Olimpiade Tokyo 2020

Modal Raket dan Uang Rp200 Ribu di Tangan, Apriyani Nekat Datangi Eng Hian: Kini Juara Olimpiade

Kisah sukses Greysia Polii/Apriyani Rahayu terus membuat publik penasaran, seperti apa sosok dan perjuangan mereka sebelum mencapai podium Olimpiade T

Editor: RM. Resha A.U
AFP/ALEXANDER NEMENOV
Pasangan ganda putri Indonesia Greysia Polii dan Apriyani Rahayu (kanan) memberi hormat dengan medali emas bulu tangkis ganda putri pada upacara Olimpiade Tokyo 2020 di Musashino Forest Sports Plaza di Tokyo pada 2 Agustus 2021. 

"Jadi saat pertama mencoba olahraga ini, Ani menggunakan raket yang saya buat dari kayu dengan dengan shuttlecock terbuat dari jerami," kata Amerudin melalui telepon, Senin (2/8/2021), dikutip Sportfeat dari Kompas.

Setelah beranjak ke sekolah dasar (SD), Apriyani barulah diberikan raket asli. Namun, senarnyapun sudah usang.

Sang ayah terus berusaha membuat Apriyani memiliki raket apapun keadaan ekonomi mereka, karena Apriyani dikatakan selalu menangis jika tidak dikasih raket.

Pada 2005, Apriyani sudah mulai berani ikut turnamen junior di tingkat daerah di Kabupaten Konawe.

Lambat laun prestasinya terus berkembang hingga ia naik ke turnamen level provinsi.

Apriyani mulai masuk ke klub bulu tangkis PB Pelita Bakrie binaan Icuk Sigiarto pada 2011 yang berlokasi di Jakarta Barat, demi semakin mengejar impiannya menjadi pebulu tangkis profesional.

Ia sempat ditolak, namun akhirnya diterima. Setelah itu ia pindah ke PB Jaya Raya Jakarta.

Pasangan ganda putri Indonesia Greysia Polii dan Apriyani Rahayu (kanan) memberi hormat dengan medali emas bulu tangkis ganda putri pada upacara Olimpiade Tokyo 2020 di Musashino Forest Sports Plaza di Tokyo pada 2 Agustus 2021.
Pasangan ganda putri Indonesia Greysia Polii dan Apriyani Rahayu (kanan) memberi hormat dengan medali emas bulu tangkis ganda putri pada upacara Olimpiade Tokyo 2020 di Musashino Forest Sports Plaza di Tokyo pada 2 Agustus 2021. (AFP/ALEXANDER NEMENOV)

Pada 2017, Apriyani Rahayu mulai masuk ke pelatnas di level utama.

Ia memberanikan diri mendatangi pelatih ganda putri Eng Hian, dengan membawa raket dan uang Rp 200.000 yang digenggam di tangan.

"Cuma Apri yang datang ke saya waktu masuk pelatnas, dia datang dengan cuma punya raket dan uang Rp 200.000 di tangan," kata Eng Hian, pada 2020 lalu setelah Greysia/Apriyani juara Indonesia Masters 2020.

"Dia bilang dia mau jadi juara, terserah Koh Didi mau kasih program apa, saya siap."

"Itu dibuktikan sama dia, saat masih punya duit sampai sekarang sih tidak ada yang berubah, dari segi latihan dan kemauan masih sama," ujar Eng Hian melanjutkan.

Kala itu Eng Hian selalu menegaskan kepada anak didiknya untuk tidak berpuas diri, karena target terbesar mereka adalah Olimpiade.

Dan kini, benar saja, Apriyani Rahayu bersama Greysia memenuhi impian dan target sang pelatih.

Perjalanan emas Greysia/Apriyani di Olimpiade Tokyo 2020 pun luar biasa, mengalahkan para unggulan.

Diantaranya unggulan pertama (Yuki Fukushima/Syaka Hirota), unggulan keempat (Lee So-hee/Shin Seung-chan) serta di final mereka mengandaskan unggulan kedua Chen Qing Chen/Jia Yi Fan.

Sebagian artikel ini telah tayang di SportFeat.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved