Dr Iche Andriyani:Penanganan COVID-19 di Sumsel Harus Konsisten dari Sisi Hulu yakni Tracing Testing

Angka kesembuhan COVID-19 di Sumatera Selatan (Sumsel) per 8 Agustus tercatat 51.865 orang atau 74,49 persen, sementara itu tercatat meninggal 2.397

Tayang:
Editor: bodok
SRIPOKU.COM/Bank Mandiri
Vaksin salah satu upaya yang dilakukan Pemerintah untuk membentuk kekebalan kelompok (herd imunity) agar penangulangan Covid-19 segera usai. 

* Parameter Keberhasilan Penanganan COVID-19 Harus Dipenuhi Agar PPKM Berlalu

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Angka kesembuhan COVID-19 di Sumatera Selatan (Sumsel) per 8 Agustus tercatat 51.865 orang atau 74,49 persen, sementara itu tercatat meninggal 2.397 atau 4,6 persen. 

Sementara itu jumlah pasien sembuh 39.152 orang.

Angka ini berada diurutan 14 secara nasional atau masih di bawah Jambi. 

Data ini berdasarkan sampel yang diperiksa di laboratorium Provinsi Sumsel sebanyak 112512 orang dari 13.13 per seribu penduduk. 

Tarcatat 51.865 atau 46,4 persen positif dan 59.911 orang nagatif dengan jenis kelamin laki-laki 25.659 orang dan perempuan 26.206 orang. 

Sampel yang diteliti ini didominasi oleh usai mayoritas 20 - 44 tahun.

Dari sekian banyak sampel yang diteliti didominasi oleh 406 orang menderita diabetes dan hipertensi 388 orang.

Target penanganan covid harus tercapai agar bebas dari PPKM, tampak warga antrian untuk mengikuti vaksin
Target penanganan covid harus tercapai agar bebas dari PPKM, tampak warga antrian untuk mengikuti vaksin (SRIPOKU.COM)

Ahli Epidemiologi Universitas Sriwijaya Dr Iche Andriyani Liberty mengatakan, penanganan COVID-19 di Sumsel harus konsisten dari sisi hulu yakni tracing, testing dan treatment harus benar dijalankan agar orang yang erat kontak dengan pasien covid benar-benar terdeteksi dan penyebarannya bisa dikendalikan. 

Jangan sampai orang yang erat kontak dengan pasien COVID-19 justru menyebarkan virus ke orang lain lagi. 

Selain itu kasus isolasi mandiri juga harus menjadi perhatian penting karena lebih dari 19 ribu kasus. 

Isoman ini kadang tidak didukung oleh tempat yang sesuai misalnya saja rumah itu tidak memiliki kamar mandi di dalam kamar sehingga masih harus kontak dengan penghuni rumah lainnya karena masih menggunakan kamar mandi bersama. 

Belum lagi jika pasien isoman ini masih beraktivitas di luar rumah maka akan lebih berbahaya karena bisa menularkan ke orang lain dan membuat angka positif akan bertambah. 

Sayangnya pengawasan di tingkat RT masih minim dan kesadaran masyarakat juga masih minim.

Mereka masih menyepelekan covid dan tidak memperhatikan kesehatan sendiri juga lingkungan sekitar.

Sumber: Sriwijaya Post
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved