Bersihkan BAB Pakai Uang, Pria Ini Ternyata Playboy Tajir di Zaman Jakarta Tempo Dulu, Ini Sosoknya!

Namun tahukah kalian, ada Playboy zaman batavia yang tak kalah menyeramkan dengan playboy zaman modern ini.

Penulis: Nadyia Tahzani | Editor: Welly Hadinata
wikipedia
Oei Tambah Sia 

Ya, perempuan yang sangat penting bagi Oei ialah Mas Ajeng Gunjing.

Ajeng Gunjing yang pesinden ini pertama kali dilirik Tambah dalam sebuah hajatan di Pekalongan. Bermodal wajah tampan, juga uangnya yang banyak, Tambah percaya diri memikat pesinden cantik ini.

Baca juga: Perlu Diketahui, Vaksinasi Covid-19 dan Donor Plasma Konvelasen Itu Berbeda, Ini Penjelasannya!

Tak bertepuk sebelah tangan, Tambah pun akhirnya berhasil memboyong perempuan idamannya itu ke Tanah Betawi nan ramai di abad lalu itu.

Betapa Cintanya Oei dengan Ajeng, ia tetap tidak bisa meninggalkan kebiasaan buruknya untuk berburu gadis, janda maupun istri orang lain

Mas Ajeng semula ditempatkan di Bintang Mas Ancol, di mana perempuan-perempuan Oei yang lain juga tinggal di sana.

Di situ Mas Ajeng sakit dan mau tidak mau dipindahkan oleh Oei ke rumah besarnya di Pasar Baru, Tengarang.

Suaru kali, rumah Tambah tempat Mas Ajeng Gunjing tinggal kedatangan tamu bernama Mas Sutejo dari Pekalongan.

Dari situlah api membara muncul di hati Oei, ia sangat cemburu dengan Sutejo yang tak lain saudara kandung dari Mas Ajeng Gunjing sendiri.

Centeng tukang pukul suruhan Oei, lalu menghabisi nyawa Sutejo diam-diam.

Mas Sutejo pun dinyatakan hilang. Bukan Sutejo saja yang jadi korban tukang pukul Oei.

Seorang pembantu Oei sendiri yang bernama Tjeng Kie juga diracuni.

Hingga muncul fitnah yang dikipasi Tambah bahwa Liem Soe King adalah pembunuhnya.

Namun, sebuah penyelidikan membuktikan Liem tak bersalah.

Akhirnya karena penyidikan orang yang juga sangat geram pada kelakuan bejat Oei mengungkapkan kebenaranya.

Oei dinyatakan bersalah.

Akibat Sombong bukan main, dan kebejatan yang dilakukannya ujung hidup Oei ini mengenaskan.

Oei Tambah Sia si playboy berbahaya itu dihukum gantung di depan Balai Kota, Taman Fatahillah. Ratusan warga kota Betawi yang menyaksikannya. Hukuman mati itu, seperti diperkirakan Benny Setiono dalam bukunya, terjadi di tahun 1851.

Baca juga: Hotel Raddison Lampung Jadi Solusi Buat yang Ingin Liburan, Fasilitas Lengkap Standar Internasional

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved