Berita Palembang

Ponpes di Sumsel Cenderung Aman dari Radikalisme, Izzah Zen Syukri : Tapi Harus Tetap Waspada

Dalam paparannya, Izzah menjelaskan mereka yang religius oriented itu balik lagi ke khilafah ke zamannya sahabat Rasul.

Tayang:
Penulis: Abdul Hafiz | Editor: Sudarwan
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Kabid Perempuan dan Anak FKPT (Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme) Sumsel DR Hj Izzah Zen Syukri M.Pd. 

Laporan wartawan Sripoku.com, Abdul Hafiz

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Sebanyak 20 ponpes antusias mendengarkan pemaparan ciri-ciri radikalisme dan pemahaman teroris pada workshop peran pesantren dalam mempromosikan perdamaian melalui kontra narasi ekstremis yang digelar CSRC bekerjasama Ponpes Al Ittifaqiah Inderalaya di Hotel The Alts Palembang, Selasa (22/3/2022).

"Palembang, Sumsel seperti dipaparkan tadi cenderung aman. Tapi kan kita tidak boleh merasa selamanya aman. Harus tetap hati-hati karena kita tidak tahu kan daerah ini daerah transit. Bisa saja dari Jawa mau ke Padang, Medan, pasti melewati kita sini. Itu bahaya kalau mereka transit di tempat kita," ungkap Kabid Perempuan dan Anak FKPT (Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme) Sumsel DR Hj Izzah Zen Syukri MPd memberikan paparan saat menjadi narasumber.

Putri sulung ulama besar almarhum KH M Zen Syukri ini menjelaskan meski pondok pesantren di Sumsel cenderung aman, namun tetap harus berhati-hati karena di manapun bisa berpotensi.

"Tapi kita tidak tahu di masing-masing pondok karena yang kita amati itu yang kelihatan kasat mata. Biasanya cirinya mereka itu tidak mau upacara bendera, tidak mau hormat bendera. Nah mulai itu dia tidak mau lihat Indonesia itu majemuk, tidak mau lihat Indonesia itu bhineka," kata ustadzah Izzah.

Wanita yang akrab juga disapa bunda Izzah menyebut jika seseorang sudah memiliki berperilaku seperti itu menurutnya itu otomatis radikalisme.

"Dia di Indonesia kok tidak mau mengikuti aturan di Indonesia. Taat kepada Allah, Rasul. Harus taat juga kepada pemerintah. Kalau tidak mau taat kepada pemerintah negara ini, pindah, jangan bikin negara baru," katanya.

Dikatakannya, BNPT itu tidak hanya membicarakan santri, pesantren tapi juga melihat kalangan umum.

Guru, dosen, pegawai, TNI, Polri, seluruh masyarakat, itu dirangkul semua supaya bisa satu napas.

"Jangan ada merasa lebih baik dari yang lain. Jangan baru tahu dengan kulit agama langsung merasa dia tahu semua dengan agama. Sehingga dia anggap semua orang salah semua," ujar Izzah.

Ketua DPC Muslimat Nahdatul Ulama (NU) Kota Palembang ini menyebutkan bisa di mana saja ada mental radikal, mental teroris, mental ekstremis.

"Oleh karena itu kita perlu bergerak seperti ini tadi pelan-pelan dengan pendekatan yang ramah, dirangkul, diajak bicara. Di mana sih yang mampetnya itu. Mampetnya itu kita coba dandani, benari. Mampetnya ekonomi, pengetahuan agama. Ayo kita bantu dengan narasi-narasi yang benar. Jangan mereka searching di google cari di youtube. Ternyata kontennya itu tidak bersahabat," terangnya.

Dalam paparannya, Izzah menjelaskan mereka yang religius oriented itu balik lagi ke khilafah ke zamannya sahabat Rasul.

"Tapi kan di sana tidak majemuk. Di sini kan sejak kita lahir manjemuk. Bangsanya majemuk, rambutnya saja beda, kulit agama, dan bahasanya beda. Perbedaan ini harusnya dipandang sebagai anugerah, bukan diubah menjadi khilafah, justru mengubah anugerah dari Allah. Semua yang hadir di bumi Indonesia ini kan dari Allah," paparnya.

Menurutnya, kalau ingin mereka menjadi satu, bukan memaksakan untuk menjadi satu agamanya.

Tapi satu napasnya bergerak bersama membangun Indonesia dengan perbedaan itu.

"Daerah yang susah dijangkau terkadang itu dari hijrah. Diiming-imingi akan masuk surga, dapat bidadari. Sebetulnya harus tinggi literasi. Kalau kita banyak pengetahuan yang benar, tabayun, Insya Allah aman dari kontemporer Radikal. Makanya masyarakat kita yang rendah literasi sehingga menganggap yang koar-koar itulah dianggap pinter. Makanya ditinggike literasi, dipinterke," ujarnya.

Junaidi Simun Koordinator Program CSCR UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang menyelenggarakan kegiatan ini mengatakan pihaknya mengundang DR Hj Izzah Zen Syukri MPd sebagai salah satu narasumber untuk memberikan informasi pengetahuan kepada peserta workshop terkait isu radikalisme di Sumsel.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved