Menjawab Fenomena Kekerasan di Pendidikan, Sirozi: Kekerasan Anak Sering Dilakukan Orang Terdekat

Akhir-akhir ini banyak kejadian kekerasan pada anak di lingkungan pendidikan, bahkan baru-baru ini terjadi di Pondok Pesantren

Editor: adi kurniawan
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Rektor UIN Raden Fatah Palembang, Prof. Dr. HM. Sirozi, MA, Phd. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Akhir-akhir ini banyak kejadian kekerasan pada anak di lingkungan pendidikan.

Bahkan baru-baru ini terjadi di Pondok Pesantren (Ponpes) yang ada di Sumatera Selatan (Sumsel).

Menurut Guru Besar pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Raden Fatah Palembang Prof Drs H M Sirozi MA PhD, benar akhir-akhir ini banyak terjadi tindak kekerasandi lingkungan pendidikan.

"Yang kita sesalkan yang jadi pihak terlibat langsung itu guru," kata Sirozi saat Live Talk Sumsel Virtual Fest yang diadakan Tribun Sumsel dan Sriwijaya Post dengan tema Fenomena Kekerasan Terhadap Anak di Lingkungan Pendidikan, Kamis (16/9/2021).

Menurutnya, hampir dari semua kasus kekerasan yang terjadi ini pelaku utamanya guru, ini sesuatu yang sangat serius dan harus didiskusikan kenapa ini terjadi. 

"Kalau kita bicara lembaga pendidikan aset terbesar adalah guru. Kalau aset terbesarnyanya bermasalah maka jadi masalah," cetusnya.

Masih kata Sirozi, aset terbesar ini peran dan fungsinya sangat strategis, karena guru itukan tidak hanya mentransfer ilmu tidak hanya mentransfer nilai tapi dia mengubah kehidupan anak-anak.

"Tidak jarang yang kita ingat ada beberapa guru yang mengubah cara pandang kita dan akhirnya mengubah 
cara hidup kita," katanya.

Pengaruh guru ini bukan sesuatu yang bisa terjadi cepat, tapi bisa sepanjang hayatnya.

Kalau pengaruhnya positif bisa terbawa sepanjang hidupnya, begitu juga sebaliknya kalau negatif akan terbawa sepanjang hidupnya.

"Sebenarnya yang membuat pendidik begitu penting? bukan hanya dilihat dari teknik mengajarnya tapi karakternya. Ketika guru punya karakter yang problematik, itu masalah yang sangat serius," cetusnya

Menurut Sirozi, melakukan Kekerasan terhadap peserta didik itu masalah serius, dan itu menyangkut karakter guru, Artinya ini isu yang paling pokok.

"Menurut saya proses rekrutmen guru perlu banyak perbaikan. Pertama kebanyakan mengandalkan IPK, lalu tidak melihat dari minat dan bakat jadi guru," ungkapnya.

Do what you love, what you do. Banyak guru ini kecemplung jadi guru, dia sadar nggak ada minat dan bakat jadi guru tapi ada kesempatan jadi guru maka melamar. 

Karena proses rekrutmen yang tidak begitu selektif maka keterima. Karena tidak ada bakat dan minat maka banyak sekali guru seperti itu. bukan berusaha meningkatkan kualitas. Proses rekrutmen ini memang perlu dibenahi. 

Sementara itu Pakar Hukum Universitas Taman Siswa Palembang Dr. Azwar Agus, SH, M.Hum menambahkan, perlu dipahami bersama bahwa anak masa depan bangsa artinya apapun ceritanya harus dijaga. 

"Makanya Pemerintah sudah mengatur UU perlindungan anak, KPAI dan lain-lain. Artinya anak itu menjadi suatu yang sangat penting bagi kemajuan bangsa," katanya.

Menurut Azwar Agus, adanya hal-hal tindak pidana terhadap anak ini, tentu ini jadi sangat miris. Karena sering terjadi kejahatan dilakukan oleh orang terdekat bisa orang tua, guru dan lain-lain. 

"Kekerasan anak ini kalau di kita masih dianggap tabuh, kalau terekspos keluar jadi dianggap aib. Jadi yang terekspos ini saya kira baru sebagian kecil saja, pasti masih banyak yang tidak melaporkan," katanya.

Menurutnya, sebenarnya setiap terjadinya itu banyak masalah yang saling berkaitan seperti dimulai dari perekrutan guru, pengajarannya hingga di rumah. 

"Biasanya kejahatan karena ada peluang dan kesempatan. Saya sangat sependapat kalau terjadi hal seperti ini harusnya dapat dihukuman setimpal. Karena anak masa depan bangsa," katanya.

Tapi memang sayangnya, penyelesaian melalui pidana memang upaya terakhir.
Karena harus dilihat juga efek pisikis dari anak tersebut misal yang melakukan gurunya sendiri. Karena kehilafan dan lain-lain, itu bisa menimbulkan trauma juga bagi yang lainnya.

"Untuk itu harus jelas dan terukur. 
Untuk mengawasi apakah sudah dihukum atau tidak, ini memang perlu diawasi bersama. Karena berkaitan dengan anak ada norma dan etika agar tidak menimbulkan dampak pisikis dikemudian hari," katanya 

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved