Berita International

Pasukan Militer Eritrea Gunakan Tangan Besi, Bantai 800 Rakyatnya Sendiri, Lebih Kejam Dari Korut

TPLF adalah organisasi politik paling berpengaruh di Ethiopia selama tiga abad, sampai Perdana Menteri Abiy Ahmed berkuasa pada tahun 2018.

Editor: Adrian Yunus

SRIPOKU.COM  - Tragedi Kemanusian Kembali terjadi kali ini kabar dari negara kecil di Benua Afrika.

Militer Eritrea dilaporkan membunuh warganya sendiri yang melarikan diri  ke Kota Axum, Ethiopia, tetangga Eritrea.

Dilansir Kalbar-Terkini.com dari Associated Press (AP), Jumat, 26 Februari 2021, pembunuhan massal ini merupakan temuan pihak Amnesti International Ethiopia lewat sebuah laporan paling baru yang antara lain juga berdasarkan kesaksian  40 orang.

Dilaporkan dari Nairobi, Ibu Kota Euthopia,   para tentara   menembak mati warga sipil saat mereka ketika  melarikan diri, mengantre, dan menembak mereka dari belakang.

Ribuan pria yang selamat, dipukuli, dan menolak permintaan warga yang berduka memakamkan kerabat, saudara atau teman mereka.

Tragedi Kemanusiaan ini diangap melebihi keganasan rezim pemerintah Kim Jong-Un,korea utara

Sedikit informasi yang diketahui tentang negara itu, namun kekejaman yang dilakukan pemerintah Kim Jong-Un tidak pernah terdengar lebih buruk dari negara ini.

Negara itu adalah Ethiopia, yang dituduh membantai rakyatnya sendiri pada November 2020, namun ketahuan baru-baru ini.

ISIS mengeksekusi 30 orang asal Ethiopia
ISIS mengeksekusi 30 orang asal Ethiopia (AP Photo)

Menurut 24h.com.vn, pada Minggu (28/2/21), Pembantaian itu terjadi di kota Aksum, wilayah Tigray, Ethiopia Utara.

Dunia bahkan tidak mengetahui insiden ini, karena pembantaian tersebut ditutupi hingga Januari 2021.

INDONESIA Pun Jadi Korban, Hacker KORUT Garong Duit Rp18,3 Triliun: Diburu FBI

 Xi Jinping Lebih Misterius dari Kim Jong-Un, Presiden China Sama Sekali Tak Miliki Biografi

 Kim Jong-un Kembali Bentuk Pasukan Wanita Muda Cantik untuk Layani Dirinya, Ini Alasannya

Pembantaian tersebut mencerminkan situasi rumit di Ethiopia.

Tentara pemerintah melancarkan kampanye militer untuk menghapus pengaruh kekuatan oposisi yang disebut Front Pembebasan Tigray (TPLF).

TPLF adalah organisasi politik paling berpengaruh di Ethiopia selama tiga abad, sampai Perdana Menteri Abiy Ahmed berkuasa pada tahun 2018.

Ahmed mengajukan sebuah kontradiksi, yang menyebabkan konflik etnis yang mendalam.

Pada November 2020, Tentara Ethiopia (ENDF), yang didukung oleh tetangganya Eritrea, membuka kampanye militer melawan wilayah Tigray.

Biro 121 Pasukan Rahasia Korea Utara
Biro 121 Pasukan Rahasia Korea Utara (Vox)

Salah satu pembantaian paling mengerikan terjadi di kota Axum pada 28-29 November 2020, hari yang sama ketika tentara Ethiopia mengumumkan penguasaan ibu kota Mekelle.

Amnesty International menuduh tentara Eritrea membunuh sekitar 800 warga sipil dalam 24 jam di Axum, menurut Reuters.

Pihak Eritrea membantah tuduhan tersebut dan Ethiopia mengkonfirmasi kematian warga sipil, tetapi tidak sejauh laporan itu.

"Amnesty International menerbitkan laporan itu tanpa mengumpulkan informasi apa pun dari Eritrea," kata Menteri Informasi Eritrea Yemane Meskel.

Amnesty International mewawancarai 41 saksi, menggambarkan adegan pembantaian di Axum. Pembantaian itu terjadi setelah angkatan bersenjata TPLF mundur dari kota.

Tentara Eritrea menggeledah setiap rumah, membawa keluar pemuda dan pemudi yang tersisa di Axum untuk menembak di tempat. Penjarahan itu terjadi di luar kendali, menurut Reuters.

Seorang reporter Reuters juga mewawancarai seorang pria yang tinggal di Tigray.

Dia mengatakan dia menyaksikan secara langsung tentara Eritrea menembak dan membunuh enam anggota keluarganya pada 28 November, termasuk seorang remaja berusia 17 tahun dan seorang pria berusia 78 tahun.

Korea Utara Celaka, Hancur Karena Tutupi Informasi Penyebaran Virus Corona, 5 Orang Dilaporkan Tewas
Korea Utara Celaka, Hancur Karena Tutupi Informasi Penyebaran Virus Corona, 5 Orang Dilaporkan Tewas (BBC)

"Segala sesuatu yang keluarga kami telah lenyap, menjadi tempat berkabung," kata pria itu melalui wawancara telepon.

Seorang saksi mata mengatakan tentara Eritrea menembaki siapa pun yang mereka lihat.

"Seorang pria mengangkat tangannya untuk menyerah, keluar dari sebuah rumah, langsung ditembak di kepala oleh tentara Eritrea, duduk di kendaraan lapis baja," kata saksi itu.

Seorang pria lain berkata dia melihat melalui jendela, ada tentara Eritrea menempatkan enam orang dalam garis vertikal, ditembak dari belakang dengan senapan mesin, banyak orang pingsan sesaat.

Amnesty International mengumpulkan nama sekitar 240 orang yang tewas dalam pembantaian itu. Korban tewas di Axum diperkirakan 800 orang.

Hanya setelah 30 November 2020, setelah tentara Eritrea menarik diri dari Axum, penduduk setempat dapat mengumpulkan dan menguburkan yang tewas.

Suku Surma Ethiopia
Suku Surma Ethiopia (kolase)

Ratusan mayat dimakamkan di dua gereja di kota itu, termasuk Arba'etu Ensessa dan Axum Tsion St. Mary.

Dunia tidak mengetahui tentang pembantaian di wilayah Tigray, sampai para korban selamat pada Januari 2021 dan menceritakan kejadian tersebut.

Pada 26 Februari, Departemen Luar Negeri AS meminta tentara Eritrea untuk segera mundur dari Tigray.

Sementara itu, Ethiopia menegaskan bahwa pihaknya akan terus melakukan penyelidikan terkait dugaan kejahatan di daerah tersebut

Sumber : Berbagai Sumber

Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved