Lebih Cepat ke Rumah Sakit, Faktor Utama Penentu Kesembuhan Pasien Covid-19

orang yang memiliki gejala seperti batuk, demam, flu, atau sesak nafas, seharusnya lebih cepat datang ke rumah sakit

Editor: Azwir Ahmad
Dok RSI Siti Khadijah Palembang
Ruangan khusus pasien covid-19 RS Islam Siti Khadijah Palembang 

Laporan wartawan Sripoku.com:  Maya Citra Rosa

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Banyak faktor yang menunjang cepatnya proses kesembuhan pasien Covid-19, yang dapat dilakukan baik oleh pasien, keluarga dan rumah sakit. Dan yang pertama adalah cepatnya pasien datang ke rumah sakit.

Ketua Tim Penyakit Infeksi Emerging (PIE) RSUP Mohammad Hosien Palembang, dr Zen Ahmad, Sp PD KP FINASIM menjelaskan orang yang memiliki gejala seperti batuk, demam, flu, atau sesak nafas, seharusnya lebih cepat datang ke rumah sakit.

Sehingga, terhadap pasien dapat segera dilakukan screening terkait gejala yang ada, apakah konfirmasi Covid-19 atau tidak.

Pasien akan diarahkan untuk dimintai penjelasan mengenai riwayat sakit, kemudian dilanjutkan swab, bahkan bila perlu dilakukan rontgent.

Hal ini karena apabila pasien datang dalam keadaan dengan gejala berat, maka akan semakin banyak virus di dalam tubuhnya.

"Mulai dari gelaja ringan itu yang harus diobati, bukan menunggu gejalanya berat baru ke rumah sakit," ujarnya, Rabu (4/11/2020).

Namun, fakta yang ada, masyarakat cenderung datang ketika gejala yang diderita sudah parah, sehingga menyulitkan dokter untuk memberikan diagnosa dan perawatan.

Menurutnya, orang yang masuk ke RS tanpa gejala atau dengan gejala ringan masuk dalam kelompok dengan tingkat kesembuhan tinggi, yaitu sekitar 70 persen angka kesembuhan.

Berbeda dengan orang dengan gejala berat, perawatan di RS akan panjang, juga akan meningkatkan angka kematian.

"Sebaiknya memang jika ada keluhan Covid-19 berat, cepat lakukan pertolongan, seperti demam dan gejala lainnya, juga merupakan tempat transmisi lokal, segera ke RS," ujarnya.

Hal ini karena masyarakat takut akan dinyatakan positif Covid-19, dan ketakutan akan diisolasi, akhirnya menunda untuk memeriksa keadaan dirinya sendiri.

"Virus mengalami amplikasi dan menjadi lebih banyak, sehingga menjadi gejala lebih berat. Problem gejala demam, batuk, pilek dan sesak nafas, riwayat kontak," ujarnya.

Selain itu, dua hal yang sangat bertolak belakang, yaitu sebagian masyarakat tidak percaya pada Covid-19.

Namun disisi lain, stigma negatif kepada pasien Covid-19 terus saja ada, juga tidak mendukung orang tersebut untuk segera sembuh.

"Itulah yang menjadi faktor orang takut jika tau dirinya terkena covid-19, padahal jika dilakukan pemeriksaan dini maka angka kesembuhannya akan tinggi," ujarnya.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved