Dubes Norwegia Tertarik Dengan Potensi Sawit Muba, Tawarkan Program Sawit Berkelanjutan

Potensi sawit Muba menarik perhatian dari dalam dan luar negeri. Dubes Norwegia Rut Kruger Giverin langsung mengunjungi Desa Mendis Bayung Lencir

Penulis: Fajeri Ramadhoni | Editor: Azwir Ahmad
Sripoku.com/Fajeri Ramadoni
Dubes Norwegia Rut Kruger Giverin didampingi Plt Bupati Muba Beni Hernedi ketika menaburkan pupuk untuk pohon kelapa sawit di Desa Mendis Jaya. 

SRIPOKU.COM, SEKAYU - Potensi Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) untuk komoditas sawit mengundang pejabat pemerintahan maupun negara untuk datang langsung ke bumi Serasan Sekate tersebut.

Setelah mendapatkan kunjungan Presiden RI Joko Widodo beberapa tahun lalu, kini Duta Besar (Dubes) Norwegia Rut Kruger Giverin mendatangi langsung petani di Desa Mendis Bayung Lencir Kabupaten Muba, Rabu (24/11/2021).

Kedatangan Dubes Norwegia ini, disambut langsung Plt Bupati Beni Hernedi SIP. Tentu saja kedatanganan Rut Kruger Giverin menawarkan berbagai program untuk mendukung upaya-upaya keberlanjutan perkebunan kelapa sawit.

"Kita juga ingin mendengar secara langsung keluh kesah yang disampaikan petani sawit hari ini, salah satu hal yang sangat menarik dan ingin kami pahami," ujar Duta Besar Norwegia Rut Kruger Giverin.

Dari kunjungan ini, ia mendapat pelajaran yang sangat berharga dan menjadi bahan untuk dapat diceritakannya jika bertemu dengan pejabat pemerintahan khususnya terkait aspirasi petani.

"Untuk pendanaan pemeliharaan perkebunan sawit masyarakat, sebenarnya pemerintah kami memiliki dana untuk petani mikro, dan akan kami pelajari apakah itu bisa diakses petani kecil," tuturnya.

Plt Bupati Muba Beni Hernedi dalam sambutannya mengatakan sangat antusias menyambut kunjungan Dubes Norwegia ke kelompok kelapa sawit yang menerapkan Best Management Praktis (BMP) yang merupakan bantuan dari Dubes Norwegia melalui Global Yield Gap Atlas (GYGA).

"Kedatangan Ibu Kedubes Norwegia ini wajib kita syukuri, menyambutnya dengan luar biasa, dan semangat. Bagi kita menunjukkan peran kita, mereka ingin melihat bagaimana praktek kelapa sawit yang ada di bawah, apa lagi kelompok kepala sawit di Mendis Jaya menjadi percontohan dalam peningkatan hasil produktivitas tandan buah segar," kata Beni.

Beni menambahkan, wilayah kabupaten Muba sendiri seluas 1,4 juta hektar dan hampir 1.000 hektar isinya 2 komoditas utama yakni 500 sawit dan 500 karet.

"Karet lebih dahulu ada tapi tidak ada perkembangan komoditas secepat sawit. Universitas Indonesia pernah survei dengan data mengatakan 80 persen pemilik lahan apabila ditanya mau tanam apa, pasti 80 persen menjawab sawit. Tapi masalahnya mereka tidak peduli apakah itu kawasan hutan atau bukan," jelas Beni.

Maka itu persoalan ini menjadi tantangan bagi Pemkab Muba untuk memberikan penjelasan apakah lokasi perkebunan sawit ini merupakan kawasan hutan.

"Kadang mereka punya masalah di legaliti (sertifikat). Harus diakui sawit memang primadona dan prioritas pilihan petani. Tentunya karena sudah terbukti memberikan penghasilan yang cukup bagi petani. Terlebih lagi Muba ini luasan kawasan sawitnya juga ada privat sektor swasta yang mengusahakan lahan dengan bermitra dengan petani," terangnya.

Maka itu lanjut Beni, Pemkab Muba sudah melakukan banyak hal dan berkomitmen dalam keberlanjutan kelapa sawit, terutama terkait peningkatan produktivitas dengan program peremajaan sawit rakyat.

"Karena banyak isu sawit yang sudah tua, ada juga kesalahan bibit, makanya ini (replanting) yang terus kita lakukan. Kita ingin petani hasil yang baik, dan maksimal," bebernya.

Koordinator Field Trials GYGA Hendra Sugianto mengungkapkan pendampingan yang dilakukan pihaknya telah dimulai sejak Oktober 2019, dan sudah masuk ke tahun ketiga. Di tahun pertama penelitian kepada kebun sawit produktivitas meningkat 24%, atau 2,9 ton pertahun per hektar. Tahun ke dua meningkat lagi sebesar 63%, atau 9,3 ton TBS per tahun per hektare.

"Kita harapkan petani disini menjadi contoh sehingga produksi sawit di Mendis tidak di pandang sebelah mata," tegasnya.

Sementara Ketua Petani BMP Mendis Jaya Simono mengucapkan terima kasih kepada pihak GYGA yang telah melakukan pendampingan dalam mengolah perkebunan sawit yang benar.

"Kami sangat terbantu sekali dengan pendampingan ini, sehingga penghasilan kami meningkat," ucapnya. (dho)

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved