Media Sosial
Susi Pudjiastuti Klarifikasi Tuduhan Ingin “Tenggelamkan” Presiden Joko Widodo
Mantan Menteri Kelautan Susi Pudjiastuti mengklarifikasi tudingan yang memojokkan pemerintahan Presiden Joko Widodo.
SRIPOKU.COM --- Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti (56) sepekan terakhir mendapat serangan netizen pengguna jejaring media social, khususnya Twitter. Susi dianggap secara konsisten menyerang kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Pastinya, mantan Menteri Kabinet Presiden Joko Widodo periode 2014-2019 itu membantah tudingan itu. Bantahan itu disampaikan dalam wawancara khusus di stasiun televisi nasional KompasTV yang dipandu presenter Rossiana Silalahi.
Seperti dilansir Kompas.tv Rabu (10/02/2021), Susi mengklarifikasi hal tersebut. Ia membantah tudingan netizen tersebut.
• Susi Pudjiastuti Sampai Blokir Twitter Sandi karena Pilpres 2019, Unblock Usai jadi Menteri Jokowi
• Postingan Donald Trump Dihapus Twitter Berbau Glorifikasi, Sayangnya Sudah Keburu Viral
"Tidak, tidak ada (melawan Pak Jokowi). Saya mengimbau, memohon bapak untuk mengimbau. I will ask Pak Jokowi to do anything that is good for people. That's it! " kata Susi Pudjiastuti seperti dikutip KompasTV.
Tudingan itu bermula dari cuitan Presiden Jokowi melalui Twitter, 7 Februari lalu, terkait pandemi Covid-19 yang belum berakhir hingga memunculkan rasa bosan, lelah, dan sedih. Cuitan disampaikan oleh Jokowi pada Minggu, 7 Februari 2021.
"Setahun dalam selubung pandemi, tentu ada rasa bosan, lelah, dan sedih. Kita sama merindukan suasana normal, berkegiatan seperti sediakala, dan tidak dicekam ketakutan. Mari, kita sama berjuang untuk mengakhiri pandemi ini dengan disiplin ketat menjalankan protokol kesehatan," cuit Jokowi, hari Minggu lalu.
• Ditanya Soal Kesediaannya Jadi Menteri Lagi, Susi Pudjiastuti Beri Jawaban Buat Najwa Shihab Kaget
• Susi Pudjiastuti Memviralkan Video Ceramah Mahfud MD Bertopik Rakyat dan Pemerintah yang Rusak
Susi pun memberi tanggapan atas cuitan itu, dan ia meminta agar Jokowi untuk menghentikan ujaran kebencian sehingga masyarakat tidak merasa disulitkan pandemi Covid-19.
"Mohon dibantu dengan himbauan dari Bapak Presiden untuk menghentikan hate speech .. ujaran kebencian yg baik yang mengatasnamakan agama, Ras/Suku, Relawan dll ... Pandemic sudah cukup membuat depress ekonomi sosial juga kesehatan jiwa masyarakat semua," bunyi cuitan Susi Pudjiastuti pada hari yang sama.
Menurut Susi, ia menyampaikan imbauan kepada Presiden Jokowi, tentu (bahasanya) berbeda dibandingkan sebagai pejabat Negara dan sebagai rakyat kebanyakan.
Susi menganggap bahwa ujaran kebencian harus dihentikan demi menggembirakan hati.
"Karena Pak Presiden bilang ini satu tahun kita sedang bersedih. Nah, untuk menggembirakan ya kurangin dong hate speech. Kita kan tidak bisa, kita siapa? Kalau presiden yang mengimbau pasti beda. Beliau kan orang tertinggi di Negeri ini. Kalau imbauan beliau, ya saya memohon kepada orang yang tepat dong," kata Susi Pudjiastuti menjawab pertanyaan Rossiana Silalahi.
Cuitan Susi Pudjiastuti menjadi “panas' lantaran mendapat balasan dari mantan politisi Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean. Ferdinand menilai, tidak seharusnya Susi Pudjiastuti berkomentar negative tentang Presiden.
Susi mengatakan mengatakan, cuitan itu sesuai dengan apa yang disampaikan Presiden Jokowi, yakni merindukan suasana normal.
"Justru relate, bukan tentang vaksin Covid-19. Saya me-refer tentang suasana rindu suasana normal, orang lelah, terus ditambah hate speech yang hanging around. Kan (hate speech) harus segera diselesaikan," kata Susi Pudjiastuti.
Susi Pudjiastuti dikenal publik setelah menjadi Menteri KKP periode 2014-2019. Namun setelah tak lagi menjabat sebagai menteri, Susi tetap menjadi perbincangan di ruang public. Terutama di media sosial Twitter.