Breaking News:

Sempat Tak Beroperasi Karena Alasan Ini, Batik Air Kembali Layani Penumpang

Semua maskapai yang biasa melayani penerbangan di Bandara Silampari Kota Lubuklinggau menghentikan sementara layanan akhir Januari kini kembali dibuka

Editor: adi kurniawan
TRIBUNSUMSEL.COM/Eko Hepronis
Kepala UPBU Bandara Silampari Mega Hardiansyah didampingi Kasubsi Teknik Operasi Keamanan dan Pelayanan Darurat, Tri Pono Basuki Wijiyanto membenarkan, maskapai Batik Air akan beroperasi kembali Febuari ini. 

SRIPOKU.COM, LUBUKLINGGAU -- Setelah semua maskapai yang biasa melayani penerbangan di Bandara Silampari Kota Lubuklinggau Sumatra Selatan (Sumsel) menghentikan sementara layanan akhir Januari kemarin.

Informasi terbaru maskapai Batik Air yang tergabung dalam Lion Group telah mengonfirmasi kembali melayani penumpang terhitung mulai Februari ini.

Kepala UPBU Bandara Silampari Mega Hardiansyah didampingi Kasubsi Teknik Operasi Keamanan dan Pelayanan Darurat, Tri Pono Basuki Wijiyanto membenarkan, maskapai Batik Air akan beroperasi kembali Febuari ini.

"Terakhir Batik Air kami dapat infonya mereka akan operasi di bulan ini seminggu tiga kali, Rabu, Jumat, dan Minggu," ungkapnya pada wartawan, Senin (1/2/2021).

Sementara untuk Nam Air dan Wings Air belum ada kabar hingga saat ini kapan kedua maskapai ini akan terbang lagi, untuk sementara yang terbang hanya Batik Air.

"Sekarang penerbangan kita hanya Batik Air tujuan Jakarta, untuk jadwal keberangkatan dan kedatangan di jadwal  masih sama seperti yang lama-lama," ujarnya.

Baca juga: Gara-gara Bawa Selingkuhan ke Rumah, Seorang Suami Justru Bakar Istri, Ini Kronologinya

Baca juga: Mengenal Syamsuddin Ketua Kontingen PON Sumsel dan Ketua Pelatda, Ternyata Bukan Orang Sembarangan

Mega mengungkapkan, alasan pertimbangan maskapai Batik Air kembali beroperasi mungkin karena pertimbangan permintaan kebutuhan transportasi udara di Kota Lubuklinggau saat ini.

"Yang saya tangkap demikian cuman sekarang frekuensinya menurun, bahkan kemarin di minggu bulan januari tidak beroperasi sama sekali," ungkapnya.

Menurut Mega, alasan maskapai kemarin  tidak beroperasi karena penumpang turun hingga dibawah 50 persen lebih, sehingga maskapai memilih lebih baik tidak terbang.

"Penurunan penumpang ini menurut pendapat saya karena opini masyarakat, salah satu adanya tragedi Sriwijaya Air SJ 182, atau juga karena penggunaan antigen tujuan Jakarta lebih mahal ketimbang rapid biasanya yang hanya Rp. 150 ribu menjadi Rp. 250 ribu," ujarnya.

Mega menyampaikan, untuk masalah penerapan GeNoSe masih menunggu informasi lebih lanjut dari Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

"GeNoSe sampai saat ini kita belum memilik fasilitas tersebut, sejauh ini kita masih menerapkan Rapid Test Antigen untuk tujuan Jakarta dan Rapid Test Antibodi," ungkapnya.

Mega pun sangat mendukung, apa yang dilakukan Kemenhub mengeluarkan kemudahan di masa pandemi ini agar penerbangan lebih murah dan penerbangan kembali normal.

"Karena harapannya perekonomian nasional bisa naik lagi dengan, untuk pastinya kita tunggu ya, kapan pelaksanaan, karena baru perencanaan," ujarnya. (Eko/TS)

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved