Berita Palembang

Ditutupi Bendera Belanda, Kisah Nenek Amda di Palembang, Lahir Pada 17 Agustus 1945

Dulu kan tidak ada popok, jadi nyak (emak) nyai memakai bendera Belanda yang dijadikan popok untuk menutupi nyai

Tayang:
Editor: Yandi Triansyah
citizen journalis
Nyai AMda 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Sosok nyai Amanda atau biasa dikenal dengan Nyai Amda yang lahir tepat saat Indonesia Merdeka yaitu pada 17 Agustus 1945 mempunyai kisah heroik tersendiri.

Dengan usia saat ini yang memasuki 76 tahun, orang asli Betawi yang kini menetap di Palembang ini terlihat masih gagah dan sehat dengan kulit keriput dan urat nadi yang terlihat jelas di tangannya.

Menurut cerita dari sang cucu, Elsa, nyai Amda lahir dengan peralatan seadanya bahkan tanpa bantuan medis, yang mana saat itu semua orang sibuk merayakan Kemerdekaan Indonesia.

"Dulu kan tidak ada popok, jadi nyak (emak) nyai memakai bendera Belanda yang dijadikan popok untuk menutupi nyai" katanya, Selasa (17/08/2021).

Lanjutnya, untuk mengambil bendera Belanda orangtua sang nyai sangat gemetar, namun tak ada yang lain selain bendera tersebut.

Pada saat itu semua orang sibuk menurunkan bendera Belanda dan menaikan bendera Indonesia sebagai tanda kemerdekaan.

Lalu ada bendera Belanda yang injak, kemudian diambil oleh orangtua Amanda dan disobek guna menutupi tubuh mungil yang masih berdarah.

Bahkan nama Amanda sendiri, diambil secara spontan oleh kedua orangtuanya.

Yakni pada saat mau keluar mencari kebutuhan bayi, orang tuanya berkata Aman Dah (bahasa Betawi) yang artinya sudah aman, sehingga diberilah namanya Amanda.

"Menurut cerita orang tua nyai dulu begitu. Dulukan mau keluar rumah saja takut ada Belanda, jadi ngintip dulu kalau sudah merasa aman baru keluar rumah," bebernya.

Sehari-hari Nyai Amda sebagai tukang urut anak bayi, yang mana pijitannya selalu membuat releks anak bayi.

Ia sendiri tinggal di Talang Jambe tepatnya di RT 20 RW 06 Kel. Talang Jambe Kecamatan Sukarami Palembang.

Ia tinggal berdampingan sama anak-anak dan cucunya.

"Kalau sehari-hari hanya tukang urut bayi, dulu waktu tenaga masih kuat saya juga mengurut orang dewasa tapi kini hanya anak bayi saja," tuturnya.

Tak hanya sebagai tukang urut, ia juga sering diminta orang untuk membuat ramuan atau jamu agar anak makannya lahap.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved