1.500 TNI-Polri Buru 4 DPO MIT, Operasi Madago Raya Diperpanjang

1.500 personil gabungan dari TNI-Polri dikerahkan untuk memburu keempat anggota MIT tersebut.

Editor: Yandi Triansyah
istimewa
Satgas Madago Raya kembali terlibat kontak senjata dengan teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso, Sabtu (17/7/2021) sekitar pukul 11.30 Wita. 

SRIPOKU.COM - Anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT) tersisa empat orang pasca tewasnya pimpinan mereka yakni Ali Kalora.

Untuk menangkap keempat anggota MIT itu, Operasi Madagi Raya diperpanjang hingga Desember 2021.

1.500 personil gabungan dari TNI-Polri dikerahkan untuk memburu keempat anggota MIT tersebut.

Keempat teroris itu diyakini bersembunyi di Kabupaten Sigi, Parimo dan Kabupaten Poso.

Wakasatgas Humas Operasi Madago Raya AKBP Bronto Budiyono,yang dikonfirmasi via telepon pada Jumat (1/10/2021) mengatakan, perpanjangan operasi ini telah dimulai sejak tanggal 1 Oktober hingga akhir Desember 2021 mendatang.

Menurutnya, Operasi Madago Raya yang telah memasuki tahap keempat tersebut diperpanjang mengingat operasi tahap 3 telah berakhir pada 29 September 2021.

"Dalam operasi ini tidak ada penambahan personel dari TNI maupun Polri,"ungkap Bronto.

AKBP Bronto menjelaskan,tidak jauh berbeda dengan operasi sebelumnya dari tahap 1, 2, 3, dan 4, dan seluruhnya dilaksanakan dan diperpanjang setiap tiga bulan.

Diakuinya, berbagai prestasi yang telah dicapai oleh Satgas Madago Raya sejak pelaksanaan operasi.

Pada operasi tahap 3, tim telah berhasil menembak mati pemimpin MIT Poso Ali Kalora bersama Jaka Ramadhan saat terjadi kontak senjata di wilayah pegunungan Desa Astina, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong pada 18 September 2021.

Masih menurut Bronto, tim Satgas Madago Raya yang terbagi beberapa kelompok masih terus melakukan tugas dan fungsinya menanggulangi permasalahan terorisme yang terjadi di wilayah Poso, Parimo dan Sigi.

Dijelaskan,hingga kini tim kejar melakukan pengejaran terhadap sisa DPO teroris yang masih ada di pegunungan.

Kemudian Tim Sekat melakukan penyekatan agar mereka tidak bisa turun dan simpatisan tidak bisa naik memberikan bantuan.

Sementara tim lain memberikan edukasi kepada masyarakat agar tidak terpengaruh dengan ajakan untuk melakukan tindak radikalisme.

"Jadi dalam pelaksanaan operasi Madago Raya ini,tim dibagi dalam beberapa bagian,semua tim kemudian melakukan kegiatannya dilapangan sesuai dengan 'job'-nya,"jelas AKBP.Bronto.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved