Sekarang Kami Lega Sejak Ada IPAL dari Pertamina

Sekarang kami lega, IPAL dari Kilang Pertamina Plaju mewujudkan impian kami, limbah tempe jadi air yang bersih dan tidak bau lagi

Penulis: Syahrul Hidayat | Editor: adi kurniawan
Sripoku.com/Syahrul Hidayat
CUCI KEDELAI --- Achmad Ponco, salah satu perajin tempe dari Koperasi Produsen Perajin Tempe Plaju Bersinar, mencuci kacang kedelai yang akan direbus untuk dijadikan tempe, di rumahnya Jalan Asia, Lorong Saleh, RT 06 RW 02, Kelurahan Plaju Ulu Kecamatan Plaju, Palembang, Rabu (2/11/2022). Ponco kini merasa lega, karena masalah limbah tempe kini teratasi setelah dibangun pengolahan IPAL dari program CSR PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit III Plaju. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Lukisan mural yang ada di dinding rumah warga pangkal Jalan Asia menggambarkan aktivitas Sentral Produksi Tempe tertua, sejak tahun 1952. Selama ini limbah pengelolaan tempe selalu menimbulkan aroma yang kurang sedap.

PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit III Plaju (Kilang Pertamina Plaju) peduli akan lingkungan sehat, melalui Program CSR, berhasil mewujudkan industri rumah tangga yang ramah lingkungan. Pertamina membantu pelaku UMKM tempe membangun Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

28 pengrajin tempe di sentral produksi tempe tertua, Jalan Asia, Kelurahan Plaju merasa lega. Masalah limbah telah teratasi sejak sejak dibangunnya IPAL tempe seperti di Lorong Saleh.

"Alhamdulillah, sekarang kami lega, IPAL dari Kilang Pertamina Plaju mewujudkan impian kami, limbah tempe jadi air yang bersih dan tidak bau lagi," jelas Achmad Ponco, salah satu perajin tempe yang tergabung Koperasi Produsen Perajin Tempe Plaju Bersinar, Jalan Asia Lr Saleh RT 06 RW 02, Kelurahan Plaju Ulu Kecamatan Plaju Palembang, Rabu (2/11/2022) siang.

Ponco bersama saudaranya, Joko Pitoyo, Surya Kencana-Rusmiati, dan Taupik, melanjutkan usaha orangtua mereka tetap memproduksi tempe sampai sekarang.

Area Manager Communication Relation dan CSR PT Kilang Indonesia, Siti Rahmi Indasari mengatakan, kawasan ini memang sudah lama menjadi sentral pengelolaan tempe, dan limbah tempe membuat bau.

“Kita membagun IPAL komunal sejak tahun 2021, dan tahap awal ada 4 rumah yang dijadikan dalam satu saluran kedalam bak penampungan untuk diolah menjadi limbah yang bersih," jelas Mimi.

Bak penampungan memiliki tiga bilik, mulai dari limbah murni hingga ke air jernih dan siap disalurkan dan tidak menimbulkan bau di lingkungan tersebut.

Untuk bak penampungan Pertamina mempersiapkan tanki berdaya tampung 6 meter kubik per hari, dengan kapasitas IPAL yang dihasilkan untuk tiap rumah per hari, rata–rata 800 liter hingga 1200 liter per hari.

Setelah beroperasinya pengelolaan IPAL ini kawasan yang dahulu terkesan bau sekarang sudah menjadi kawasan rapi dan bersih, bak pengelolaan IPAL tertata di bawah tanah.
"Sekarang kami lega..... air bisa dimanfaatkan untuk kolam ikan lele, sirkulasi air tanaman hidroponik serta siram tanaman obat obatan herbal, depan rumah," tutup Ponco.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved