Peyebab Angka Pengangguran di Kota Lubuklinggau Meningkat 2,75 Persen Pada 2020

Satkernas BPS Kota Lubuklinggau tahun 2020 angka pengganguran terbuka di kota ini sebesar 7,41 persen dari 121.049 angkatan kerja

Editor: adi kurniawan
TRIBUNSUMSEL.COM/Eko Hepronis
Kepala BPS Kota Lubuklinggau, Eka Yulyani angka pengangguran di Kota Lubuklinggau meningkat akibat goncangan pandemi Covid-19. 

SRIPOKU.COM, LUBUKLINGGAU -- Goncangan akibat pandemi Covid-19 membuat angka pengangguran di Kota Lubuklinggau meningkat.

Berdasarkan Survei Angkatan Kerja Nasional (Satkernas) Badan Pusat Statistik atau BPS Kota Lubuklinggau tahun 2020 angka pengganguran terbuka di kota ini sebesar 7,41 persen dari 121.049 angkatan kerja.

Jumlah tersebut lebih tinggi dari tahun 2019 lalu sebesar 4,66 persen atau meningkat 2,75 persen dari jumlah angkatan kerja terbuka sebesar 118.147 angkatan kerja.

Kepala BPS Kota Lubuklinggau, Eka Yulyani mengatakan peningkatan jumlah pengangguran terbuka di Kota Lubuklinggau akibat goncangan pandemi Covid-19.

"Peningkatan penggangguran ini  karena imbas dari Covid-19, seperti contohnya akibat pandemi ini yang semula bekerja sekarang menjadi tidak bekerja," ungkapnya, Selasa (26/1/2021).

Baca juga: Progres Pekerjaan Tol Palembang-Betung Baru 20 Persen, Target Operasional Tahun 2023

Baca juga: Belum 24 Jam, Polisi Berhasil Menangkap Pembunuh Ibu Kandung di Prabumulih, Ini Pengakuan Pelaku

Ia menyampaikan selama ini Kota Lubuklinggau mengandalkan sektor pedagangan dan jasa, dimana saat pandemi ini sektor perdagangan dan jasa sangat terdampak.

"Seperti contohnya sektor jasa akibat Pandemi ini hotel Burza tutup sementara, hotel City juga tutup. Dengan dua usaha ini saja sudah berapa banyak karyawan yang diputus kontraknya," ujarnya.

Belum lagi sektor perdagangan, selama ini Kota Lubuklinggau menjadi tempat tujuan masyarakat Kabupaten Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Kabupaten Empat Lawang dan Rejang Lebong Bengkulu untuk bertransaksi.

"Sementara diawal-awal pandemi dulu orang tidak keluar sama sekali, sehingga dampaknya banyak sekali, hampir semua sektor usaha sempat ngedrop dan tutup sementara," ungkapnya.

Hal itu berbeda dengan daerah atau kabupaten yang hanya mengandalkan sektor pertanian. Meski Pandemi Covid-19  tidak terlalu terdampak karena masyarakat masih bisa bekerja walaupun kondisi pandemi.

"Jadi tidak terlalu terdampak, beda halnya dengan kota ini yang mengandalkan jasa dan perdagangan dampaknya sangat besar sekali," ujarnya. (Joy)

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved