Kudeta Myanmar

Industri Perhiasan Giok Myanmar Kena Sanksi AS, Militer Keluarkan Ancaman untuk Demonstran

Selain memberikan sanksi sejumlah jenderal Myanmar, AS menjatuhkan delapan jenis sanksi termasuk industry perhiasan batu giok.

Editor: Sutrisman Dinah
tribunnews.com
Seorang pengunjukrasa mengacungkan jari tengan sambil memegang poster Panglima Jenderal Senior Min Aung Hlaing. 

SRIPOKU.COM --- Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) menandai delapan penerima sanksi terhadap Menteri Pertanan Myanmar dan perusahaan industry perhiasan dan giok. Namun AS tidak menjatuhkan sanksi terhadap perusahaan yang dikendalikan oleh militer Myanmar.

Sebelumnya, AS telah menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah jenderal militer Myanmar yang terlibat kudeta terhadap pemerintahan sipil 1 Februari lalu.

Junta militer pimpinan Jenderal Min Aung Hlaing menangkap pimpinan partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) Aung  San Suu Kyi (73) dan Presiden Win Mynt. Dikabarkan, Pimpinan de facto Myanmar Suu Kyi dalam status tahanan rumah.

Presiden AS Joe Biden telah menyetujui perintah eksekutif untuk menjatuhkan sanksi terhadap para pemimpin kudeta Myanmar, Rabu lalu. 

Baca juga: Polisi Myanmar Berbalik Dukung Demonstran Penentang Kudeta Militer

Baca juga: MYANMAR RUSUH, Polisi Lepas Tembakan Halau Massa Anti Kudeta Militer: Jam Malam 20.00-04.00

Seperti dikutip Tribunnews.com dari BBC Indonesia, sanksi terhadap para pemimpin militer, keluarganya, dan bisnis yang terkait dengan mereka.

AS mengambil langkah memblokir akses militer terhadap dana pemerintah Myanmar yang disimpan di AS senilai US$1 miliar atau Rp14 triliun.

Sanksi itu dijatuhkan setelah seorang perempuan yang tertembak di kepala saat berunjuk rasa menentang kudeta meregang nyawa di sebuah rumah sakit di ibu kota Napyidaw.

Seorang korban lainnya, Mya Thwe Thwe Khaing terluka Selasa lalu, ketika polisi berupaya membubarkan pengunjukrasa menggunakan meriam air, peluru karet dan peluru tajam.

Baca juga: JOE BIDEN Unjuk Gigi, AS Mulai Bertindak, Bekukan 1 Miliar Dolar Aset Myanmar

Biden mengatakan kekerasan terhadap pengunjuk rasa tidak dapat diterima.

Pegiat HAM mengatakan luka yang dialami perempuan itu konsisten dengan luka akibat peluru tajam.

Ribuan ribu turun ke jalan berunjuk rasa menentang kudeta sejak pekan lalu yang menggulingkan Aung San Suu Kyi, pemimpin de facto Myanmar.

Aksi unjukrasa memenuhi jalan di sejumlah kota di negara yang juga dikenal sebagai Burma, meskipun larangan kerumunan dan jam malam diterapkan baru-baru ini.

Panglim Militer Jenderal Win Aung Hlaing, telah mengeluarkan larangan keras terhadap aksi demonstrasi dan memberlakukan jam malam sejak Rabu lalu.

Sejumlah dilaporkan mengalami cedera serius imbas dari aksi polisi yang memperkuat penggunaan kekuatannya, namun sejauh ini tak ada korban jiwa.

Presiden AS Joe Biden menyerukan agar kudeta dibatalkan dan menuntut pembebasan pemimpin NLD Suu Kyi.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved