Breaking News:

Berita Palembang

Aksi Teror Bom Kembali Terjadi, PWNU Sumsel Minta Bedah Akar Permasalahan Terorisme hingga ke Hulu

menyasar kaum milenial baik pelajar hingga mahasiswa yang kaidah dan pemahamannya terhadap ajaran agama sangat lemah, terlebih mereka yang belajar

Dok Pribadi
Ramlan Holdan 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Menyikapi aksi teror bom bunuh diri yang kembali lagi marak dengan menyasar sejumlah fasilitas publik kita diharapkan tak cukup sebatas mengutuk.

Tapi harus bisa membedah akar persoalan ini sampai ke hulunya, termasuk kenapa serangkaian peristiwa ini dilakukan oleh kalangan milenial. 

"Perlu dibedah terutama dari sisi pendidikan agama, apa yang salah karena tidak ada satu agamapun yang mengajarkan bahkan membenarkan tindak kekerasan terhadap sesama," imbuh Mustasyar Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama (PWNU) Sumsel, Ramlan Holdan yang dimintai tanggapan terkait aksi teror bom bunuh diri yang terjadi beberapa hari terakhir di sejumlah daerah di Indonesia, Jumat (2/4/2021).

Ditambahkan Ramlan, dengan menyasar kaum milenial baik pelajar hingga mahasiswa yang kaidah dan pemahamannya terhadap ajaran agama sangat lemah, terlebih mereka yang belajar di sekolah umum. 

"Ini kian diperparah dari hasil survei dari sebuah lembaga survei independen yang sempat saya baca menunjukkan hampir 60 persen guru agama telah terpapar bibit-bibit intoleransi.

Artinya yang perlu juga dibenahi disini sistem pendidikan kita tidak hanya pembelajaran tentang akidah syariah melainkan juga soal akhlak yang harus lebih didalami lagi dengan silabus-silabus yang ada," imbuh Ramlan yang juga Ketua DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sumsel ini lugas. 

Hal lain yang juga tak kalah pentingnya, menurut Ramlan yang santer disebut-sebut bakal diusulkan menjadi Calon Wakil Bupati (Cawabup) Muara Enim ini peran alim ulama yang juga mestinya mengikuti perkembangan kemajuan tekhnologi.

Karena kaum milenial dalam kesehariannya lebih banyak menghabiskan waktunya berkutat dengan gadget dan media sosial. 

"Terlebih lagi mereka yang belajar di sekolah umum belajar agama dengan skup dan waktu yang sangat terbatas.

Sehingga kurang mendapatkan pemahaman mengenai pelajaran agama yang dikaitkan dengan pemahaman agama dengan konteks keberagaman dalam kehidupan berbangsa bernegara di Republik Indonesia dengan Pancasila sebagai dasar negara ini," sebutnya. 

Selain itu, peran pemerintah daerah (pemda) yang mestinya menyisir jangan lagi ada guru-guru agama baik di sekolah semua tingkatan hingga di kampus perguruan tinggi yang justru mengajarkan sikap-sikap intoleran disertai dengan doktrin-doktrin tertentu untuk tak menghormati sesama penganut agama.

Padahal, dan konteks agama manapun terutama agama islam mengajarkan akhlak dan budi pekerti yang baik dengan sesama manusia. 

"Terakhir, peran keluarga juga menjadi penting mengingat dari pengalaman yang ada sebagian besar pelaku bom bunuh diri ini, terpapar paham radikalisme dari luar karena sifatnya yang tertutup terhadap keluarga," pungkasnya.(Arief/TS)

Editor: Welly Hadinata
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved