Tips Kesehatan

Disebut Makanan yang Membuat Bodoh, Ternyata Micin Lebih Aman dari Garam, Ini Penjelasannya

MSG ternyata mengandung salah satu zat bernama Glutamat yang juga terkandung dalam beberapa jenis makanan segar seperti tomat.

Tayang:
Penulis: Nadyia Tahzani | Editor: Sudarwan
Tribunnews
Ilustrasi Micin 

SRIPOKU.COM - Sudah bukan hal biasa jika Micin dianggap makanan yang membuat banyak orang menjadi bodoh.

Sebut saja generasi micin, pasti kalian sudah sering banget denger kata-kata itu.

Ya, kata generasi micin ini tercetus saat banyak kaum milenial yang menyukai jajanan yang mengandung MSG atau micin.

Nah, sebenarnya istilah generasi micin ini juga merujuk pada kondisi kesehatan yang dipercaya mndapat efek buruk dari konsumsi micin yang bikin ketagihan.

Contohnya yang sering disebutkan kaum milenial sekarang ialah konsumsi micin bisa menurukan kecerdasan otak atau membuat bodoh.

Namun ternyata, sebenarnya mengkonsumsi micin itu tidak lah membuat bodoh asal dikonsumsi sewajarnya jangan berlebihan.

MSG ternyata mengandung salah satu zat bernama Glutamat yang juga terkandung dalam beberapa jenis makanan segar seperti tomat.

Dan sebenarnya hingga saat ini, belum ada penelitian valid yang bisa dibuktikan perihal efeknya pada otak.

Untuk lebih jelasnya, berikut fakta baik tentang micin.

Baca juga: Manfaat Menakjubkan Rutin Konsumsi Bit, Mampu Obati 13 Penyakit Berbahaya, di antaranya Detoks Alami

1. Kandungannya mirip ASI

Tidak seluruh kandungan MSG serupa dengan ASI.

Hanya saja zat utama pembangun MSG yakni asam Glutamat (yang merupakan salah satu asam amino) ternyata juga ditemukan pada ASI.

Glutamat merupakan zat penting yang dapat mengubah rasa makanan menjadi lebih nikmat.

Kandungan zat dalam MSG ada 3 yaitu: asam glutamat 78%, natrium 12%, dan air 10%.

Zat Glutamat tersebut juga terkandung dalam susu, keju, daging, ikan, dan beberapa sayuran.

2. Penambah selera makan

Bagi Moms yang sedang sakit dan tak lunya nafsu makan, sedikit menambahkan MSG dalam makanan ternyata ampuh untuk menambah nafsu makan.

Tak hanya itu, MSG memiliki kandungan serupa dengan garam hanya sana natriumnya lebih sedikit sehingga lebih aman jika dikonsumsi oleh penderita hipertensi.

3. Batasi konsumsi

Penggunaan MSG disarankan tak dalam jumlah banyak. Meski dampaknya tak nampak dalam waktu singkat, jika MSG dikonsumsi setiap hari, semakin lama efeknya akan menumpuk.

MSG dapat digantikan dengan rempah-rempah alami seperti kunyit, jahe, lada, cengkeh, kayu manis, kemiri, dan ketumbar.

Menurut Persatuan Pabrik Monosodium Glutamate dan Glutamic Acid Indonesia (P2MI), MSG aman dikonsumsi dalam takaran penggunaan secukupnya.

Penelitan dari Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology Center (SEAFAST Center) IPB pada 2007, konsumsi MSG harian orang Indonesia sekitar 0,7 gram per orang per hari.

4. Efek

Efek penggunaan micin masih menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan.

Ada yang beranggapan, monosodium glutamat (MSG) berdampak buruk pada kemampuan kognitif seseorang. Benarkah?

Ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Profesor Hardinsyah mengatakan, lembaga-lembaga kesehatan dunia--The Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA), hingga Kementerian Kesehatan RI menyatakan MSG aman dikonsumsi.

Menurut dia, anggapan bahwa penyedap rasa bisa berpengaruh pada kerja otak kemungkinan karena kesalahan persepsi atas penelitian yang dilakukan oleh peneliti Washington University, Dr John W. Olney.

Olney menguji MSG terhadap tikus putih dengan cara menyuntikkannya ke bawah kulit.
Cara ini dikritik dan dianggap tak lazim karena MSG umumnya diasup lewat makanan.

Selain itu, dosis yang diberikan kepada tikus percobaan itu sangat tinggi, dan tak mungkin diterapkan pada manusia.

Hasilnya pun tak mengherankan, karena dosis yang tinggi, maka berdampak merusak otak.

"Dugaan saya (anggapan generasi micin), dari penelitian tikus tadi dikonotasikan, dipelintir, dan jadi mitos. Padahal kita tak mungkin kuat mengasup MSG dengan dosis sangat tinggi," ungkap Hardinsyah di Jakarta, Selasa (23/1/2018).

5. Hubungan dengan kemampuan otak

Seorang dokter, dr Ivena menjelaskan, otak mempunyai banyak syaraf dengan tugas menerima berbagai macam rangsangan.

Saraf yang menerima rangsangan ini disebut reseptor, di mana jumlahnya ada dibagian hipotalamus otak.

Kandungan glutamat dalam penyedap rasa mempunyai banyak reseptor yang ada di hipotalamus otak.

"Karena itu, efek kebanyakan glutamat di otak bisa membahayakan. Reseptor-reseptor dalam otak jadi terangsang secara berlebihan akibat kadar glutamat yang tinggi.

Bila terus-terusan terjadi, alhasil aktivitas reseptor yang berlebihan malah bisa disebabkan kematian neuron," kata Ivena.

6. Aman bagi tubuh

Hingga saat ini, belum ada penelitian yang valid perihal efek MSG pada tubuh.

Bahkan FDA, Badan pengawas makanan Amerika Srrikat menyebut bahwa MSG aman untuk dikonsumsi.

Penelitian FDA menemukan bahwa gejala sensitif terhadap MSG muncul jika seseorang meminum MSG sebanyak 3 gram atau lebih. Sedangkan MSG banyak digunakan dalam makanan.

7. Lebih aman dari garam

Kandungan natrium MSG hanya 12% dibandingkan garam yang mencapai 36% sehingga bisa menyebabkan hipertensi

Kegunaan utama penyedap masakan ini adalah sumber rasa gurih, rasa dasar yang ke-5 dan memperkuat rasa menjadi lebih sedap.

Penyelaras rasa serta menambah asupan kadar Glutamat (protein) pada makanan.

Keamanan MSG suah diakui beberapa badan kesehatan seperti World Health Organization (WHO), Food and Drug Administration (FDA), Kementerian Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.

Yang pasti jangan mengkonsumsi micin secara berlebihan, peneli juga sudah menyarankan batas pemakaian penggunaan micin.

8. Penemuan micin

Micin atau MSG ditemukan oleh Kikunae Ikeda, profesor kimia Universitas Tokyo pada tahun 1908.

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) mengategorikan MSG sebagai makanan aman. Meski demikian, mengonsumsi micin dalam jumlah berlebih juga tak disarankan.

9. Terbuat dari tebu

MSG merupakan gabungan dari sodium/natrium (garam), asam amino glutamate dan air yang dibuat melalui proses fermentasi tetes tebu oleh bakteri Brevi-bacterium lactofermentum yang menghasilkan asam glutamat.

Kemudian, dilakukan penambahan garam sehingga mengkristal.

Baca juga: Selain Orangtua Bisa Beraktivitas, Ini 7 Manfaat Membiarkan Anak Main Sendiri, Cek Tingkah Si Kecil

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved