harga tomat

Update Harga Tomat di Pagar Alam 23 Januari 2023, Harga Anjlok, ditingkat Petani Rp500 per Kilogram

"Sebelumnya harganya masih Rp700 sampai Rp900 per kilogram. Namun beberapa hari ini harganya terus turun sampai diangka Rp500 per kilo," ujar petani.

Penulis: Wawan Septiawan | Editor: Ahmad Farozi
wawan septiawan/sripoku.com
Petani tomat di Kota Pagar Alam dipastikan kembali merugi saat panen kali ini. Karena harga jual tomat ditingkat petani kembali anjlok diangka Rp500 per kilogram dan nyaris kembali di harga paling rendah seperti beberapa tahun lalu. Tampak petani yang membawa hasil panen tomat mereka ke Pasar Nendagung untuk ditimbang dan dijual. 

SRIPOKU.COM, PAGARALAM - Petani tomat di Kota Pagar Alam dipastikan kembali merugi saat panen kali ini.

Pasalnya harga jual tomat ditingkat petani kembali anljok dan nyaris kembali di harga paling rendah seperti beberapa tahun lalu.

Saat ini harga jual tomat ditingkat petani di Kota Pagar Alam menyentuh angka Rp500 per kilogram.

Harga ini memang bukan harga terendah, karena beberapa tahun lalu harga tomat sempat di angka Rp300 per kilogram.

Saat itu ada sejumlah petani tomat di Pagar Alam terpaksa membuang hasil panen mereka karena ongkos panen dengan harga jual tidak sebanding.

Hal itu membuat para petani terpaksa tidak memanen dan membiarkan buah membusuk dan ada juga yang sengaja membuang hasil panen mereka.

Saat ini harga jual ditingkat petani sudah sangat anjlok, ini memastikan jika petani tomat merugi.

Dengan harga Rp500 per kilo, biaya perawatan dari tanam hingga massa panen tidak akan tertutupi.

Erik (42), petani tomat di Pagar Alam mengatakan, sejak sepakan ini harga tomat terus mengalami penurunan.

"Sebelumnya harganya masih Rp700 sampai Rp900 per kilogram. Namun beberapa hari ini harganya terus turun sampai diangka Rp500 per kilo," ujarnya, Senin (23/1/2023).

Dikatakan, dengan harga Rp500 per kilo tidak akan bisa menutupi biaya perawatan.

Bahkan untuk ongkos panen saja bisa tidak tertutupi jika harganya dibawa Rp1 ribu per kilogram.

"Buah tomat ini tidak bisa dipanen seperti sayuran lain, sebelum panen kita harus menyiapkan kotak, karena tomat ini tidak bisa dimuat dalam karung," katanya.

"Jadi biaya beli kotak saja sudah mahal, belum biaya angkut dan lainnya," katanya.

Petani lainnya, Man (51) menambahkan, anjloknya harga tomat diduga disebabkan petani di Pagar Alam yang panen berbarengan. Hal ini membuat tomat banjir dipasaran.

"Selian itu curah hujan yang tinggi juga mempengaruhi harga Tomat. Karena saat hujan hasil panen tidak bisa tahan lama dan harus segera terjual jika tidak maka akan busuk," katanya.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved