Breaking News:

Tak Perlu Ada Dikotomi, Protokol Kesehatan dan Kegiatan Ekonomi Bisa Berjalan Seiring

Dokter relawan Covid-19 Fajri Adda'l menilai tidak perlu lagi ada dikotomi antara prokes dan kegiatan ekonomi. Keduanya bisa jalan bersamaan

Editor: Azwir Ahmad
ho/sripoku.com
Tangkap layar dr.Fajri dalam jumpa pers virtual PPKM digelar Kominfo KPC-PEN, Rabu (28/7/2021) 

SRIPOKU.COM, JAKARTA - Dokter relawan COVID-19 Fajri Adda’I menegaskan jika nanti Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berakhir, maka tidak perlu lagi ada dikotomi antara protokol kesehatan dengan kegiatan ekonomi.

Dalam jumpa pers PPKM secara virtual yang digelar Kominfo dan KPC-PEN ( Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional), Rabu (28/7/2021) dr. Fajri, menegaskan bahwa prokes dan kegiatan ekonomi, keduanya tetap bisa berjalan bersamaan.

Dia mencontohkan, UMKM tetap bisa dilakukan dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan.

Begitu juga dengan aktivitas ekonomi lain seperti di pasar. Ekonomi tetap bisa berjalan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan.

dr. Fajri memahami kondisi ekonomi saat ini sulit. Namun kebijakan PPKM diambil semata untuk menghambat laju penularan. Dia memberi gambaran jika 5-10 persen orang yang sakit COVID-19 perlu dirawat di rumah sakit.

"Bayangkan ketika penularannya banyak, lalu ada 1 juta orang yang terpapar, maka rumah sakit akan penuh. Artinya, agar tidak terjadi maka penularannya harus diputus," katanya.

Menurutnya dia paham betul bahwa kondisinya sulit, tapi rumah sakit sempat penuh,terutama pada dua pekan lalu.

"Berapa pun jumlah rumah sakit tidak akan bisa terpenuhi karena penularan terlalu cepat, karena itu (penularannya) harus dihentikan," ujar dr. Fajri.

Dia juga menambahkan, saat ini seluruh dunia sedang menghadapi varian baru yang lebih menular. Bahkan data terbaru menunjukkan viral load-nya 1.200 kali lebih banyak, inkubasi varian yang baru ini 4 hari menularkan dan bergejala cepat, dibandingkan varian sebelumnya yang inkubasinya 7 hari.

Di seluruh dunia, kasus positif juga kembali melonjak seperti di Amerika Serikat dan sejumlah negara di Eropa. Namun karena di sana orang yang divaksinasi sudah banyak, maka angka risiko berat hingga meninggal dunia bisa dihindari. Tidak banyak yang memerlukan perawatan.

"Karena itu, kita harus mempercepat vaksinasi. Jangan ragu untuk divaksinasi sambil tetap patuhi protokol kesehatan,"katanya.

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved