Breaking News:

Virus Covid 19

BOCORAN DOKTER RS Swasta, Semua IGD Full Pasien Covid,'Kami Harus Keliling RS di Luar Jakarta'

Tingkat keterisian rumah sakit di Jakarta yang tinggi di tengah lonjakan kasus Covid-19 tak hanya membuat bingung pasien dan keluarganya.

Editor: Wiedarto
ANTARA/HO-UPAS DKI/pri
Petugas medis dan Unit Pelaksana Angkutan Sekolah (UPAS) Dishub DKI Jakarta mengevakuasi pasien manula terkonfirmasi COVID-19 dari panti di kawasan Cengkareng, Jakarta Barat, menuju RSKD Duren Sawit, Jakarta Timur, Selasa (22/12/2020) dini hari 

SRIPOKU.COM, JAKARTA--Tingkat keterisian rumah sakit di Jakarta yang tinggi di tengah lonjakan kasus Covid-19 tak hanya membuat bingung pasien dan keluarganya. Para tenaga medis yang berjuang menyelamatkan nyawa para pasien Covid-19 juga merasakan hal yang sama, terutama dokter yang berjaga di instalasi gawat darurat (IGD). IGD kerap kali menjadi tujuan pertama para pasien manakala mengetahui mereka terpapar Covid-
"Yang datang beragam, mulai dari yang ringan sampai yang berat dan butuh ICU. Dan semua harus antre di IGD," ujar salah seorang dokter di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta, Jumat (22/1/2021).

Dokter itu menuturkan, mereka yang bergejala ringan biasanya akan langsung diarahkan untuk melakukan isolasi mandiri di rumah. Hal ini karena antrean tunggu pasien yang perlu dirawat sudah cukup panjang. Dia menceritakan, pasien yang perlu ruang rawat khusus Covid-19 biasanya butuh waktu tunggu dua sampai tiga hari untuk mendapat kamar. Itu pun tak selalu di rumah sakit yang sama, atau rumah sakit swasta jejaring lainnya. "Kami biasanya punya satu orang yang stand by untuk blast ke 60 rumah sakit, enggak cuma Jakarta, sampai luar Jakarta juga, rumah sakit mana yang masih bisa menampung," ucap dia.

Kapasitas IGD membeludak, pasien dirawat di kursi Dokter itu menceritakan bahwa kondisi terparah terjadi pada akhir Desember lalu, saat kasus Covid-19 di Jakarta sedang tinggi-tingginya. Kapasitas IGD yang terbatas membuat banyak pasien harus menerima perawatan dari kursi roda. "Kapasitas maksimal kami 10 orang, itu juga sudah penuh karena standarnya 5 bed. Jadi kalau ada pasien yang harus duduk di kursi sambil dirawat di IGD itu real terjadi," kata dia.

Pihak rumah sakit tak bisa menolak orang yang terus berdatangan sehingga segala upaya dilakukan untuk mendapatkan ruang rawat bagi pasien Covid-19. Ia paling khawatir ketika ada pasien yang datang dalam kondisi yang sudah cukup parah dan memerlukan ruang intensive care unit (ICU) segera.

Menurut dia, ruang ICU di Jakarta saat ini semuanya penuh. Kalaupun ada yang kosong, antrean pasien di rumah sakit itu sudah panjang, sehingga tak bisa lagi menerima pasien rujukan. "ICU susah banget dapatnya. Di mana-mana penuh, terpaksa menunggu dulu di IGD sampai dapat. Kemarin, kami dapat jauh sekali sampai Karawang dan Ciawi baru dapat," ungkap dia.

Dokter IGD yang merawat harus siaga setiap saat manakala harus mengantarkan pasien-pasien mereka sampai rumah sakit rujukan."Harus siap on call, begitu dapat rumah sakit yang bisa, kami tetap harus mendampingi supaya memastikan kalau benar pasien mendapat perawatan yang sesuai," ujar dia.

Sulitnya mencari ruang ICU di tengah lonjakan kasus Covid-19 terkadang berujung pahit. Kabar duka kerap hadir di ruang IGD karena pasien meninggal dunia. Tak sedikit pula tenaga kesehatan yang turut terpapar Covid-19 Hal ini, diakui dokter itu, membuat rumah sakit harus "mengimpor" tenaga kesehatan dari luar Jakarta untuk mengisi kekosongan.

Di tengah situasi krisis ini, para tenaga kesehatan berjuang sebisa mungkin untuk memulihkan kondisi pasien. Bahkan, ada pula pasien yang harus dirawat 12 hari di IGD karena tak kunjung mendapat ruang rawat. "Bersyukurnya, pasien itu justru sembuh selama 12 hari dirawat di IGD. Dia sampai hafal semua pasien, dokter, perawat di sana, ha-ha-ha," kenang dia.

Pentingnya kesadaran masyarakat Situasi yang serba rumit di rumah sakit saat ini, diakuinya, seharusnya menyadarkan masyarakat akan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Pasien yang datang, sebut dokter itu, kebanyakan berasal dari klaster keluarga atau dari klaster kerumunan seperti pesta pernikahan.

"Harapan kami situasi sudah seperti ini, supaya masyarakat sadar, stoplah itu pesta-pesta kawinan, acara keramaian, hindari makan di restoran, dan disiplin sama protokol kesehatan supaya pandemi segera berakhir," ungkap dia.

Pandemi di wilayah Jakarta masih dalam keadaan buruk. Angka penambahan kasus harian terus tinggi. Data Pemprov DKI yang disampaikan Kamis kemarin, ada penambahan 3.151 kasus baru Covid-19. Dengan tambahan kasus tersebut, total kasus Covid-19 di Jakarta kini mencapai 239.226

Dari jumlah tersebut, sebanyak 213.570 orang telah dinyatakan sembuh dengan tingkat kesembuhan mencapai 89,3 persen. Sementara itu, 3.900 orang meninggal dunia dengan tingkat kematian sebesar 1,6 persen. Adapun kasus aktif (yang masih dirawat atau jalani isolasi) meningkat sebanyak 532 kasus. Dengan demikian, saat ini ada 21.756 pasien yang masih dirawat atau menjalani isolasi. Sementara persentase kasus positif atau positivity rate selama sepekan terakhir di Jakarta sebesar 16,9 persen. Sedangkan persentase kasus positif secara keseluruhan sebesar 9,7 persen. Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menetapkan standar persentase kasus positif tidak lebih dari 5 persen.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Cerita Dokter soal Penuhnya RS Covid-19 di Jakarta, Mencari ICU ke Karawang hingga Pasien Dirawat di Kursi", Klik untuk baca: https://megapolitan.kompas.com/read/2021/01/22/05150021/cerita-dokter-soal-penuhnya-rs-covid-19-di-jakarta-mencari-icu-ke?page=all#page2.
Penulis : Sabrina Asril
Editor : Sandro Gatra

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved