Menelaah Sebutan Bundo Kanduang di Minangkabau

Sebagai mana yang umum pahami, istilah Bundo Kanduang adalah panggilan untuk kaum pe­rempuan di Minangkabau.

Tayang:
Penulis: Salman Rasyidin | Editor: Salman Rasyidin
ist
Albar Sentosa Subari SH. MH 

SRIPOKU.COM--- Sebagaimana yang umum pahami, istilah Bundo Kanduang adalah panggilan untuk kaum pe­rempuan di Minangkabau.  

Ilustrasi Bundo Kanduang
Ilustrasi Bundo Kanduang (net.)

Namun menurut  Ketua  Pembina Adat  Sumatera Selatan Albar Sentosa Subari   SH. MH beberapa hari lalu, jika diteliti lebih jauh dan lebih cermat, ada beberapa makna yang terkandung di dalam istilah Bundo Kanduang :

1.       Menurut  catatan sejarah, Bundo Kanduang  adalah nama atau sebutan bagi seorang raja perempuan dari kerajaan Pagaruyung.

Raja perempuan terakhir adalah Yang Dipertuan Gadis Reno Sumbu, meng­gan­tikan mamaknya Yang Dipertuan Sultan Alam Bagagar Syah yang dibuang Belanda ke Batawi pada tahun 1833.

Sebelum itu masih ada beberapa lagi raja raja perempuan tetapi tidak tercatat oleh sejarawan, walaupun nama nama mereka itu tercatat dalam Tambo Pagaruyung, seperti Yang Dipertuan Gadis Reno Sari.

2. Menurut mitologi atau lagenda (sesuatu yang diyakini masyarakat Minangkabau) atau kaba Cindua Mato, nama ibu kanduang adalah nama raja Pagaruyung.

3. Sementara itu menurut pengertian sosiologi, Bundo Kanduang adalah panggilan bagi perempuan Minang  yang telah berketurunan.  

Biasanya panggilan Bundo Kanduang itu diberikan kepada perempuan tertua di dalam suatu kaum. Dialah yang menentukan segalanya.

4. Menurut Adat, Bundo Kanduang adalah penghormatan yang diberikan kepada perempuan atau wanita yang telah tua walau tidak berada dalam satu kaum.

5. Menurut simbolik, Bundo Kanduang merupakan  simbul dari tanah air, sebagaimana nama ibu pertiwi.

Kemudian Bundo Kanduang dijadikan nama sebuah organisasi perempuan Minangkabau yang berkedudukan di Sumatra Barat.

Namun bukan tergolong organisasi profesi tapi sebagai sebuah wadah bagi perempuan Minangkabau.

Dengan maksud untuk saling memahami tentang keberadaan nya sebagai sumarak nagari dan pelanjut serta memelihara keturunan dan warisan menurut garis matrilineal.

Benteng terdepan dan terakhir dalam pertahanan adat dan budaya minang.

Disamping untuk saling mengingatkan dan sama sama berusaha mengatasi, bahwa perempuan Minang, semakin hari tugasnya akan semakin berat, terutama dalam soal pendidikan adat dan budaya, pendidikan ahlak dan agama, bagi anak kemenakan, anggota kaumnya dan bangsanya.

 Agar keturunan berikutnya dapat melanjutkan dan mengembangkan adat budaya minang dengan baik.

Dan saling menyadari tentang harkat, tugas dan fungsi di tengah konstelasi adat dan budaya, terutama menghadapi berbagai perubahan dan tantangan masa depan.

Kalau kita mau coba sedikit menyandingkan peranan Bundo Kanduang dalam masyarakat Minang yang mempertahankan garis keturunan secara unilateral matrilineal.

Maka di Sumatera Selatan yang memiliki budaya dan adat istiadat yang hampir mirip dengan peranan Bundo Kanduang adalah Tua tua adat dari komunitas etnis yang masing masing hidup dan berkembang sesuai nilai budaya masing adalah adalah tidak lain mereka yang dituakan misal dalam masyarakat kumoring disebut KIAI PATI.

Mamak apit jurai kalau masyarakat Semende dan lainnya.

Dengan sebutan yang berbeda namun bermakna satu yaitu mempertahankan adat istiadat.

Contoh ringan pemberian jajuluk untuk kabayan (bhs kumoring) dan lain sebagainya.

Di Masyarakat adat yang berada di Sumatera Selatan itu menarik garis keturunan unilateral patrilineal.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved