Masa Suram Pedagang Ikan Salai di Muba, Terdampak Pandemi Penjualan Terjun 80 Persen

Pedagang ikan salai di Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin me ngeluhkan sepinya pembeli akibat terdampak pandemi covid-19

Penulis: Fajeri Ramadhoni | Editor: Azwir Ahmad
sripoku.com/fajeri
Nurbaiti salah seorang pedagang ikan salai di Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin mengaku sepi pembeli akibat terdampak pandemi Covid-19. 

SRIPOKU.COM, SEKAYU - Dampak Pandemi Covid-19 begitu terasa bagi pelaku UMKM di kabupaten Muba, khususnya pedagang ikan salai.

Merosotnya daya beli masyarakat berdampak pada penjualan makanan khas daerah Sumsel ini. Karena pembeli yang jauh berkurang omzet penjualan pun terjun  bebas hingga 80 persen.

Salah satu penjual ikan salai di daerah Sekayu, Kabupaten Muba, Nurbaiti mengaku, semenjak pandemi dirinya merasakan betul sepinya pembeli terutama yang datang dari luar Sekayu.

"Dulu sehari bisa dapat Rp 5-6 juta (sebelum Pandemi). Tapi sekarang masuk Rp1 juta pun tak sampai. Bahkan pernah tak ada yang beli sama sekali dalam sehari," ujarnya.

Selain itu, untuk mendapatkan bahan baku ikan pun juga sulit. Karena sekarang cari ikan pun susah.

“Ikan juga sekarang sudah terutama jenis ikan baung. Kalau membeli di pasar bisa Rp80 ribu per kilo dan kalau dijual kembali setelah diasapi bisa Rp300 ribu per kilo,”ungkapnya.

Namun jenis ikan yang cukup mahal. Bahkan saat ini stoknya kosong untuk ikan salai. Selain baung dan salai, ia juga menjual gabus, seluang, dan sebagainya.

“Saya berharap pemerintah bisa memperhatikan pelaku UMKM seperti dirinya. Apalagi menjual makanan khas yang bisa mengangkat nama daerah, bantu promosi kalau ada acara bantu dipamerkan,”tutupnya.

Sementara itu, Iwan Taruna pembeli salai yang ketika melintas mengaku bahwa ia sering membeli ikan salai disini, walaupun harganya lebih tinggi dari tempat lain namun kualitas tetap terjaga.

“Kalau harga tidak masalah karena kualitas disini bagus dan diasap dan tanpa pengawet. Musim covid seperti ini, pemerintah harus bisa mendukung UMKM seperti ini dalam masa pandemi agar usahan tidak mati karena kurangnya perhatian seperti modal dan promosi,”ujarnya. (dho)

Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved