Breaking News:

Gunakan Atlet Luar di Ajang Porprov Sumsel, Abas Akabar: Kebiasaan Jelek Pembinaan Maunya Instan  

Manatan atlet pencak silat nasional asal Sumsel Abad Akbar mengaku prihatin mencuatnya jual beli atlet dalam ajang Porprov Sumsel XIII

Editor: Azwir Ahmad
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Pelatih Pelatda Kontingen Sumsel untuk PON 2021 di Papua, cabang olahraga Pencaksilat, Abas Akbar. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Maraknya jual beli atlet di Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sumsel 2021, sangat disayangkan dan jadi keprihatinan sejumlah pihak. Sebab  semua pihak harusnya melakukan evaluasi, khususnya pembinaan yang dilakukan pengurus masing- masing.

Pemerhati olahraga Abas Akbar sendiri mengaku prihatin, masih adanya daerah yang melakukan cara- cara "naturalisasi" atlet demi prestasi yang ada tidaklah benar, padahal jika pembinaan cabang olahraga (Cabor) dilakukan secara baik maka hal itu tidak terjadi.

"Kalau saya terus terang saja tidak terlalu setuju (jual beli atlet luar), karena kita harusnya bisa membina atlet, tapi  kadang- kadang orang maunya instans semua," kata Abas, Kamis (25/11/2021).

Mantan Atlet Pencak Silat asal Sumsel yang telah menorehkan prestasi ditingkat nasional dan internasional ini, berharap setiap daerah yang ada, benar- benar memiliki anggaran pembinaan olahraga bagi calon- calon atlet berprestasi yang nantinya mengharumkan nama daerah.

"Jadi jangan menyepelekan olahraga, karena olahraga itu selain untuk kesehatan, juga untuk mengharumkan nama besar daerahnya. Tapi fokus, semuanya bisa kalau fokus. Kalau jual beli atlet itu biasa, tapi jadi kebiasaan jelek itu namanya, dan tidak bagus, " ungkapnya. 

Apalagi diterangkan Abas, nanti para atlet datangan itu, saat pelaksanaan PON kedepan, kemungkinan besar bukan menjadi atlet Sumsel nantinya, karena mereka akan memilih daerah yang lebih besar membayarnya. 

"Jelas hal itu lebih parah lagi yang tentu saya tidak setuju, mengingat atlet ini (datangan) biasanya di Porprov saja dan nanti mereka akan berlari tidak mau lagi hingga PON, karena mau yang lebih besar bayarnya, itu namanya tidak ngajari pembinaan, sedangkan atlet daerah jam terbangnya tidak dikasih," benernya. 

Ditambahkan pria yang saat ini menjabat sebagai Asisten Manajer Tim Voli Proliga Bank Sumsel, apabila pembinaan dilakukan secara benar oleh Pengcab yang ada, maka atlet yang ada bisa berprestasi. 

"Hasil tidak menghianati proses, yakinlah kalau prosesnya sudah melalui proses, insya Allah hasilnya ada seperti itu, asal pembinaan jelas. Kemarin aku jelas pelatihan untuk PON 2 tahun latihan berjuang, akhirnya dapat mas, " ingatnya. 

Kedepan diungkapkan Abas, KONI harus benar-benar melihat aturan- aturan main yang jelas dalam setiap kompetisi yang ada, tanpa harus menabraknya. Sementara untuk pihak yang protes dirinya menghimbau untuk melakukan koreksi, mengingat selama ini daerah tidak melakukan membina bagi calon- calon atletnya. 

"Orang lain pakai atlet luar mereka protes, jadi sama- sama protes, tapi kalau kita membina yang benar kayaknya enggak, ini karena daerah lain tidak membina dan orang lain pakai atlet luar, "tuturnya.

Selain itu, setahu dirinya aturan mutasi pemain itu sendiri sudah jelas diatur. Dimana, minimal 6 bulan dilepas dan PBnya atau Pengcabnya jelas, dan 6 bulan bergabung baru bisa. Nah, kalau baru ikut PON kemarin dan main disini (Porprov) itu bohong, dak boleh baru berapa bulan karena baru 1 bulan dan bisa diprotes dan regulasinya dak benar, sebab itu diatur di KONI," pungkasnya.

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved