Berita PS Palembang

Kisah Cinta The Legend PS Palembang, Indra Sistiyono Bertemu Istri Saat Patah Kaki

Kala itu ia tengah menjalani terapi lantaran mengalami patah kaki, usai tim yang diperkuatnya menghadapi Persija Jakarta.

Penulis: Abdul Hafiz | Editor: RM. Resha A.U
SRIPOKU.COM / Abdul Hafiz
Dirtek PS Palembang, Indra Sistiyono (paling kiri) dan istrinya Prof Dr Yulia Tri Samiha MPd (Sekretaris PS Palembang, paling kanan). 

Laporan wartawan Sripoku.com, Abdul Hafiz

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Indra Sistiyono merupakan legenda dari PS Palembang, klub asli Wong Kito.

Ia merupakan pemain jebolan era Galatama.

Indrasis, sapaan akrabnya, mulai melambung saat ia menjadi Asisten merangkap Kapten Tim PS Palembang tahun 1999.

Ia pun berbagi cerita saat memperkuat PS Palembang, sampai akhirnya bertemu tambatan hati.

Tahun 1989 menjadi awalnya mengenal Yulia Tri Samiha.

Saat itulah pertama ia bertemu dengan Yulia untuk pertama kalinya, yang saat ini menjadi Sekretaris Umum PS Palembang tersebut.

Momen Cristiano Ronaldo Saat Juventus Vs AS Roma, Bola Tendangannya Memantul ke Tiang, Wasit Tertawa

Presiden PS Palembang Panggil SSB yang Anak Didiknya Lolos Seleksi, Ratu Dewa: Satukan Persepsi

Kala itu ia tengah menjalani terapi lantaran mengalami patah kaki, usai tim yang diperkuatnya menghadapi Persija Jakarta.

"Waktu itu tahun 1989, saya patah kaki lawan Persija Jakarta main di Piala Walikota Padang. Jadi kaki saya patah kemudian saya pulang duluan. Kemudian saya belajar berjalan dan pakai tongkat. Istri saya waktu itu main sepatu roda nanya nanya asal dari mana? Kenapa kakinya? Ya saya jawab dari Surabaya patah kaki karena main bola. Eh lama-lama kepincut. Lama-lama jadi cinta lokasi," ungkap Indrasis yang akrab disapa Wayang kepada Sripoku.com.

Indrasis saat itu memang menginap di Mess Pusri yang terletak di komplek PT Pusri.

Dan kebetulan juga, istrinya saat itu tinggal di sana karena orangtuanya merupakan karyawan di sana.

"Kebetulan tinggalnya sebelahan dengan Mess Pusri waktu itu Komplek Pusri dalam. Istri saya itu tinggal di komplek. Nama orangtuanya Pak Ibrahim Lakoni (Kabag Instrumen PT Pusri saat itu)," ujarnya yang juga Direktur Teknik PS Palembang itu.

Sambil tersenyum sipu sedikit malu, pria berkumis kelahiran Surabaya, 21 November 1965 mengaku enjoy-enjoy saja hidup dan memiliki satu anak bernama Sami Laudzag Anisah.

Mengenal Sosok Indra Sistiyono, Sang The Legend yang Bawa PS Palembang Juara Divisi II

Presiden PS Palembang Undang 103 Pemain Lolos Seleksi, Ternyata Ini Tujuannya

"Yang jelas kita saling percaya. Itulah kuncinya kebahagiaan. Kebetulan waktu itu saya tinggal terus main bola. Dianya di rumah. Habis itu saya juga akhirnya ditinggal sampai sekolah ngambil titel," ungkapnya.

Ia juga sering meluangkan waktu bersama keluarga, tak harus di hari libur.

Hal itu yang menjadikan keluarganya masih harmonis sampai sekarang.

"November tahun kemarin sempat kami merayakan ultah pernikahan ke 27 itulah akhrinya nyonya gak tahu kalau dihadiah mobil (Fortuner) yang dipake itu. Diadakan di Gemericik Jl Demang Lebar Daun," kata Wayang yang hobil mancing.

Acara di situ dengan mengundang keluarga besarnya istri, keponakan-keponakan dan di situlah Yulia mendapat suprise hadiah mobil yang sudah dihiasi oleh dealer Toyota.

"Supriselah. Enjoy gak neko-neko. Kalau saya kepingin mancing ditegur, kalau ada kerjaan diajak pergi, saya ngalah. Gak ikut mancing, nganter kemana-kemana. Kalau lagi nganggur baru saya mancing. Kalau lagi pingin ayo minggu kita ke Jakarta bawa mobil, kita pergi. Nanti Senin kita pulang. Saling terbukalah," katanya.

Melegenda di Palembang, Indrasis rupanya memiliki masa kecil di Surabaya.

Tiga Pemain Asing Lepas, Kontrak Aji Santoso di Persebaya Habis Akhir Desember

Pemain dan Pelatih Persebaya Bisa Gajian Kurang dari 25 Persen, Ini Sebabnya

Ia mengaku banyak teman karib di sana, sampai-sampai saat naik becak, si abang becaknya enggan dibayar karena mengenalnya dengan baik.

"Mas Indra apa kabar langsung diajak ayo diantar kemana. Kayak dihargailah. Kalau nonton bioskop cukup pake kartu identitas Persebaya, gratis. Nonton Srimulat. Kalau di sini gak tahu orang siapa saya. Cuma tahu Wayang. Makanya ada yang mengira saya orang Bali, padahal saya bukan Wayan, melainkan Wayang," jelasnya.

Sumber: Sriwijaya Post
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved