Sriwijaya FC Terancam Kolaps
Dirtek Sriwijaya FC: Kita Kerja Berdasarkan Dana Talangan Tapi Seberapa Kuat Tanpa Sponsor
Upaya akrobat dilakukan jajaran Direksi PT SOM terutama Presiden Klub Sriwijaya FC H Hendri Zainuddin, termasuk menggunakan dana talangan.
Penulis: Abdul Hafiz | Editor: Hendra Kusuma
SRIPOKU.COM, PALEMBANG-Selama dua musim Sriwijaya FC berjalan tanpa sponsor. Tercatat sejak pandemi Covid-19 menyerang Indonesia, maka klub kebanggan Sumsel tak ada pemasukan dari sektor sponsorship, sementara pengeluaran terus berjalan meski tidak ada kompetisi.
Sikap pemerintah yang melarang adanya keramaian, termasuk pertandingan sepakbola, membuat Liga 1 dan Liga 2 dihentikan pada musim 2020 lalu, praktis, Sriwijaya FC rugi hingga Rp 6 miliar lantaran pengeluaran untuk persiapan tim, gaji pemain dan pelatih. Namun pengeluaran yang berasal dari dana talangan pribadi pengurus itu tak kembali lantaran satu-satu pemasukan dari sektor sponsorship juga nihil.
Maklum di musim 2020, Sriwijaya FC tak ada pemasukan lantaran pihak sponsor tidak berani mengeluarkan uang dengan alasan Liga 2 batal digelar. Sponsorship hanya mau mengucurkan dana jika Liga 2 diputar, jika dihentikan maka mereka tidak berani mengucurkan uang.
Musim inipun, Bank Sumsel Babel sudah memberikan sinyal tak berani mengeluarkan dana Rp 5 miliar seperti musim lalu, lantaran kompetisi kembali ditunda. Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris PT SOM Faisal Mursyid."Kita tetap berharap dengan dukungan sponsor dengan digulirkannya liga. Namun dengan pengunduran jadwal ini masalah sponsor semua masih proses," ujarnya.
Sementara menanggapi ini, Direktur Teknik dan SDM PT SOM Indrayadi yang bertanggungjawab dalam rekrutmen pemain dan persiapan tim mengatakan, upaya dari pengurus PT SOM dan manajemen sudah maksimal.
Upaya akrobat dilakukan jajaran Direksi PT SOM terutama Presiden Klub Sriwijaya FC H Hendri Zainuddin, termasuk menggunakan dana talangan.
Namun, sampai kapan dan seberapa kuat jika tidak didukung oleh sponsorship. Klub yang mayoritas sahamnya merupakan milik Pemprov Sumsel ini, tak lagi memiliki sektor pemasukan lain, jika musim 2019 lalu, ada sektor tiket yang diandalkan, kini larangan adanya kerumunan menjadi penghambat bagi SFC untuk mendapatkan sumber pemasukan.
"Kita tetap butuh sponsor, kita kerja berdasarkan talangan, tetapi seberapa kuat," ujar Indrayadi.
Ia mengatakan, upaya dan akrobat sudah dilakukan pengurus, bahkan menurut Indrayadi, manajemen Sriwijaya FC sudah membentuk tim marketing dan sudah mengajukan proposal ke pihak sponsor. Namun pihak sponsor memang ingin ada feed back yang diberikan. Semua memang tergantung kepada kompetisi.
"Kalau kompetisi ngak ada, efeknya gak ada. Sebab yang kita endorse harus mempublis produk dia," jelasnya.
Dikatakan mantan kiper SFC ini, sebenarnya di sepakbola harus ada kompetisi, sementara jika kompetisi tidak ada, bisa saja diajukan turnamen sebagai solusi, tetapi masa pandemi ini akan terkendala izin.
"Kepolisian dalam hal ini pemberi izin, kemudian sewa venue, makan, sewa wisma, sehingga argonya (operasional tim) tetap jalan. Maka jalan lain, ada wacana kita meliburkan tim dululah beberapa minggu. Alternatif yang paling parah, kita menjadwalkan ulang latihan, tetapi risikonya jadi kacau," jelasnya.
Seperti diketahui, berdasarkan data sumber yang didapat dipercaya, Sriwijaya FC sudah mengalami rugi senilai Rp 6 miliar di musim lalu yakni, musim 2020, di mana Sriwijaya FC sudah mengeluarkan cost mengaji dari Januari-Oktober, kemudian okomodasi mulai dari persiapan hingga ujicoba.
Kemudian di musim ini, Sriwijaya FC sudah mengucurkan Rp 2,4 miliar untuk gaji pemain, pelatih dan akomodasi persiapan. Tetapi faktanya, setelah Liga 2 kembali ditunda, hampir seluruh pihak sponsor Sriwijaya FC menahan diri dan tidak berani mengucurkan dana.
Bahkan berdasarkan informasi terakhir belum ada kejelasan pasti dari Bank Sumsel Babel (BSB), BUMD Sumse yang biasanya menjadi sponsor utama Sriwijaya FC yang memberikan bantuan hingga Rp 5 miliar per musim.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/dirtek-pt-som-indrayadi1.jpg)