Kisah Pohon Kurma Menangis Histeris, Bikin Gempar Warga Madinah, Ternyata Rindu Sentuhan Rasulullah
Kemuliaan dan keagungan Baginda Rasulullah SAW bukan hanya pada diri beliau saja. Akan tetapi kemuliaan
Penulis: Abdul Hafiz | Editor: Sudarwan
Laporan wartawan Sripoku.com, Abdul Hafiz
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Sekitar seribu jemaah tertegun mendengarkan khutbah kisah sebatang pohon kurma menangis keras rindu akan sentuhan Baginda Nabi Muhammad SAW yang merupakan kemuliaan yang diberikan Allah SWT.
"Baginda Nabi Muhammad SAW adalah merupakan makhluk yang sangat mulia. Manusia yang sangat tangguh.
Kemuliaan dan keagungan Baginda Rasulullah SAW bukan hanya pada diri beliau saja.
Akan tetapi kemuliaan, keagungannya pun dapat dirasakan siapa saja dan apa saja yang berada di sekitarnya," ungkap Ustad Alan Putra Muda Lc MAg saat menyampaikan khutbah di Masjid Al Munawwaroh Maskarebet Kelurahan Talangkelapa Kecamatan Alang Alang Lebar Km 10 Palembang, Jumat (28/1/2021).
Baca juga: Video 2 Minggu Lalu Jadi Postingan Terakhir Syekh Ali Jaber: Jangan Sampai Nabi Muhammad SAW Kecewa
Baca juga: Lirik Sholawat Hayyul Hadi dalam Bahasa Arab, Latin & Arti, Berisi Sanjungan Atas Nabi Muhammad SAW
Ustad muda jebolan Ponpes Ar Riyadh Palembang ini menceritakan kisah pada suatu Jumat, warga Madinah digemparkan dengan suara tangisan begitu keras, begitu sedih.
Maka tangisan tersebut bukan hanya didengar oleh Baginda Rasulullah SAW saja, akan tetapi tangisan yang begitu sedih juga didengar oleh para sahabat, oleh para jemaah yang hadir bersama Baginda Rasulullah SAW.
Ternyata setelah ditelusuri, setelah dicari-cari dari mana tangisan berasal.
Ternyata tangisan tersebut berasal dari batang dari sebatang pohon kurma yang mana pohon kurma tersebut selalu disandari, selalu disentuh oleh Baginda Rasulullah SAW tatkala beliau menyampaikan hutbahnya.
Baca juga: Lirik Ya Hanana Lengkap Bahasa Arab dan Terjemahan, Sholawat Berisi Sanjungan Atas Nabi Muhammad SAW
"Karena pohon kurma membawa kerinduan tersendiri tatkala ia bersentuhan langsung bertemu langsung dengan Baginda Rasulullah SAW.
Masya Allah ini hanya sebatang pohon kurma mendapat kemuliaan dari Allah SWT dapat bersentuhan langsung dengan Baginda Rasulullah SAW, dapat bertemu langsung dengan Baginda Rasulullah SAW," terang ustad Alan yang mendapat kesempatan bea siswa kuliah di Universitas Al Ahgaff Yaman.
Ternyata setelah ditelusuri, setelah dicari-cari dari mana tangisan berasal.
Ternyata tangisan tersebut berasal dari batang dari sebatang pohon kurma yang mana pohon kurma tersebut selalu disandari, selalu disentuh oleh Baginda Rasulullah SAW tatkala beliau menyampaikan hutbahnya.
Baca juga: Video Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Agung Palembang
Seperti diketahui pohon kurma itu berasal dari Masjid Nabawi.
Tangisan terdengar sesaat ketika Rasulullah memberikan khutbah.
Mendengarnya, Rasulullah pun turun dari mimbar menunda khutbahnya.
Sang Nabiyullah kemudian mendekati sebuah pohon kurma.
Beliau mengelusnya, kemudian memeluknya.
Maka, berhentilah suara tangisan itu.
Ternyata, si pohon kurma itulah yang menangis.
Hampir saja pohon itu terbelah karena jerit tangisnya.
Sejak Masjid Nabawi berdiri, pohon kurma itu telah di sana.
Tak hanya menjadi tonggak, pohon kurma tersebut selalu menjadi sandaran setiap kali memberikan khutbah.
Pohon kurma ini selalu menanti hari Jumat karena pada hari itu ia akan mendampingi Nabi memberikan nasihat kepada kaum Muslimin.
Baca juga: Kontroversi Kartun Nabi Muhammad, PBB Desak Pemimpin Dunia Miliki “Rasa Saling Menghormati”
Sejak Jumat pertama masjid berdiri, ia selalu setia dan bahagia menemani Nabi Muhammad.
Hingga hari Jumat itulah ia menangis.
Beberapa hari sebelum Jumat yang pilu bagi si pohon, seorang wanita tua Anshar mendatangi Rasulullah.
Ia memiliki putra seorang tukang kayu dan ia menawarkan sebuah mimbar untuk Rasul.
Kemudian keesokan harinya.
Hari selanjutnya datang seseorang yang ingin memberikan hadiah kepada Baginda Rasulullah SAW bersama hadiah yang dijanjikan ingin diberikan kepada Baginda Rasulullah SAW.
Mimbar itu pun diletakkan di dalam masjid.
Tatkala Baginda Rasulullah SAW mulai menaiki dan mulai menggunakan mimbar yang diberikan tersebut, Baginda Rasulullah SAW mendengarkan tangisan begitu keras.
Baca juga: RANGKAIAN Serangan Tewaskan Warga Perancis, Pasca-kartun Nabi Muhammad di “Charlie Hebdo”
Menangislah si pohon karena ia tak lagi menjadi “teman” Rasul dalam khutbah Jumat seperti biasa.
Pohon ini menangis karena tak lagi mendengar nasihat yang biasa disampaikan di sampingnya.
"Karena pohon kurma membawa kerinduan tersendiri tatkala ia bersentuhan langsung bertemu langsung dengan Baginda Rasulullah SAW.
Masya Allah ini hanya sebatang pohon kurma mendapat kemuliaan dari Allah SWT dapat bersentuhan langsung dengan Baginda Rasulullah SAW, dapat bertemu langsung dengan Baginda Rasulullah SAW," kata ustad yang menyelesaikan studi S2 Syariah Fakultas Hukum Tata Negara di UIN Raden Fatah.
Dari kisah pohon kurma ini, Ustad Alan yang sehari-harinya sebagai pengajar di SMA Negeri Sumsel dan juga Dosen UIN Raden Fatah ini menyimpulkan barang benda yang biasa seperti kurma sangat merindukannya.
Akan tetapi kita sebagai umat yang sangat dicintai oleh Baginda Rasulullah SAW, umat yang sangat disayangi oleh Baginda Rasulullah SAW.
Maka kita sebagai umatnya Baginda Rasulullah SAW, sangat dirindukan oleh Baginda Rasulullah SAW.
Baca juga: Kontroversi Kartun Nabi Muhammad, PBB Desak Pemimpin Dunia Miliki “Rasa Saling Menghormati”
Tentu kita akan mendapat kemuliaan tatkala di dalam kegiatan kita berhubungan dengan Baginda Rasulullah SAW.
Lantas bagaimana cara kita agar kita mendapatkan kemuliaan daripada Allah SWT, mendapatkan kemuliaan dari Baginda Rasulullah SAW tersebut?
"Yaitu dengan cara kita mendekatkan diri kita kepada Baginda Rasulullah SAW, memperkenalkan diri kita kepada Baginda Rasulullah SAW.
Bagaimana caranya? Tidak lain dan tidak bukan mari kita senantiasa menjalankan dan melaksanakan sunnah-sunnahnya Baginda Rasulullah SAW," ujar ustadz kelahiran Tanah Abang Musibanyuasin, 20 April 1992.
Disebutkan dalam sebuah hadits, barang siapa yang menghidupkan sunnahku, tatkala dimana umatku banyak yang lalai meninggalkan daripada sunnah Baginda Rasulullah SAW, maka apa janji Baginda Rasulullah SAW.
Yaitu mereka akan mendapat ganjaran pahala seperti seratus orang mati sahid.
"Masya Allah. Ini merupakan satu dari sunnah Baginda Rasulullah SAW.
Maka bagaimana jika kehidupan kita sehari-hari kita menjalankan melaksanakan sunnahnya Baginda Rasulullah SAW.
Terutama lagi kita pada hari ini berada pada hari yang sangat mulia.
Pada hari yang sangat agung, bahkan hari Jumat merupakan hari raya bagi seluruh umat muslim," jelas ustadz yang merupakan anak bungsu dari empat bersaudara buah pasangan H Selamet dan Emi Atika.
Baca juga: KISAH Bocah Disuruh Gambar Nabi Muhammad Endingnya Haru, Ini Alasan Wajah Rasulullah Tak Ditampakkan
Ustad Alan mengingatkan, pada hari Jumat banyak sunnah-sunnah Baginda Rasulullah SAW.
Di antaranya itu tatkala pada hari Jumat ini kita disunnahkan oleh Baginda Rasulullah SAW untuk mandi sunnah pada hari Jumat.
Kapan mulai mandi sunnah hari Jumat tersebut, yaitu tatkala terbit pada fajar siddiq.
Kita mandi maka kita berniat sunnah pada hari Jumat.
Ini merupakan salah satu sunnah Baginda Rasulullah SAW.
Kemudian apalagi sunnah Baginda Rasulullah SAW?
Yaitu pada malam Jumat ataupun sebelum melaksanakan sholat Jumat, kalau kita memiliki waktu luang, kita luangkan waktu untuk membaca Surah Al Kahfi.
Selain itu disunnahkan memotong kuku, rambut, menyegerakan ke masjid dan masih banyak sunnah lainnya. Seperti memperbanyak berzikir dan bershalawat.
"12 waktu di antara waktu tsb Insya Allah diijabah hajat kita," pungkasnya.