Musibah Gempa Bumi
BELUM Lagi Dibangun, Gempa Kembali Menguncang, Bangunan Ambruk Kembali: Lansia Meninggal Kaget
Pusat gempa berkedalaman 18 kilometer. Gempa ini merupakan gempa susulan terbesar sejak gempa dahsyat 6.2 pada 15 Januari 2021 dini hari.
Sirajuddin mengungkapkan pihaknya belum mengetahui penyebab meninggalnya warga Majene tersebut.
"Kayaknya orang itu meninggal dunia karena kaget, bukan karena reruntuhan," ujarnya.
Anak almarhum, Nanriadi Kasman, yang dikonfirmasi mengaku saat terjadi gempa dia langsung mengevakuasi ibunya dari tenda puskesmas darurat.
"Pas gempa saya langsung angkat ibu saya untuk evakuasi keluar dari tenda puskesmas darurat, tiba-tiba dia lemas, saya goyang tidak ada respons, saya letakkan kembali ternyata dia sudah tidak bernapas," kata Kasmar kepada wartawan.
Hasil analisis BMKG menunjukkan gempabumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M=5,1. Sebelumnya dirilis magnitudo 5.2 SR.
Episenter gempabumi terletak pada koordinat 2,99 LS dan 118,86 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 6 km arah barat laut Majene, Sulawesi Barat pada kedalaman 17 km.
Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal akibat adanya aktivitas sesar lokal.
Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempa bumi memiliki mekanisme pergerakan mendatar naik ( Oblique Thrust Fault ).
Gempa susulan sebelum gempa hari ini terjadi 31 Januari 2021 sebesar 4.4 SR, pukul 20:13:13 WITA.
Kekuatan gempa ini mencapai III MMI di Majene dan Mamuju dan Mamasa II MMI.
Sebelumnya Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika ( BMKG ), Daryono mengaku heran karena Gempa Majene yang diawali gempa 5.9 pada 14 Januari 2021 dan puncaknya 6.2 pada 15 Januari 20219, miskin gempa susulan.
Seharusnya gempa kuat di kerak dangkal atau shallow crustal earthquake dengan M 6.2, semestinya diikuti oleh banyak aktivitas gempa susulan.
"Jika kita bandingkan dengan kejadian gempa lain sebelumnya dengan kekuatan yang hampir sama, biasanya pada hari kedua sudah terjadi gempa susulan sangat banyak, bahkan sudah dapat mencapai jumlah sekitar 100 gempa susulan," jelas Daryono.
Daryono mengatakan saat gempa utama, terjadi pergeseran (slip) secara tiba-tiba dua blok batuan. Sedangkan pada saat gempa susulan adalah proses mencari kesetimbangan baru, termasuk upaya kembali ke posisi semula. Jadi gempa susulan itu lazim haruss terjadi pasca gempa besar.
Daryono menduga ada dua kemungkinan yang menyebabkan fenomena rendahnya produksi gempa susulan di Majene, Sulawesi Barat ini.
Salah satunya kemungkinan akibat terjadinya proses disipasi, yakni medan tegangan zona gempa sudah habis, sehingga kondisi tektonik kemudian menjadi stabil dan kembali normal.