Memaknai Sebuah Pertandingan Tinju
DI salah satu kesempatan dalam sebuah kajian subuh, penceramah menyinggung tentang ujian yang dikaitkan dengan wabah pandemi Covid-19
Penulis: Husin | Editor: Salman Rasyidin
Oleh: Muhammad Husin
Jurnalis Sriwijaya Post
DI salah satu kesempatan dalam sebuah kajian subuh, penceramah menyinggung tentang ujian yang dikaitkan dengan wabah pandemi Covid-19 yang saat ini masih terjadi.
Dikatakan apa pun musibah yang menimpah suatu kaum (komunal) atau negara, termasuk pada diri manusia itu sendiri, semua sudah tercatat dalam ketatapan (Lauh Mahfuz).
Makanya musibah dalam bentuk apa pun pasti akan dialami manusia (QS Al Baqarah 155), yang jika menimpa orang-orang tidak beriman, maka mutlak sebagai azab (QS As Sajdah: 21).
Sebaliknya, jika menimpa orang-orangmukmin, pasti bagian dari bentuk kasih sayang Allah SWT.
Paling tidak, ada tiga kemungkinan bentuk kasih sayang Allah SWT di balik musibah yang menimpa hamba-hamba yang dicintai-Nya:
Pertama sebagai ujian keimanan (QS Atuh Thalak 2-3).
Ujian tentu saja sesuatu yang sangat positif.
Seorang petinju saat berada di atas ring, tidak mudah untuk menjadi juara, ia harus berusaha keras menggunakan taktik dan strategi yang dipelajarinya selama latihan.
Bahkan baginya, momentum pertandingan inilah menjadi saat yang tepat untuk membuktikan semua teoriyang dipelajari dari pelatih.
Pertanyaanya, apakah selama berada di atas ring (sasana), si petinju tidak merasakan sakit, atau tidak pernah menerima pukulan dari kiri (hook) atau huk kiri (left hook) atau kena jab (pukulan cepat) dari lawannya atau sebaliknya?
Jawabannya jelas mengalaminya.
Namun menariknya, seorang petinju atau petarung tidak pernah menampakan keperihan yang dialaminya (a fighter never show their pain).
Coba bayangkan, jika seorang petinju berteriak-teriak di atas ring menyebutkan rasa sakit yang dialaminya, tentu akan lucu dan aneh. Namun hal itu tidak pernah terjadi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/husin_20180126_114332.jpg)