Bodi Jo Peringatkan Pemain Veteran, Bermainnya Rilek Saja Jangan Dipaksakan

Budi Jo:Saya pikir mungkin kita main bola rileks aja. Kalau tidak kuat jangan dipaksakan. Jangan kondisi tidak bagus dipaksakan main bola

Penulis: Abdul Hafiz | Editor: Azwir Ahmad
ho/sripoku.com
Pelatih Sriwijaya FC Budiardjo Thalib (baju merah kiri) bermain sepakbola di Kota Makassar, Sulawesi Selatan selama mengisi waktu ditundanya kompetisi Liga 2 2020. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Di tengah turut berduka atas meninggalnya Legend Sepakbola Almarhum Ricky Yacobi, Pelatih Sriwijaya FC Budiardjo Thalib memberikan sedikit tips bagi pecinta sepakbola khususnya yang telah berumur agar mengurangi intensitas jika sedang bermain bola.

"Saya pikir mungkin kita main bola rileks aja. Kalau tidak kuat jangan dipaksakan. Jangan kondisi tidak bagus dipaksakan main bola. Saya juga main bola. Tak usahlah banyak lari. Kurangi intensitasnya. Jangan sampai menggebu-gebu," ungkap Budiardjo Thalib kepada Sripoku.com, Minggu (22/11/2020).

Pelatih kelahiran Makassar 4 Juli 1970 ini mengingatkan para pemain bola Old Star di manapun berada agar menyadari umur tak muda lagi dan tak usah lagi main ngotot karena ambisi untuk jadi pemain Timnas PSSI juga sudah tidak bisa lagi.

"Saya prinsipnya mengingat umur tidak muda lagi. Pemain tua biasa nafsunya gede. Jangan salah kaprah. Kita juga kan gak bakal terpilih lagi jadi pemain PSSI," ucap bapak tiga anak buah pernikahannya dengan Rahmaningsih.

Meski demikian kata mantan pelatih Persik Kediri ini menyadari yang namanya ajal kita serahkan kepada Allah SWT. 

"Terpenting kita yang masih ada sekarang dan masih beraktivitas di sepakbola jangan sampai seperti Almarhum bang Ricky," kata pria yang akrab disapa Budi Jo.

Mantan Asisten Pelatih Cilegon United, PSM Makassar ini mengakui memang penting juga menjaga silaturahmi menghargai undangan tanding bola.

"Tapi mainlah sesuai umur. Kalau saya lagi gak kuat, saya bilang jangan saya dimainkan. Begitu juga di Palembang. Bang Bagio ngajak main. Sementara saya sudah capek pagi habis melatih, saya gak datang. Mari jaga silaturahim, jaga kondisi tapi tetap ingat umur. Tetap beraktivitas. Kalau gak bisa udah istirahat," kata mantan pelatih Perssu Sumenep FC.

Seperti diketahui, Ricky Yacobi menghembuskan nafas terakhir usai bermain fun football trofeo Medan Selection di Lapangan A, Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (21/11/2020) pagi.

Ketika itu, Ricky Yacobi baru mencetak gol dan ingin melakukan selebrasi. Namun seketika Ricky Yacobi terjatuh akibat serangan jantung. Setelah itu, dirinya dilarikan ke Rumah Sakit Mintoharjo.

Sayang, pesepakbola yang pernah membawa Indonesia meraih medali emas SEA Games 1987 itu tak tertolong.

Eks bomber PSMS Medan itu diduga meninggal karena serangan jantung. Ricky Yacobi meninggal dunia di usia 57 tahun

Jenazah Almarhum Ricky Yacobi kini tengah dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Sejumlah kerabat dan sanak keluarga telah berkumpul di lokasi pemakaman.

Ricky Yacobi. Ricky Yakobi lahir di Medan pada 12 Maret 1963. Nama aslinya adalah Ricky Yakob, namun ada satu huruf "i" ditambahkan sepulangnya dari Jepang.

Ricky Yacob adalah sosok fenomenal yang bersinar di era 80-an, yang kemudian lebih dikenal sebagai Ricky Yacobi.

Dia dikenal sebagai penyerang yang memiliki kelebihan dalam kecepatan.

Karier sepakbolanya dimulai di tanah Medan.

Dia bergabung dengan PSMS Medan junior hingga naik ke tim utama setelah meraih Piala Suratin.

Dia juga menjadi ujung tombak andalan tim nasional pada era 80-an.

Sepanjang kariernya di Indonesia, Ricky pernah bergabung bersama PSMS Medan, Arseto Solo, BPD Jateng, dan PSIS Semarang.

Pada 1980, pihak yang berperan mengantarkan PSMS Medan yunior juara Piala Soeratin, yang notabene adalah turnamen khusus pemain di bawah usia 18 tahun.

Selepas dari PSMS, Ricky berpindah ke Pulau Jawa untuk bergabung dengan salah satu klub anggota Galatama, Arseto Solo. Di klub ini, Ricky tidak pernah pernah mendapat gelar juara Galatama.

Akan tetapi, Ricky sukses menjadi top skorer Galatama sebanyak dua kali, yakni pada 1987 dan 1990.

Karier Ricky di level tim nasional lebih mentereng lagi. Dalam balutan seragam merah putih, Ricky sukses mengharumkan nama Indonesia di sejumlah ajang internasional.

Pada Asian Games 1986 di Korea Selatan, Ricky menjadi kapten tim. Saat itu, pada babak penyisihan grup, Indonesia tergabung di Grup C bersama Arab Saudi, Qatar, dan Malaysia.

Meskipun berada di grup yang tergolong sulit, Ricky cs. mampu melaju ke babak selanjutnya setelah menjadi peringkat kedua dengan perolehan tiga poin.

Pada babak perempat final, Indonesia bersua dengan Uni Emirat Arab (UEA).

Aksi Ricky mengundang decak kagum dengan mencetak gol sensasional untuk Indonesia.

Dia menciptakan gol dengan cara melepaskan tembakan voli pertama kali ke gawang UEA dalam jarak yang cukup jauh.

Berposisi sebagai striker, Ricky Yacobi dikenal sangat garang. Dia kerap dijuluki Paul Breitner-nya Indonesia dan mengandalkan kecepatan dalam bermain.

Ya, Asian Games 1986 di Korea Selatan menjadi momen top Ricky.

Bertemu Uni Emirat Arab di perempatfinal Asian Games, Ricky mencetak gol Indah pada menit ke-49, meneruskan umpan Yonas Sawor dengan tendangan voli tanpa sedikit pun menyentuh tanah.

Indonesia menang adu penalti 4-3. Setelah ajang Asian Games, Ricky mencatatkan prestasi mengkilap saat berlaga di SEA Games 1987 yang digelar di Jakarta.

Ricky berjasa mengantarkan Indonesia meraih medali emas pertama dari cabang sepak bola pada ajang ini.

Pada tahun 1988, Ricky diboyong klub asal Jepang, Matsushita FC (kini berganti nama menjadi Gamba Osaka).

Di Negeri Sakura ini, nama belakang Ricky berubah dari "Yacob" menjadi "Yacobi". Pasalnya, orang-orang di Jepang lebih suka menyebut nama belakangnya dengan "Yacobi".

Sejak itu, nama "Yacobi" menjadi lebih akrab. Ricky pensiun dari karirnya sebagai pesepak bola pada tahun 1996.

Namun, semangat dan kepeduliannya dalam mengembangkan sepak bola Indonesia tidak pernah surut.

Setelah gantung sepatu, Ricky membuat sebuah Sekolah Sepak Bola (SSB) yang bernama Ricky Yacobi.

SSB ini berlokasi di Lapangan F, kompleks olahraga Senayan, Jakarta Pusat. Dalam sistem pembinaannya, SSB Ricky Yacobi menjaring bocah yang berusia 7-12 tahun.

Ricky Yacobi memutuskan menjadi pelatih dengan membuka Sekolah Sepak Bola (SSB) Ricky Yacobi yang berlokasi di lapangan F, kompleks Senayan, Jakarta Pusat.

Murid pilihannya adalah talenta berbakat berusia 7-12 tahun yang kurang mampu. Karenanya Ricky menjamin, murid-muridnya bebas iuran.

Ricky yakin sekolah sepak bola yang memiliki kurikulum teori kelas dan praktik itu akan langgeng meski tanpa iuran murid.

Pasalnya, sekolah yang bernaung di bawah Yayasan Kelompok Pecinta Olahraga Sepak Bola Senayan (KPOSS) itu telah banyak menarik simpati donatur semisal American Express Foundation.

Di samping itu, KPOSS telah menyewa lapangan F untuk jangka waktu lima tahun. Di PSSI, Ricky kemudian duduk menjadi direktur pembinaan usia muda PSSI. Setelahnya, dia adalah Pelatih The New Clicks. (Abdul Hafiz) 

Sumber:
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved