Serangan Teror Perancis
Kontroversi Kartun Nabi Muhammad, PBB Desak Pemimpin Dunia Miliki “Rasa Saling Menghormati”
PEJABAT anti-ekstremisme Perserikatan Bangsa-bangsa mendesak pemimpin dunia memiliki “rasa saling menghormati”, terkait konversi kartun Nabi Muhammad.
SRIPOKU.COM – Pemimpin dunia didesak agar memiliki “rasa saling menghormati” atas kontroversi penerbitan kartun Nabi Muhammad.
Kepala Badan anti-Ekstremisme PBB, Miguel Angel Moratinos, menyatakan "keprihatinan yang mendalam" atas ketegangan yang meningkat dari kontroversi kartun Nabi Muhammad. Penerbitan kartun majalah Charlie Hebdo bulan Septeember ini yang keduakali; setelah diterbitkan tahun 2015 lalu.
Moratinos mendesak pemimpin dunia untuk memiliki "rasa saling menghormati" antara pihak yang berbeda agama dan pandangan politik. Moratinos yang memimpin Aliansi Peradaban PBB, menyampaikan itu hari Rabu lalu.
Pernyataan itu dialamatkan sebagai respons atas kemarahan yang meningkat di dunia Muslim karena pernyataan pemerintah Perancis terhadap kasus pembunuhan guru sekolah menengah di pinggiran Kota Paris.
Peristiwa itu terjadi setelah guru tersebut diketahui memperlihatkan kartun Nabi Muhammad kepada murid-muridnya, sebagai bagian dari pelajaran tentang kebebasan berbicara di kelasnya.
Pasca peristiwa pembunuhan guru bernama Samuel Paty (27) pada 16 Oktober lalu, Presiden Emmanuel Macron dengan keras membela penerbitan kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad atas dasar kebebasan berbicara.
Baca juga: Perancis Tetapkan Status Darurat, Lockdown Berlaku Sebulan ke Depan
Baca juga: Indonesia Kecam Serangan Teror di Nice, Sampaikan Ucapan Dukacita
Baca juga: KRONOLOGI Serangan Teror di Nice
Pernyataan Presiden Macron ini, memicu protes marah di seluruh dunia Muslim dan kampanye untuk memboikot produk Perancis. "Kartun itu juga memprovokasi tindakan kekerasan terhadap warga sipil tak berdosa yang diserang karena agama, kepercayaan, atau etnis mereka," kata Moratinos, seperti yang dilansir dari Al Jazeera, seperti dikutip Kompas.com, Jumat (301/10).
Macron memang tidak secara eksplisit merujuk pada pembelaan atas kartun itu. “Penghinaan agama dan simbol-simbol suci agama memicu kebencian serta kekerasan ekstrim yang mengarah pada polarisasi dan fragmentasi masyarakat,” ujar Moratinor memperingatkan.
Pernyataan tersebut memberikan arti bahwa kebebasan beragama dan kebebasan berekspresi, sebagai "hak yang saling bergantung, saling terkait, dan saling menegakkan kembali", yang berakar dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.
"Menjunjung tinggi dan melindungi hak-hak fundamental ini adalah tanggung jawab utama semua negara anggota," katanya.
Banyak aktivis mengkritik Perancis karena menyerang simbol-simbol suci minoritas atas nama kebebasan berbicara. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah mengkritik Macron, dengan mengatakan bahwa pemimpin Perancis itu membutuhkan "pemeriksaan mental" atas sikapnya terhadap Islam.
Pejabat tinggi di dunia Muslim telah mengutuk Perancis dan Macron, termasuk Pakistan, Malaysia, Arab Saudi dan Iran. Sementara puluhan ribu orang melakukan aksi protes di Bangladesh yang menyerukan pemboikotan barang-barang Perancis.
Ketegangan semakin memanas pada Rabu lalu, setelah majalah Charlie Hebdo, menerbitkan karikatur baru yang menggambarkan Erdogan. Kemudian, presiden Turki mengancam akan menuntut majalah tersebut.
Di tengah situasi panas yang meningkat, PM Pakistan Imran Khan menulis surat kepada pemimpin negara mayoritas Muslim, yang meminta mereka "untuk bertindak secara kolektif untuk melawan Islamofobia yang berkembang di negara-negara non-Muslim".
Khan mengatakan, para pemimpin negara-negara non-Muslim tidak memahami "cinta dan ketaatan yang dimiliki Muslim di seluruh dunia untuk Nabi mereka dan kitab suci mereka, Al-Quran".
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei menyebut, pembelaan presiden Perancis Macron terhadap kartun yang menggambarkan Nabi Muhammad sebagai "tindakan bodoh" dan "penghinaan".
Buntut dari situasi konflik yang dibangun menjelanng Peringatakan Maulid (kelahiran) Nabi Muhammad ini, terjadi rangkaian serangan di Perancis. Kamis pagi kemarin, aksi penyerangan terjadi di kompleks gereja Notre Dame, Kota Nice, sebelah Tenggara kota Paris.
Presiden Macron menegaskan, penyerangan menggunakan senjata tajam ini menewaskan tiga orang; seorang diantaranya adalah perempuan yang disebut-sebut meninggal setelah penyerang melukai lehehrnya.
Seperti dikutip Kompas.com dari The New Daily, Perancis bersiap-siap menetapkan situasi darurat. Mulai hari ini (Jumat, 30/10) di seluruh wilayah Perancis ditetapkan pembatasan total atau lock-down terkait merebaknya virus corona atau Covid-19.
Kemudian, atas rangkaian penyerangan itu, pemerintah Perancis mengerahkan sekitar 4.000 personel tentara, berpotensi ditingkatkan menjadi 7.000 personel. Pasukan ini diterjunkan di seluruh wilayah Perancis untuk melindungi berbagai tempat seperti sekolah dan gereja.
Pemerintah Prancis telah menetapkan status darurat ke level tertinggi. Polisi mengidentifikasi tersangka pembunuhan bernama Brahim Aouissaoui berusia 21 tahun. Pria ini merupakan migran Tunisia yang baru-baru ini memasuki Prancis melalui Italia.
Serangan di Nice ini, terjadi kurang dari dua pekan setelah insiden pembunuhan terhadap guru di pinggiran Kota Paris. Guru bernama Samuel Paty (27) itu dibunuh setelah menunjukkan kartun Nabi Muhammad kepada siswanya di dalam kelas.
Perancis mengalami serangkaian serangan dalam beberapa tahun terakhir, termasuk pemboman dan penembakan di Paris pada 2015 yang menewaskan 130 orang.
Pada 2016, terjadi lagi serangan di Nice, ketika seorang milisi mengendarai truk dan menabraki kerumunan massa ketika merayakan Hari Bastille. Peristiwa ini menewaskan 86 orang.
"Saya mengatakan ini dengan sangat jelas (bahwa) kami tidak akan menyerah pada terorisme. Sekali lagi pagi ini, tiga rekan kami yang jatuh di Nice, dan jelas sekali Perancis sedang diserang,” kata Macron.
Beberapa jam setelah serangan Nice, polisi menembak penyerang yang mengancam menggunakan senjata api di Montfavet, dekat kota Avignon di Perancis Selatan. Serangan itu diduga terkait kemarahan Muslim yang meningkat, setelah Presiden Macron membela penerbitan kartun Nabi Muhammad.
Begitupula PM Australia Scott Morrison mengatakan negaranya membersamai Perancis setelah terjadi serangan tersebut. ****
_______________________
Sumber: Kompas.com, https://www.kompas.com/global/read/2020/10/29/221343970/kontroversi-kartun-nabi-muhammad-semakin-panas-pbb-desak-seluruh-negara?page=all#page2