G30S PKI

'KENAPA Bapak Dibunuh?' 20 Tahun Hidup Penuh Dendam: Kisah Amelia, Putri Jenderal Ahmad Yani

Kisah Amelia Achmad Yani, putri dari Jenderal Ahmad Yani saat mengenang hingga mengasingkan diri ke desa kecil seusai G30S PKI 1965.

Editor: Wiedarto
Kompas.com
Kisah Amelia Achmad Yani, putri dari Jenderal Ahmad Yani mengenang dan menyembuhkan luka batin setelah G30S PKI 1965. 

Setiap hari pembicaraannya itu terus, seperti tidak ada jawaban. Dan, kemudian, saya mencari jawaban itu dengan menulis.

Saya mulai mewawancarai Pak Nasution (AH Nasution), Pak Sarwo Edhie, Pak Soemitro. Semua saya wawancara. Saya tanya, seperti apa ayah saya sebetulnya, lalu kenapa harus dibunuh.

Di situ saya (juga) mulai membuka agenda bapak saya. Di situ ada beliau mengatakan, "Kenapa saya jadi prajurit? Karena saya patriot, karena saya cinta Tanah Air."

Itu message, itu penting sekali. Pesan dari orangtua saya itu penting sekali untuk generasi muda.

"Kenapa saya belajar? Untuk jadi apa? Kenapa saya jadi prajurit? Karena saya patriot."

Tidak harus jadi prajurit, lho. Tapi, semangat itu ada.

Menulis sekaligus menjadi cara Anda mengatasi trauma yang Anda alami karena peristiwa kelam itu?

Jangan lupa Like fanspage Facebook Sriwijaya Post di bawah ini:

Saya menulis buku itu, bercucuran air mata saya. Sepertinya ayah saya datang, sepertinya beliau dekat sekali dengan saya, seolah-olah saya dibimbing untuk menulis.

Kan nulisnya bukan siang hari, saya nulisnya malam hari, jam tiga pagi, jam satu malam, ketika sepi, tidak ada siapa-siapa. Saya seperti ada yang mendorong untuk menulis dan jawaban itu seperti ada di situ.

Meski (ketika itu) saya belum sembuh (dari trauma), lalu saya bekerja, saya belum sembuh.
Tapi, kemudian, saya pindah ke desa, saya pindah ke sebuah dusun, dusun Bawuk namanya (Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, 1988). Enggak ada listrik.

Ibu saya menangis waktu itu. Saya mencari jawaban bagi diri saya sendiri.

Tinggal di desa itulah yang menyembuhkan saya dari semua rasa dendam, rasa amarah, rasa benci, kecewa, iri hati, dengki. Itu hilang. Di desa, itu hilang.

Lebih dari 20 tahun saya di sana. Jadi hampir seperempat abad, saya ada di desa. Ketika itu saya menyekolahkan (mulai SMA) Dimas (anak tunggal) ke Australia.

Saya sendiri di desa. Bangun pagi, jam enam saya sudah di sawah. Saya punya sawah, saya punya kolam ikan gurame, punya pohon buah-buahan, mangga, saya punya pepaya, pisang.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Manado
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved