G30S PKI
"GILA, Anak Kecil Ditembak," Mantan Anggota Cakrabirawa Ungkap Rahasia Tertembaknya Ade Irma
Kisah berikut ini diceritakan Sulemi, mantan anggota Cakrabirawa penjemput Jenderal AH Nasution yang diwawancarai pada akhir 2017 silam.
Ia tak mau menghancurkan generasi penerus dengan memutarbalikkan fakta sejarah.
"Kalau dikira saya mengarang, saya sebagai muslim bersumpah di hadapan Allah, apa yang saya katakan ini sesuai yang saya lihat, dan lakukan."
"Dalam Habluminallah, saya akan dimintai pertanggungjawaban Allah. Kalau saya bicara melenceng, akan menghancurkan generasi penerus," tegasnya saat ditemui Tribun Jateng di kediamannya, akhir tahun 2017 lalu.
Awal September 1965, seluruh anggota Cakrabirawa dikumpulkan.
Komandan Batalyon 1 Kawal Kehormatan Kolonel Untung bin Syamsuri memberitahukan situasi negara yang sedang gawat.
Karena itu, seluruh anggota diperintahkan untuk konsinyasi (siaga) untuk menghadapi kemungkinan kudeta oleh para perwira Angkatan Darat (AD) pada tanggal 5 Oktober.
28 September 1965, dalam sebuah apel besar, seluruh anggota kembali dikumpulkan untuk persiapan kegiatan 30 September malam.
Mereka diberitahu perihal jenderal-jenderal yang diisukan akan mengkudeta presiden.
Mendengar instruksi itu, yang ada dibenak Sulemi sebagai prajurit, negara berada dalam situasi yang genting.
Ada usaha untuk menggulingkan pemimpin besar revolusi.
Sementara ia juga anggota pengawal presiden yang lain mengemban tugas untuk melindungi keselamatan presiden dan keluarganya.
Sang prajurit tak pikir panjang. Tak mungkin ia membangkang perintah atasan.
Apalagi berpikir jauh untuk menyelidiki kebenaran isu itu, termasuk urusan politik yang melingkupinya.
Bagi Cakrabirawa, keselamatan presiden berada di pundak mereka. Karena itu, perintah atasan harus dilaksanakan.
"Pola pikir kami saat itu, ini bahaya ada yang mau gulingkan pimpimpin besar revolusi. Sehingga apa yang diperintahkan komandan siap laksanakan. Kalaupun kemudian saya dihukum karena melaksanakan tugas, itu sudah konsekuensi saya,"katanya