Menurut Gatot Nurmantyo Soal UU Cipta Kerja, Mantan Panglima TNI : tak Bermaksud Menjelekkan Negara
Ia kemudian mengambil contoh Singapura yang saat ini sudah mayoritas dikuasai etnis Tionghoa.
SRIPOKU.COM - Gatot Nurmantyo diketahui mendukung gerakan buruh menolak UU Cipta Kerja. Ternyata ada banyak hal yang dikhawatirkan Gatot Nurmantyo jika UU Cipta Kerja benar-benar diterapkan.
Tak sekedar soal pesangon, dan hak cuti pekerja tapi juga ada hal yang lebih serius.
Gatot menyinggung soal bebasnya tenaga kerja asing masuk ke Indonesia yang bisa berakibat pada 'penindasan'secara ekonomi terhadap masyarakat pribumi.
Ia kemudian mengambil contoh Singapura yang saat ini sudah mayoritas dikuasai etnis Tionghoa.
Hal itu diutarakan Gatot Nurmantyo saat hadir sebagai bintang tamu di Kanal Youtube Karni Ilyas Club.
Mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo mengungkapkan kekhawatirannya terkait Omnibus Law Undang-Undang (UU) Cipta Kerja.
Meski ia mengaku belum membaca sepenuhnya isi dari UU yang tengah menjadi polemik tersebut.
Baca juga: Mengkhianati Rakyat, Gatot Nurmantyo Tegas Keluar dari KAMI Andai Berubah jadi Partai Politik: Catat
Baca juga: Gatot Nurmantyo Ungkit Pembicaraan Saat Masih Panglima di Istana Negara: Saya Bukan Dukun

MengenalGatot NurmantyoMantan Panglima TNI yang Disebut Ingin Jadi Presiden Setelah Dirikan KAMI (Tribunnews)
Kekhawatiran tersebut ia rasakan setelah mencoba memposisikan dirinya sebagai buruh atau tenaga kerja.
"Ini kan khawatir yang mendasar," kata Gatot saat wawancara dengan Karni Ilyas dalam tayangan bertajuk Karni Ilyas Club.
Tayangan itu bertajuk "Manuver Jenderal Gatot" yang tayang perdana di kanal Youtube Karni Ilyas Club pada Jumat (16/10/2020).
Terkait dengan tenaga kerja asing, Gatot merisaukan kondisi Indonesia saat ini yang masuk dalam fase bonus demografi di mana jumlah usia kerja produktif mendominasi.
Menurutnya saat ini tenaga kerja di Indonesia belum mampu bersaing mengingat tenaga kerja Indonesia saat ini lebih didominasi oleh tenaga kerja yang tingkat pendidikannya minim.
Selain itu ia juga mengkhawatirkan perbedaan karakteristik tenaga kerja dari asing khususnya China yang ulet dengan tenaga kerja dari Indonesia yang umumnya tidak seulet tenaga kerja China.
"Dalam kondisi banyak tenaga kerja seperti ini, yang belum bisa terpenuhi dan masih ada pengangguran, kalau ada masuk tenaga kerja dari luar, ini kan sulit bersaing," kata Gatot.
Selain itu, ia juga mengkhawatirkan dari sisi keamanan dengan mengambil contoh dari Singapura.
"Justru dari segi keamanan, sangat berbahaya. Saya tidak bermaksud untuk menjelek-jelekan suatu negara dan sebagainya.
Tapi kita belajar dari pengalaman. Singapura saat menerapkan negara industri, itu kan mengambil tenaga dari China walaupun tanpa bekerja sama dengan China.
Nah, tidak bermaksud apa-apa. Tapi tenaga-tenaga dari China sendiri menikah, bahkan beranak binak segala macam, akhirnya mereka dominan.
Sehingga Melayunya terpinggirkan, walaupun tidak bermaksud begitu. Ini juga sama kalau di sini," kata Gatot. (*)
Siapa Sosok Gatot Numantyo
Sosok Gatot Nurmantyo tak asing lagi bagi dunia militer tanah air.
Ia merupakan seorang purnawirawan TNI dan juga mantan panglima.
Saat ditanya tentang dirinya akan maju pada Pilpres 2024, ia justru tak menampiknya.
Menurutnya, ia bisa saja maju dalam Pilpres 2024 mendatang.
Melalui wawancara bersama dengan Karni Ilyas, ia mengungkapkan hal tersebut.
Dilansir dari Wartakotalive, dalam program 'Manuver Jenderal Gatot' ia ditanya apakah ia ingin menjadi presiden melalui Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI).
Diberi pertanyaan itu, Gatot pun menyatakan dirinya bisa saja maju dalam pencalonan presiden.
"Hal itu sah-sah saja kalau saya punya keinginan," ujar Gatot, Jumat (16/10/2020) malam.
Tapi, menurut Gatot, situasi Indonesia saat ini tengah fokus menghadapi pandemi Covid-19.
Maka tidak etis baginya jika sudah memikirkan akan maju sebagai calon presiden 2024, apalagi dengan menjadikan KAMI sebagai partai politik.
"Situasi bangsa seperti ini, menghadapi dua permasalahan yang sama-sama berat,"
"Dan belum menemukan cara pasti untuk selamat dari dua ini, terus saya punya potensi, dan teman-teman punya preferensi, berpikir untuk 2024 saya katakan itu tidak etis," tutur Gatot.
Gatot berpandangan, biarlah KAMI berjalan sebagai gerakan moral masyarakat Indonesia dari berbagai elemen dan komponen bangsa, yang tujuannya tidak lain untuk terwujudnya keadilan masyarakat Indonesia.
"Biarlah setelah ini berjalan, nanti kita berpikiran lagi,"
"Tapi ini dulu yang kita presentasikan, untuk bangsa dulu," tutur Gatot.
Gatot menegaskan akan keluar dari KAMI jika menjadi partai politik.
Gatot menerangkan KAMI dibentuk dengan tujuan gerakan moral masyarakat Indonesia, terutama untuk terwujudnya keadilan masyarakat Indonesia.
"Saya ulangi bahwa KAMI ini adalah kumpulan orang-orang yang berdasarkan moral."
"Jadi kalau politik itu berjuang untuk berkuasa, kalau KAMI berjuang untuk sebuah nilai," tuturnya.
KAMI tidak akan menjadi partai politik.
Sebab, ucap Gatot, akan mengkhianati masyarakat yang tergabung dalam KAMI.
"Kalau ini menjadi partai, maka saya tegaskan di sini bahwa orang-orang KAMI, deklarator KAMI, presidium KAMI adalah mengkhianati kepercayaan rakyat," paparnya.
Gatot memastikan Presidium KAMI, yakni dirinya dan Din Syamsuddin, akan keluar dari KAMI jika menjadi partai politik.
"Saya ulangi, kalau KAMI ini berubah menjadi partai, catat semua masyarakat, bahwa deklarator apalagi presidium KAMI adalah mengkhianati kepercayaan rakyat yang bergabung dengan KAMI," tutur Gatot.
"Dan yang pertama kali akan ke luar, saya akan keluar, Prof Din akan keluar, pasti itu."
"Karena tujuan KAMI bukan itu, hanya nilai-nilai saja," sambungnya.
Rekam Jejak Gatot Nurmantyo
Dilansir dari wikipedia, Jenderal TNI (Purn.) Gatot Nurmantyo lahir di Tegal, Jawa Tengah, 13 Maret 1960.
Ia adalah mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia (2015-2017).
Sebelumnya, Gatot merupakan Kepala Staf TNI Angkatan Darat ke-30 yang mulai menjabat sejak tanggal 25 Juli 2014 setelah ditunjuk oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menggantikan Jenderal TNI Budiman.
Ia sebelumnya juga pernah menjabat sebagai Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) menggantikan Letnan Jenderal TNI Muhammad Munir.
Pada bulan Juni 2015, ia diajukan oleh Presiden Joko Widodo sebagai calon Panglima TNI, menggantikan Jenderal Moeldoko yang memasuki masa purna baktinya.
Gatot bersama tokoh pemerintahan lainnya beserta para aktivis sosial bergabung dalam aksi untuk mendukung toleransi beragama selama periode unjuk rasa di Jakarta pada bulan November 2016.
Bersama dengan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Kapolri Tito Karnavian dan aktivis Islam seperti Yenny Wahid, mereka menggalang dukungan untuk persatuan antar agama sebagai penyeimbang dari aksi unjuk rasa yang digelar sebelumnya terhadap Gubernur DKI Jakarta beragama Kristen keturunan Tionghoa, Basuki Tjahaja Purnama yang diwarnai elemen intoleransi dan Sinofobia.
Gatot dilahirkan di Tegal, Jawa Tengah. Dari pernikahannya dengan Enny Trimurti, ia memiiki 3 orang anak.
Gatot Nurmantyo merupakan lulusan Akademi Militer tahun 1982, dan berpengalaman di kecabangan infanteri baret hijau Kostrad.
Gatot pernah menjadi Komandan Komando Pembinaan Doktrin, Pendidikan dan Latihan TNI Angkatan Darat (Kodiklat), Panglima Komando Daerah Militer V/Brawijaya dan Gubernur Akademi Militer.
Di bidang lainnya, Gatot juga menjabat sebagai Ketua Umum PB FORKI periode tahun 2014 hingga 2018.(*)
Artikel ini telah tayang di Wartakotalive dengan judul Gatot Nurmantyo: Sah-sah Saja Kalau Saya Punya Keinginan Jadi Calon Presiden 2024
Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Ini Sejumlah Kekhawatiran Gatot Nurmantyo Terkait UU Cipta Kerja,