Berita Musi Rawas

Petani Sawah di Musi Rawas Pasrah, Sawah Kering tak Ada Air dan Dirusak Hama Tikus

"Sekarang pasrah, mau panen alhamdulillah, tidak yang kami terima," kata Budi, seorang petani di Desa Rejosari Kecamatan Purwodadi, Sabtu (24/9/2022).

Penulis: Eko Mustiawan | Editor: Ahmad Farozi
eko mustiawan/sripoku.com
Areal sawah milik petani di Desa Rejosari Kecamatan Purwodadi Kabupaten Mura Provinsi Sumsel, yang mulai mengering, karena kekurangan suplai air, Sabtu (24/9/2022). 

SRIPOKU.COM, MUSIRAWAS - Sebagian petani di Kabupaten Musi Rawas, Sumsel, mulai pasrah dengan nasib lahan sawahnya yang kini mulai kering dan retak-retak.

Kondisi itu dialami petani yang lahan sawahnya memanfaatkan irigasi Kelingi-Tugumulyo.

Saat ini saluran irigasi masih dalam proses perbaikan dan pengeringan oleh Balai Besar Wilayah Sungai Sumatera (BBWSS) VIII.

Disaat pengeringan irigasi ini, sebagian petani diwilayah Kecamatan Tugumulyo dan Kecamatan Purwodadi, masih ada yang menanam padi.

Mereka memanfaatkan air hujan untuk pengairan sawah, sehingga bisa menanam padi.

Namun, saat ini cuaca panas yang terjadi sepanjang hari dibeberapa wilayah di Kabupaten Mura, membuat irigasi kering total dan sawah pun ikut mengering dan retak-retak.

Kondisi ini membuat petani yang sudah terlanjur menanam padi khawatir. Apalagi selain sawah kering, tanaman padi juga sebagian dirusak oleh hama tikus yang semakin merajalela.

"Sekarang pasrah, mau panen alhamdulillah, tidak yang kami terima," kata Budi salah seorang petani di Desa Rejosari Kecamatan Purwodadi, kepada Sripoku.com, Sabtu (24/9/2022).

Menurutnya, para petani di desanya nekat tanam padi, karena beberapa hari sebelumnya sering terjadi hujan dan irigasi di desanya juga masih menyisakan air, meskipun tidak banyak.

"Kemarin tanam, karena ada hujan dan ada sisa air irigasi. Jadi kami bisa ambil air (nyedot) di irigasi. Tapi sekarang sudah kering total irigasinya," ungkapnya.

Dia hanya bisa berharap, beberapa hari kedepan turun hujan, sehingga padi milik petani, bisa mendapat suplai air dan bisa kembali segar dan tumbuh berbuah.

Senada disampaikan, Irma petani di Desa F Trikoyo Kecamatan Tugumulyo. Bahkan, selama pengeringan Irigasi Kelingi-Tugumulyo, lahan sawahnya yang tak lagi mendapat suplai air yang cukup.

"Kami tetap tanam padi, karena lahan kami basah, sehingga tidak bisa ditanami jagung atau sayuran lainnya," ungkapnya.

Jadi agar lahan sawahnya tetap produktif sambung Irma, maka dia dan petani lainnya tetap menanam padi. Sedangkan untuk suplai airnya, hanya mengandalkan dari air hujan.

"Kalau tidak hujan, sawah kami juga kering. Karena, memang petani yang nanam padi ini, mengandalkan air hujan," tutupnya.

Dia berharap, agar pengerjaan irigasi Kelingi-Tugumulyo dapat dipercepat, sehingga petani bisa kembali produktif.

Berdasarkan informasi melalui baliho yang dipasang eh BBWSS VIII dibeberapa pintu air, menyebutkan bahwa pengeringan Irigasi Kelingi-Tugumulyo akan berlangsung hingga awal Januari 2023 mendatang.

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved