Breaking News:

News Video Sripo

Video Faktor Ekonomi Picu Perceraian di Muba , Meningkat 20 Persen Selama Pandemi

Korik menjelaskan, selama pandemi banyak sekali masyarakat yang mengajukan perceraian dipicu sulitnya ekonomi.

Penulis: Fajeri Ramadhoni | Editor: Budi Darmawan

SRIPOKU.COM, SEKAYU - Masa pandemi Covid-19 dalam setahun belakangan menambah satu lagi permasalahan sosial di masyarakat, salah satunya perceraian. Pengadilan Agama Sekayu sendiri mencatat selama masa pandemi angka perceraian meningkat sebanyak 20 persen.

Hal ini tak lain disebabkan faktor perekonomian yang memicu retaknya rumah tangga dan harus berakhir pada perceraian. Demikian yang disampaikan kepala Pengadilan Agtama (PA) Sekayu, Korik Agustiani, S.Ag, MAg saat ditemui Sripo di ruang kerjanya, Kamis (4/2/2021).

Korik menjelaskan, selama pandemi banyak sekali masyarakat yang mengajukan perceraian dipicu sulitnya ekonomi.

"Faktor ini tak lain karena daya beli menurun, terjadinya PHK, krisis pendapatan yang berdampak dalam kehidupan berumah tangga," ujarnya.

Otomatis karena kurangnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ditambah anak yang sekolah maka itu faktor ekonomi menjadi penunjang adanya perceraian.

"Untuk tahun 2020 kemarin, Pengadilan Agama Sekayu mencatat faktor perekonomian ini berada di urutan ketiga, yakni sebanyak 34 perkara. Jelas ini menunjukkan menyurutnya perekonomian akibat pandemi sangat berdamapak dalam kehidupan berumah tangga," jelasnya.

Lanjutnya, namun tetap saja yang paling banyak adalah faktor perselisihan atau pertengkaran. Faktor pertengkaran ini dipicu dari permasalahan sepele seperti tidak puas dengan pelayanan istri, tidak nyaman tinggal serumah dengan mertua, perbedaan adat istiadat, ada juga faktor orang ketiga, dan sebagainya.

"Padahal jika dari awal bisa dikompromikan dan tidak akan berujung pada perpisahan. Apalagi faktor ekonomi, disanalah keimanan kita diuji," terangnya.

Menurutnya, faktor ekonomi ini harus menjadi perhatian serius dan perlu pendewasaan bersikap nagar tidak cepat mengambil keputusan.

"Tidak mungkin orang yang sudah menikah itu faktor cinta saja, mungkin selama pacaran okelah, tapi mereka belum tahu bagaiman kehidupan rumah tangga itu. Makanya kita harus merasa cukup dan senantiasa bersyukur," ungkapnya.

Terlepas dari itu semua, faktor yang paling penting adalah keimanan kepada tuhan. Jika pasangan suami istri memiliki hati yang teguh dan iman yang kuat, pasti bisa mempertahankan keutuhan berumah tangga di tengah keterbatasan ekonomi.

"Kalau berbicara peningkatan, tahun ini ada sekitar 20 persen. Paling banyak kasus cerai gugat dan cerai talak. Untuk cerai gugat kami putus 568 perkara, tinggal 2 perkara lagi. Sedangkan cerai talak ada 109 perkara yang sudah kami putus sisanyanya 4 perkara," jelas Korik.

Dari data tersebut, diketahui mayoritas dari perempuan atau pihak istri yang banyak mengajukan perceraian. Karena yang bermasalah ini dari pihak suami karena dinilai tidak bertanggung jawab soal nafkah dan pihak istri merasa dirugikan.

"Imbauan kepada masyarakat kita terutama yang muslim sebelum mengajukan perceraian kami harapkan untuk meminta masukan atau nasihat kepada orangtua atau kepada alim ulama dan tokoh masyarakat untuk meminta masukan. Suapaya nanti jangan sampai menyesal. Jadi kalau betul-betul kalau sudah memang tidak tahan lagi pertimbangannya damai, kalau memang sulit ya harus," ujarnya. (dho)

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved