Berita Palembang
Panah Melesat Tepat Sasaran, Cerita Kasat Reskrim Polrestabes Palembang, 3 Bulan Sikat 70 Kasus 3C
Saya juga pengin nyenengi orang tua saya. Bapak saya polisi, saya juga ingin jadi polisi sebagai penerus. Oleh itu saya bulatkan tekad menjadi polisi
Penulis: Andi Wijaya | Editor: aminuddin
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - TAK MUDAH seperti apa yang kita bayangkan menjadi seorang Kasat Reskrim, apalagi sebagai panglima perang di Polrestabes Palembang. Menumpas para pelaku kejahatan 3C (curas, curat dan curanmor) di kota metropolitan ini merupakan amanah yang harus diembannya.
Kepada wartawan Sriwijaya Post, M Andy Wijaya, Bang Tri Wahyudi SH yang kelahiran Bogor, 14 Oktober 1977 dan lulusan Perwira Polri Sumber Sarjana (PPSS) tahun 2003 silam ini berkenan membagikan cerita perjalanan karirnya hingga menjabat sebagai Kasat Reskrim Polrestabes Palembang, saat ini.
Berikut petikan wawancaranya.
T : Abang mengawali cerita Bang. Abang bercita-cita menjadi polisi ini apa memang dari kecil ?
J : Jujur memang cita-cita menjadi polisi merupakan cita-cita saya dari kecil. Saya juga pengin nyenengi orang tua saya. Bapak saya polisi, saya juga ingin jadi polisi sebagai penerus. Oleh itu saya bulatkan tekad menjadi polisi. Lalu pendidikan SMA N 1 Purwokerto tahun 1996, saya ikut tes Akpol (Akademi Polisi), angkatan 99 kalau lulus kemarin.
Saat itu badan saya agak gemuk, tetapi waktu itu saya tetap berusaha keras melakukan persiapan fisik.
Namun, setelah tes demi tes saya lalui sampai terakhir di kota Magelang, saya pun sempat kecewa karena saya menderita penyakit tipes dan tumbang (gugur) lantaran seminggu sakit. Setelah itu saya memutuskan untuk kuliah di Universitas Pakuan, Bogor. Ambil Fakultas Hukum. Karena sempat kecewa tidak lulus Akpol, waktu semester 1, 2 dan tiga kuliah saya sempat males-malesnya.
Waktu pun berlalu, alhamdulilah saya lulus kuliah tahun 2002, umur saat itu 26 tahun, dan mikir mau jadi apa. Saat itu orang tua saya tidak ada lagi tawaran kepada untuk masuk polisi. Namun karena tekad saya sudah bulat, waktu itu saya kembali ikut tes polisi PPSS. Dan saya sempat bertanya kepada bapak saya ada tidak pak jalur lewat kuliah masuk polisi. Bapak pun bilang ada. Ditanya kamu serius mau ikut polisi. Hanya sekali kesempatan lagi tes polisi.
Saat tes PPSS Tahun 2002, seluruh Indonesia waktu itu ada 4 Polda yang diterima lulus sarjana hukum, dan akhirnya saya tes dari Palembang. Jadi ada pesan dari bapak saya, jika anak bapak mendapatkan ranking 1 pasti lulus. Alhamdulilah saya pun ranking 1 dari 40 orang. Dan berangkat ke Semarang, pendidikan selama 1 tahun, saat itu pendidikan PPSS masih bergabungan dengan Akpol 2003.
T : Abang menjadi Kasat Reskrim suatu kepercayaan dan amanah. Bagaimana perasaan bapak saat menerima jabatan itu?
J : Jujur awalnya saya kaget luar biasa, mendapatkan jabatan ini. Apalagi tipenya Polrestabes ini sudah naik, yang menjadi kasat Reskrim harus berpangkat AKBP. Saya berpikir mungkin saya diberikan jabatan ini dipandang pimpinan saya bisa dipercaya dan saya mampu. Ya saya jalani dengan kerja keras, bismillah amanah ini saya terima. Saya berupaya menjadi yang terbaik.
Menjadi Kasat Reskrim Polrestabes Palembang sendiri bagi saya seperti balik ke rumah sendiri karena asalnya saya jadi polisi dari Palembang. Dan anggota di sini semua mantan anggota saya dulu, mereka bekerja maksimal, terus membuat prestasi dalam bekerja, kita sama-sama kerja keras, jangan sampai ada pelanggar.
T : Abang menjadi Kasat Reskrim tentunya memiliki tantang yang luar biasa, apa sih yang abang lakukan untuk menumpas pelaku kejahatan?
J : Ya benar tantang yang luar biasa. Namun saya tentunya melakukan pemetaan terlebih dahulu di tempat titik titik rawan tindak kejahatan. Namun sebenarnya pemetaan sudah saya lakukan waktu saya pernah menjadi Kanitres di Polresta, tempat kejadian di Palembang ini sudah rata, dimana pun bisa terjadi tindak pidana.
Namun saya menyiasatinya dengan menguatkan petugas opsnal di lapangan. Nah diketahui tim Opsnal reskrim ini sendiri ada 4 tim, Pidum, ranmor, Tekab 134 dan Resmob. Petugas opsnal ini betul-betul kerja di luar (di lapangan-red), mereka bener-bener mencari para pelaku tindak kejahatan, seperti 3C yang terjadi di kota Palembang. Mere ka saya kasih kepercayaan yang tentunya harus di jaga, sama seperti saya menjaga kepercayaan Kapolda Sumsel dan Kapolrestabes, Palembang.
Mereka tidak elek-elekan, dan alhamdulillah kerja di lapang secara maksimal. Dan terbukti setelah saya duduk dini tiga bulan anggota berhasil mengungkap kasus dan pelaku kejahatan hampir 70 orang. Mulai dari curat, curat, curanmor, perlindungan anak, penggelapan uang umroh, dan lain lainnya. Dan alhamdulilah laporan yang masuk satu persatu bisa diselesaikan apalagi yang viral di medsos.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/kompol-tri-dan-istri.jpg)