Berita Musi Rawas

Mengenal Sejarah Terciptanya Kuntau, Bela Diri Melayu Khas Musi Rawas

Kabupaten Musi Rawas (Mura) Provinsi Sumsel, memiliki beragam seni dan budaya. Salah satunya seni bela diri Kuntau Melayu khas Musi Rawas. 

Penulis: Eko Mustiawan | Editor: Yandi Triansyah
SRIPOKU.Com / Eko Mustiawan
Cikwan yang merupakan generasi ke-4 Seni Kuntau Melayu dan anaknya Zukri yang merupakan generasi ke-5 Seni Kuntau Melayu, saat memeragakan 1 gerakan seni beladiri Kuntau Melayu khas Musi Rawas. 

SRIPOKU.COM, MUSI RAWAS -- Kabupaten Musi Rawas (Mura) Provinsi Sumsel, memiliki beragam seni dan budaya. Salah satunya seni bela diri Kuntau Melayu khas Musi Rawas

Seni bela diri Kuntau Melayu tersebut hinggai kini masih eksis dan terus dilestarikan oleh generasi penciptanya.

Lantas bagaimana sejarahnya terciptanya seni bela diri Kuntau Melayu Musi Rawas. Berikut ulasannya. 

Zukri merupakan Generasi ke-5 seni bela diri Kuntau Melayu didampingi ayahnya Cik Wan Generasi ke-4 mengatakan, bahwa seni bela diri Kuntau Melayu tersebut diciptakan oleh Monengnya bernama Kafkar. 

Awal mula terciptanya gerakan Kuntau Melayu tersebut, bermula saat Kafkar usai menunaikan sholat Magrib dan Isya. Saat itu, Kafkar masih berusia 27 tahun atau sekitar tahun 1967.

Kemudian, dengan berjalannya waktu yang panjang, dimana gerakan-gerakan Kuntau Melayu sendiri mengaplikasikan dari setiap gerakan sehat dan wudhu. Hal itulah, yang membedakan Kuntau Melayu dengan Kuntau-kuntau yang lain.

"Setelah sholat Magrib dan Isya, gerakan itu diulang-ulang, hingga akhirnya terciptalah gerakan seni bela diri Kuntau Melayu ini," jelasnya.

Namun, sekitar tahun 1987, Kafkar meninggal dunia diusia 70 tahun. Kesenian Kuntau Melayu selanjutnya di turunkan ke anaknya yakni Dalemon bin Kafkar sebagai generasi ke-2.

"Beliau wafat di tahun usia 67 tahun tepatnya pada tahun 1939 dan makamnya masih ada di Desa Tanah Priuk Kecamatan Muara Beliti," ucapnya.

Seterusnya, Senin Kuntau Melayu di turunkan ke anak Dalemon yakni bernama Ali Husin bin Dalemon sebagai generasi ke-3. Ali Husin pun wafatnya di tahun 1990 dan makamnya pun masih ada di Desa Tanah Priuk. 

Dan saat ini masih dilestarikan oleh Cik Wan bin Ali Husin anak dari Ali Husin sebagai generasi ke-4 dan dia sendiri Zukri bin Cik Wan sebagai generasi ke-5. 

"Generasi 2 dan 3 makamnya masih ada di Desa Tanah Priuk Kecamatan Muara Beliti. Kalau makam Moneng kami sudah tidak ada lagi, karena dimakamkan di pinggir sungai dengan kostur tanah pasir. Sehingga tergerus arus sungai," jelasnya.

Dijelaskan Zukri, Kuntau Melayu milik keluarganya, mungkin ada kesamaan gerakannya dengan Kuntau-kuntau lainnya. Tapi Kuntau Melayu berbeda, dimana yang pendidikannya terarah mendidik secara spiritual.

"Jadi ini benar-benar Kuntau dari keluarga kami yakni Kuntau Melayu yang berasal dari Desa Tanah Priuk  Kecamatan Muara Beliti yang dulunya Dusun Ulak Lebar Tanjung Kemuning," ungkapnya.

Halaman
123
Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved