Serangan Teror Perancis

Perancis Tetapkan Status Darurat, Lockdown Berlaku Sebulan ke Depan

PERANCIS tetapkan “status darurat” pasca srangan teror Kamis (29/10) pagi di Kota Nice, menewaskan tiga orang, termasuk seorang perempuan.

Editor: Sutrisman Dinah
AFP/Philippe Wojazer
Presiden Perancis Emmanuel Macro (kanan) dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Istana Ellyssee di Paris, Perancis. 

SRIPOKU.COM –Presiden Perancis Emmanuel Macron tiba di lokasi aksi teror beberapa jam setelah terjadi serangan di kawasan Gereja Notre Dame di Kota Nice, Perancis, Kamis (29/10), yang menewaskan tiga orang.

Macron menegaskan, serangan teror ini disebutnya sebagai diserang “ekstremisme”. Seorang penyerang bersenjata pisau membunuh tiga orang, termasuk perempuan yang diberitakan luka di leher.

Seperti dikutip Kompas.com dari The New Daily, Perancis bebrsiap-siap menghadapi situasi darurat. Mulai hari ini (Jumat, 30/10) di seluruh wilayah Perancis ditetapkan pembatasan total atau lock-down terkait merebaknya virus corona atau Covid-19.

Pemerintah Perancis mengerahkan sekitar 4.000 personel tentara, berpotensi ditingkatkan menjadi 7.000 personel, akan diterjunkan di seluruh Perancis untuk melindungi berbagai tempat seperti sekolah dan gereja.

Pemerintah Prancis telah menetapkan status darurat ke level tertinggi. Polisi mengidentifikasi tersangka pembunuhan bernama Brahim Aouissaoui berusia 21 tahun. Pria ini merupakan migran Tunisia yang baru-baru ini memasuki Prancis melalui Italia.

Serangan di Nice ini, terjadi kurang dari dua pekan setelah insiden pembunuhan terhadap guru di pinggiran Kota Paris. Guru bernama Samuel Paty (27) itu dibunuh setelah menunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada siswanya di dalam kelas.

Perancis mengalami serangkaian serangan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk pemboman dan penembakan di Paris pada 2015 yang menewaskan 130 orang.

Pada 2016, terjadi lagi serangan di Nice, ketika seorang milisi mengendarai truk dan menabraki kerumunan massa ketika merayakan Hari Bastille. Peristiwa ini menewaskan 86 orang.

"Saya mengatakan ini dengan sangat jelas (bahwa) kami tidak akan menyerah pada terorisme. Sekali lagi pagi ini, tiga rekan kami yang jatuh di Nice, dan jelas sekali Perancis sedang diserang,” kata Macron.

Beberapa jam setelah serangan Nice, polisi menembak orang disebut mengancam orang yang dengan senjata api di Montfavet, dekat kota Avignon di Perancis Selatan. Serangan itu terjadi di tengah kemarahan Muslim yang meningkat,  karena Presiden Macron membela penerbitan kartun Nabi Muhammad. Perdana Menteri Australia Scott Morrison mengatakan negaranya membersamai Perancis setelah terjadi serangan tersebut.

Baca juga: Indonesia Kecam Serangan Teror di Nice, Sampaikan Ucapan Dukacita

Baca juga: KRONOLOGI Serangan Teror di Nice

Beberapa saat setelah peristiwa ini,  Indonesia menyampaikan kecaman atas aksi terror di Nice ini.  ​"Indonesia menyampaikan simpati dan dukacita mendalam kepada korban dan keluarga korban," kata jurubicara Kementerian Luar Negeri, Kamis malam.

Kedutaan Besar RI di Paris dan Konsul Jenderal RI di Marseille, telah berkoordinasi dengan aparat setempat dan simpul simpul masyarakat WNI di Perancis, termasuk perkumpulan pelajar dan mahasiiswa Indonesia (PPI, Persatuan Pelajar Indonesia) di Perancis.

Pemerintah memastikan, tidak WNI yang yang menjadi korban atas serangan itu. Saat ini, tercatat 4.023 WNI yang menetap di seluruh wilayah Perancis. Sebanyak 25 orang diantaranya tinggal di Nice (sebelah Tenggara Kota Paris) dan sekitarnya..

Serangan yang berlangsung di kompleks gereja yang terletak di jalan protokol pusat perbelanjaan itu, dilakukan pria, selain menewaskan tiga orang juga melukai sejumlah orang lainnya.

Aparat pemerintah menyebut bahwa serangan ini merupakan aksi terorisme. Walikota Nice Christian Estrosi, mengatakan bahwa aksi ini merupakan serangan terorisme.

Aparat kepolisian Perancis telah meningkatkan pengamanan di seluruh tempat ibadah, untuk memastikan situasi aman. Menurut pejabat setempat,  pelaku meneriakkan "Allahu Akbar" dalam aksinya, dan ucapan diulang-ulang setelah ia ditahan.

Menurut Estrosi, serangan itu menggambarkan sebagai aksi terorisme. Ia mengatakan di Twitter bahwa Estrosi mengatakan, salah satu korban meninggal adalah penjaga gereja.  "Tersangka penyerang pisau ditembak polisi saat ditahan, dia dalam perjalanan ke rumah sakit, dia masih hidup," kata Estrosi.

Estrosi menyebut serangan di Nice ini mirip dengan yang dialami guru Samuel Paty (27).

Dari lokasi kejadian dilaporkan, polisi senjata otomatis telah memasang penjagaan keamanan di sekitar gereja, yang berada di Jl Jean Medecin di Nice,  sebuah jalan protol di pusat perbelanjaan kota.

Rangkaian aksi terorisme meningkat dalam dua pekan terakhir, pasca-penerbitan ulang kartu Nabi Muhammad oleh majalah Charlie Hebdo, September lalu. Kartun ini, sebenarnya sudah terbit tahun 2015.

Ketika  itu (tahun 2015), kantor majalah satir yang terbit di Paris ini, diserang sekelompok orang menggunakan senjata api. Dalam peristiwa itu, 12 orang staf redaksi Charlie Hebdo tewas.

Pasca penyerangan  Samuel Paty,  aksi protes berlangsung di Perancis. Peristiwa kekerasan lainnya terjadi beberapa hari kemudian, yakni insiden penusukan di bawah Menara Eiffel. Korban penusukan di dekat Menara Eiffel adalah perempuan berjilbab masing-masing berusia 19 dan 40 tahun.

Kedua wanita itu mengalami luka-luka lebih dari satu tusukan dan dirawat di rumah sakit. Kedua korban mengatakan, sebelum ditusuk,  pelaku menyebut mereka "orang Arab kotor" dan berkata, "Ini bukan rumah kalian."

Apara hukum di Perancis memastikan, pelaku penyerangan di Menara Eiffel ini akan dijerat pasal berlapis, yakni penggunaan senjata, penyerangan bersama, dan penghinaan rasis.

Pekan lalu, Presiden Emmanuel Macron, telah mengeluarkan travel warning untuk warganya yang berada di Negara-negara berpenduduk mayoritas muslim.  Ia khawatir,  munculnya kemarahan umat muslim  pasca-insiden kekerasan di Perancis.

Kekhawatiran munculnya kemarahan itu, terkait kartun Nabi Muhammad SAW, yang semakin meluas. Kekhawatiran itu muncul dengan banyak protes atas pernyataan Presiden Macron yang dinilai melecehkan Islam dan Nabi Muhammad.

Aksi unjukrasa anti-Presiden Macron, terjadi diberbagai Negara. Termasuk seruan boikot produk Perancis di sejumlah Negara-negara Islam di Timur Tengah. Dan seruan itu diikuti.

Bahkan situasi semakin memanas setelah majalah satir yang terbit di Perancis Charlie Hebd, untuk terbitan edisi 28 Oktober 2020, pada halamn muka memuat karikatur Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan.  Turki menilai, karikatur cabul itu menunjukkan ekspresi selera rendah.

Unjukrasa juga terjadi di Bangladesh, ribuan pengunjuk rasa berkumpul ibu kota. Beberapa pengunjukrasa menginjak poster Presiden Macron.

Di Iran, penguasa setempat  memanggil  charge d’affaires (kuasa usaha) Perancis sebagai wujud aksi protes atas kartun tersebut Nabi Muhammad yang dimuat ulang Charlie Hebdo. Kemudian, kartun tersebut dijadikan bahan pelajaran di sekolah terkait kebebasan berekspresi.****

___________________________ 

Sumber: Kompas.comhttps://www.kompas.com/global/read/2020/10/30/060059570/status-darurat-tertinggi-perancis-terjunkan-4000-personel-tentara-buntut?page=all#page2

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved