Breaking News:

Virus Corona

Dokter Spesialis THT Pastikan Sering Tes Swab PCR Tidak akan Membuat Lubang Hidung Membesar

Di kalangan masyarakat sering muncul anggapan jika sering melakukan pemeriksaan tes usap maupun antigen akan membuat lubang hidung jadi lebih besar

Penulis: Jati Purwanti | Editor: Sudarwan
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Panitia tuan rumah laga ujicoba Sriwijaya FC vs Bhayangkara Sriwijaya melakukan tes swab antigen kepada semua orang yang memasuki Stadion Gelora Sriwijaya Jakabaring Palembang, Jumat (17/9/2021), termasuk awak media yang meliput.  

SRIPOKU.COM - Pemeriksaan Covid-19 dengan menggunakan metode  swab PCR dan antigen merupakan kegiatan yang lazim dilakukan di masa pandemi seperti saat ini.

Di kalangan masyarakat pun sering muncul anggapan jika sering melakukan pemeriksaan tes usap maupun antigen akan membuat lubang hidung menjadi lebih besar dari ukuran semula.

Namun, anggapan tersebut dibantah oleh dokter spesialis Telinga Hidung dan Tenggorokan Bedah Kepala Leher (THT-KL) Bethsaida Hospital, Hemastia Manuhara.

Dia menegaskan tes yang dilakukan dengan cara mengambil lendir di bagian atas tenggorokan yang terletak di belakang hidung tidak akan menyebabkan efek apa pun pada organ pernapasan tersebut.

"Sering swab tidak akan membuat lubang hidung membesar. Malah kalau hidung lubangnya jadi besar enak untuk bernapas," tegasnya pada kegiatan webinar Mengenal Gejala Post Covid-19, Selasa (5/10/2021).

Menurut Hemastia, jika setelah dilakukan pemeriksaan swab atau antigen hidung seseorang merasa seperti lebih sakit atau lebih susah bernapas hal tersebut kemungkinan disebabkan oleh faktor lain.

Untuk mengantisipasi agar tidak semakin parah disarankan agar melakukan konsultasi kesehatan dengan dokter ahli.

"Bisa jadi karena ada Polip atau Sinusitis jadi segeralah lakukan pemeriksaan ke dokter THT," ujarnya.

Terkait anosmia atau hilangnya kemampuan mencium bau saat terpapar Covid-19, Hemastia menyebutkan hal tersebut wajar terjadi.

Namun, anosmia bisa bisa disembuhkan dengan berbagai cara.

Salah satunya dengan terapi yang bernama Olfaktori Training.

Pada terapi tersebut hidung dilatih untuk mengendus aroma atau wewangian yang kuat agar fungsi hidung kembali normal.

"Bisa dengan minyak mawar atau kayu putih. Dilatih dengan teratur. Nantinya anosmia akan hilang," kata Hemastia.

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved