Dua Obat Covid-19 Hasil Temuan Ilmuan Inggris Diburu, Ampuh Matikan Virus, Peneliti Ingatkan Efeknya
Maka itu, dia berharap sumber obat potensial ini, atau dua obat ini akan mempercepat pengembangan obat baru melawan Covid-19.
SRIPOKU.COM, PALEMBANG-Sebanyak dua obat covid-19 hasil temuan ilmuan Inggris mulai diburu di pasaran, sebab ampuh dan berpotensi menekan pekembangan virus Corona dan proses infeksi di dalam tubuh manusia.
Apalagi dua jenis obat covid-19 ini sangat mudah ditemukan, namun para peneliti mengingatkan efek buruknya jika tidak menggunakan resep dokter.
Terlebih lagi, hasil temuan penelitian ini masih perlu dikembangkan lagi, peneliti masih menentukan terutama formula dan resep yang pas bagi tubuh manusia yang terinfeksi, terutama dosis yang diperlukan sesuai dengan tingkat atau kadar seberapa parah tubuh yang terinteksi, sebelum obat ini benar-benar diresmikan atau ditetapkan menjadi obat Covid-19.
Seperti diketahui, Penelitian ini dipimpin langsung oleh Direktur Milner Therapeutics Institute, Profesor Tony Kouzarides, ilmuwan yang memimpin penelitian dari Milner Therapeutics Institute Universitas Cambridge, dan juga Namshik Han, Kepala Penelitian Komputasi dan AI di Milner Therapeutics Institute mengklaim menemukan dua jenis obat yang mampu menghambat Covid-19.
Dalam penelitian ini, para ilmuan Inggris menggunakan 200 jenis obat-obatan, yang selama ini beredar di pasaran dan digunakan ahli medis untuk melakukan terapi penyembuan pasien Covid-19.
Berikut Proses Penelitian para ilmuan Inggris ini sehingga menemukan dua obat yang berpotensi menghambat dan menyebutkan orang yang terinfeksi Covid-19.
Jangan lupa subscribe, like dan share channel Youtube Sripokutv di bawah ini:
1. Setelah Identifikasi Kekuatan dan Kelemahan Virus Corona
Disebutkan oleh para ilmuan Inggris, Profesor Tony, jika Virus Corona saat berada di udara terbuka adalah jenis virus yang sangat lemah dan mudah pecah atau mati.
Saat berada di udara terbuka, jika terkena cairan kimia sejenis sabun atau pembersih, tetapi jika sudah masuk ke tubuh maka akan membuat replika-replikas samaran.
Secara umum, bentuk virus corona ini bulat, dilapisi beberapa protein di permukaannya. Terdiri dari protein membran, protein spike (penancap), protein E (cangkang) dan protein N (nukleokapsida).
Sebab, virus ini mahluk yang sangat lemah. Sabun bersifat surfaktan, sehingga kalau kita menggunakan sabun, maka protein membran pada virus akan terkoyak. Dan, suasana basa, akan menghancurkan RNA virus.
Tetapi jika sudah bersentuhan dengan cairan tubuh manusia, maka virus ini bisa membelah diri dengan cepat dalam bentuk protein-protein yang membuat replika-replika penyamaran ganda, sehingga sulit terdeteksi oleh sistem kekebalan tubuh.
Akibatnya, protein yang sudah terinfeksi virus ini tetap berkembang dan menyerang bagian-bagian lemak dari tubuh seperti paru-paru dan lainnya, tanpa ada perlawanan dari sistem kekebalaran tubuh.
Jangan lupa juga subscribe, like dan share channel Instagram Sriwijayapost di bawah ini:
Maka itu, Penelitian dikonsetrasikan kepada kemampuan 200 jenis obat-obatan ini menghambat dan menekan perkembangan protein yang dihasilkan dari infeksi Virus Corona tersebut.
"Dengan melihat ribuan protein yang berperan dalam infeksi SARS-CoV-2, baik secara aktif maupun sebagai konsekuensi dari infeksi, kami telah mampu membuat jaringan yang mengungkap hubungan antara protein ini,” kata Direktur Milner Therapeutics Institute, Profesor Tony Kouzarides, ilmuwan yang memimpin penelitian dari Milner Therapeutics Institute Universitas Cambridge, Sabtu (3/7/2021) kemarin.
2. Hasilnya Ditemukan Jenis Obat
Selanjutnya, dalam penelitian ini, para ilmuwan menggunakan kombinasi biologi komputasi dan pembelajaran mesin untuk membuat peta komprehensif protein yang terlibat dalam infeksi SARS-CoV-2.
Adapun, protein yang diambil dan diuji itu merupakan protein-protein dari jenis yang membantu virus masuk ke sel inang hingga protein yang dihasilkan akibat infeksi dan virus yang membuat replika-replika protein yang kemudian menyerang jaringan tubuh.
Lalu, berdasarkan pemeriksaan jaringan menggunakan kecerdasan buatan (AI) itu, para peneliti berhasil mengidentifikasi protein kunci yang terlibat dalam infeksi dan menyerang tubuh tersebut dan protein inilah yang menjadi target penelitian dan diuji seberapa kuatnya jika kemudian bersentuhan dengan obatan-obatan ini ketika di dalam tubuh orang yang terinfeksi virus.
Kemudian, para peneliti kemudian menganalisis jaringan saraf tiruan, di mana tim mengklasifikasikan jenis obat berdasarkan peran menyeluruh dari target mereka dalam infeksi SARS-CoV-2, yakni replikasi virus dan respons imun.
Jangan lupa subscribe, like dan share channel TikTok Sriwijayapost di bawah ini:
Selanjutnya, Mengambil subset dari yang terlibat dalam replika virus, para peneliti kemudian mengujinya menggunakan garis sel dari manusia dan primata non-manusia.
Hasilnya, dari 200 obat yang diuji itu, dua jenis obat proguanil (dan obat antimalaria) dan sulfasalazine (digunakan untuk mengobati rheumatoid arthritis dan penyakit Crohn), terbukti dapat mengurangi replikasi virus SARS-CoV-2 dalam sel.
3. Perlu Pengembangan
Hail serupa juga diungkapkan Namshik Han, Kepala Penelitian Komputasi dan AI di Milner Therapeutics Institute, yang menegaskan temuan ini adalah berkah dunia penelitian.
Selanjuntnya para penelti kemudian mengambil pendekatan berbasis data yang pada dasarnya memungkinkan algoritma kecerdasan buatan untuk menginterogasi kumpulan data.
"Sehingga kami kemudian memvalidasi temuan kami di laboratorium dan mengonfirmasi kekuatan pendekatan kami," jelas Han.
Maka itu, dia berharap sumber obat potensial ini, atau dua obat ini akan mempercepat pengembangan obat baru melawan Covid-19.
"Kami percaya pendekatan kami akan berguna untuk merespons dengan cepat varian baru SARS-CoV2 dan patogen baru lainnya yang dapat mendorong pandemi di masa depan," pungkasnya.
Tentunya hasil penelitian ini masih jauh dari sempurna, karena dua obat yang berpotensi mampu menghambat Covid-19 ini, masih perlu dikembangkan dan diteliti lagi.
Jangan lupa Like fanspage Facebook Sriwijaya Post di bawah ini:

Jika akan menjadi obat covid-19 di masa mendatang, maka menjadi tugas para peneliti untuk mengembangkan resep, mulai dari kadar yang dibutuhkan tubuh dan seberapa banyak dosis yang dibutuhkan tubuh sesuai dengan tinkat parah atau tidaknya kondisi pasien yang terinfeksi virus.
Waspadai Efek Samping Kedua Obat:
Efek sulfasalazine
Jika tidak digunakan sesuai dosis, maka akan menimbulkan efek besar bagi tubu hkita. Efeksi samping yang berbahaya.
Berikut ini beberapa efek samping Obat sulfasalazine yang perlu anda simak berdasarkan keterangan para peneliti dan ahli medis.
Yakni, diare, nyeri perut, sensitivitas terhadap cahaya/fotosensitif, kristaluria/kencing berpasir, oligospermia reversibel, warna kekuningan pada lensa mata, kulit, urine dan cairan tubuh lain, alopesia/kebotakan, demam, sakit sendi, muntah, serta sakit kepala.
Efek proguanil
Setiap obat pasti ada efeknya. Maka itu, ada efek samping saat sedang minum atovaquone/proguanil, periksakan diri ke dokter atau perawat segera:
- Yakni, Kulit melepuh, mengelupas, mengendur
- Menggigil, Kejang-kejang, Sulit menelan, Detak jantung cepat, Bintik-bintik merah, Kulit semakin sensitif terhadap sinar matahari, Kulit gatal, memerah atau berubah warna, Nyeri sendi atau otot
- Bengkak pada wajah, kelopak mata, bibir, lidah, tenggorokan, tangan, kaki, organ kelamin
- Kehilangan kontrol kantong kemih, dan Otot kejang atau tersentak secara ekstrem Bengkak pada kelopak mata atau sekitar mata, wajah, bibir, atau lidah
- Ruam, dan Mata merah, iritasi. Banyak lagi efek sampingnya, jika tidak menggunakan resep dokter dengan benar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/dua-obat-covid-19-hasil-temuan-ilmuan-inggris-diburu-ampuh-matikan-virus-peneliti-ingatkan-efeknya.jpg)