulis di poster itu. Saya minta maaf kepada pihak apotek atas ketidaknyamanannya," ujarnya.

 

Artikel ini telah tayang di Tribun-Medan.com dengan judul VIRAL Ortu Siswa Cari Maki Guru Lantaran Anaknya tak Dibelikan Es Krim,Padahal Semua Teman Dibelikan

Sumber: Tribun Medan
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved