Breaking News

Musik

Mengenal dan Merawat Musik Campursari, Genre Musik Asli Indonesia yang Terus Populer

Mengenal dan merawat musik campursari, gendre musik asli Indonesia yang terus populer dari dulu hingga kini

Penulis: Yuni Rahmawati | Editor: pairat
Kolase/Kompas
Ilustrasi - Didi Kempot salah satu penyanyi yang beraliran campursari. Mengenal dan merawat musik campursari, gendre musik asli indonesia yang terus populer hingga saat ini 

SRIPOKU.COM - Musik campursari merupakan genre musik asli Indonesia. Mungkin musik campursari ini sudah tidak asing lagi di telinga kita.

Musik campursari yang dominan menggunakan bahasa jawa dan alat musik gamelan ini ternyata sukses di tanah hiburan Indonesia.

Musik campursari ini belakangan banyak dibawakan oleh penyanyi pendatang baru seperti Via Valen, Happy Asmara dan Denny Caknan.

Baca juga: Alat Musik Tradisional Sape dari Kalimantan Timur, Coveran Alif Fakod Bisa Saingi Musik Modern

Istilah campursari dalam dunia musik Indonesia mengacu pada campuran (crossover) beberapa genre musik kontemporer Indonesia.

Nama campursari diambil dari bahasa Jawa yang sebenarnya bersifat umum.

Musik campursari di wilayah Jawa bagian tengah hingga timur khususnya terkait dengan modifikasi alat-alat musik gamelan sehingga dapat dikombinasi dengan instrumen musik barat, atau sebaliknya.

Dalam kenyataannya, instrumen-instrumen 'asing' ini 'tunduk' pada pakem musik yang disukai masyarakat setempat: langgam Jawa dan gending.

Campursari pertama kali dipopulerkan oleh Manthous dengan memasukkan keyboard ke dalam orkestrasi gamelan pada sekitar akhir dekade 1980-an melalui kelompok gamelan "Maju Lancar".

Kemudian secara pesat masuk unsur-unsur baru seperti langgam Jawa (keroncong) serta akhirnya dangdut.

Pada dekade 2000-an telah dikenal bentuk-bentuk campursari yang merupakan campuran gamelan dan keroncong (misalnya Kena Goda dari Nurhana), campuran gamelan dan dangdut, serta campuran keroncong dan dangdut (congdut, populer dari lagu-lagu Didi Kempot).

Meskipun perkembangan campursari banyak dikritik oleh para pendukung kemurnian aliran-aliran musik ini, semua pihak sepakat bahwa campursari merevitalisasi musik-musik tradisional di wilayah tanah Jawa.

Ternyata, musik campursari ini telah dari dulu dipopulerkan oleh Almarhum Didi Kempot dan Manthous.

Almarhum Didi Kempot sangat terkenal dan selalu menjadi ikon langgam Jawa dan Campursari. Didi Kempot tidak hanya terkenal di Indonesia, tetapi juga Suriname dan Belanda.

Ia pernah diundang secara langsung oleh presiden Suriname bernama Weyden Bosch saat sedang berkunjung ke Indonesia tahun 1998.

Di tahun 2013 Didi Kempot juga diundang oleh penyelenggara Pasar Malam Indonesia di Belanda untuk tampil dan menyanyikan lagu-lagu campursari.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved