Waspada Sumsel Berpotensi Karhutla Tahun Ini 'Kembali', BMKG Berikan Penjelasan

BMKG memprediksi kemarau tahun ini (2023), mengarah seperti ke tahun 2019, sedangkan 3 tahun sebelumnya (2020, 2021, 2022) hatrick La Nina

Tayang:
Editor: adi kurniawan
TribunSumsel/Arief Basuki
Cuaca panas saat siang hari di provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) berpotensi mengalami kebakaran hutan dan lahan (Karhutlah), akibat kemarau tahun ini.  

SRIPOKU.COM, PALEMBANG --- Kepala Stasiun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) SMB II Palembang, Desindra Deddy Kurniawan mengungkapkan, Indonesia khususnya provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) berpotensi mengalami kebakaran hutan dan lahan (Karhutlah), akibat kemarau tahun ini. 


Menurut Desindra Selama tiga tahun terakhir sejumlah wilayah termasuk di provinsi Sumsel mengalami kemarau basah karena fenomena La Nina, dan tahun ini diperkirakan mengalami kemarau normal.


"Bulan Maret hingga April ini, kita dimasa transisi (pancaroba) peralihan dari musim penghujan ke musim kemarau, dan dimasa transisi ini masih ada potensi cuaca ekstrem, kalau di Sumsel itu normalnya Maret April masih ada penghujan masih ada, selepas April kita siap- siap dimusim kemarau," katanya, Jumat (14/4/2023).


Dijelaskan Desindra, dimasa angkutan lebaran tahun ini yang terjadi di akhir April masih peluang hujan, mengingat masih ada kondisi normalnya.

"Di Sumsel untuk hujan sendiri, sudah disampaikan bulanan, jika wilayah Barat lebih tinggi intensitasnya dibanding Timur, tapi skala harian kita update terus dan ini jadi perhatian, karena untuk skala pesawat atau arus lebaran saat ini maka kita cenderung skala harian apakah curah hujannya tinggi, menengah atau rendah," ucapnya. 


Desindra sendiri memprediksi kemarau tahun ini (2023), akan sedikit berbeda dengan 3 tahun sebelumnya (2020, 2021, 2022) yang hanya mengalami hatrick La Nina.


"Nah, untuk tahun ini prediksi BMKG dan internasional kita cenderung ke normal sebenarnya, tetapi normalnya ini mengarah seperti ke tahun 2019 dulu, tiga tahun belakangan saja saat La Nina masih ada hotspot, nah kalau ini dibilang normal dilhawatirkan terjadi 2019 kebakaran hutan dan lahan, ' paparnya.


Untuk itu, pihaknya bersama stakeholder akan melakukan koordinasi untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran hutan dan lahan, yang bisa saja membuat provinsi Sumsel kembali mengekspor asap hingga keluar negeri. 


"Kita berkoordinasi dengan stakeholder seperti BPBD, TNI dan Polri. Mungkin Senin nanti sudah aktivasi untuk Karhutla. Jadi kesimpulan berdasarkan pantauan dari BMKG terkait curah hujan ditahun ini, otomatis tahun ini potensi karhutla lebih besar tiga tahun lalu, " tegasnya. 


Ditambahkan Desindra, tak dipungkiri jika saat ini masyarakat merasa sedikit khawatir saat berada diluar rumah karena cuaca ekstrem yang biasanya terjadi sore hingga malam hari, meski pada pagi biasanya panas.


"Nah, ketika pagi hingga siang panas  tapi sore mendung, gelap dan bahkan hujan lebat, kalau hujan lebat durasinya pendek, kalau sangat lebat disertai angin kencang cukup berbahaya, bukan hanya masyarakat bahaya tapi juga untuk penerbangan, " tandasnya. 


Dengan begitu, dari sisi udara maka bisa menyebabkan pesawat gagal mendarat karena menunggu untuk bisa mendarat dilandasan, sedangkan kalau di laut mempengaruhi tinggi gelombang sehingga bisa mencancel angkutan penyeberangan. 


"Sedangkan di darat perlu diwaspadai dataran tinggi seperti Kabupaten Empat Lawang, kalau hujan lebat ekstrem jadi longsor, sementara untuk terik matahari masih di ekuator dan panas lebih ke suhu, kemarin rata- rata 34 sampai 35 derajat masih normal, kalau ekstrem lebih 3 derajat dari normal tadi, " katanya. (TS/Arif)

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved